Rasa Itu…

Hey…nice to see you here. Finally I can see your face directly.

Entah kenapa, menurutku malam itu bukan malam yang tepat untuk kita ketemu.

Waktunya ngga pas aja. Atau…mungkin karena aku malas untuk bertemu dengan semua hal itu lagi. Atau mungkin…mungkin aku terlalu takut untuk kembali merasakan itu semua.

Aku pengecut katamu? Terserah. Bisa jadi. Aku sudah terbiasa sendiri! Walau…kadang aku sadari mungkin aku tersesat. Tersesat di tengah arogansi keberanianku menjalani hidup tanpa siapapun. Tersesat dalam jalan yang selama ini aku pikir, aku jalani dengan lampu ratusan waat, tapi ternyata tak ada nyala satu lilin pun di sana.

Dan aku kembali melangkah. Gontai. Dengan sejuta pikiran pertemuan kita tadi.

Cukup! Iya, cukup! Kamu cukup membuatku merusak hidupku sendiri. Atau mungkin kamu cukup membuatku untuk tak sanggup hadapi semua rasa yang saat ini sudah ada, nyata di dalamku.

Terus terang, aku merindumu. Sejak pertemuan itu berakhir. Merindu kebencian yang terjadi, yang berubah menjadi semua rasa ini.

Gossshh…kenapa semua rasa seperti ini menghampiri aku lagi siiyy…? Setelah bertahun-tahun aku tak bertemu dengannya. Yang membuatku lupa bagaimana seharusnya aku menghadapinya. Tiba-tiba aku jadi tolol, dan merindu patah hati yang sepertinya lebih sanggup aku hadapi.

Aku beranikan diri untuk mengajakmu ke sana. Tempat duduk itu…adalah tempat kamu cerita segala, yang selama ini mengganggumu. Sayang dan kecewamu. Yang bukan untuk aku. Tapi membuatku mampu tersenyum, walau aku tahu kamu sedang tidak mencobanya. Rasanya seperti ada seribu peri centil yang tertawa kecil dan menari di hati. Saat itu.

Aku hanya bisa berharap, dahagamu bisa berkurang. Karena aku. Di sana. Saat itu.

Kamu tambah membuatku terpuruk. Tak bisa aku sangkal. Aku merasanya. Kamu. Berjuta rasa yang kali ini semakin tak terdefinisikan. Baik oleh otak maupun hati.

Aku tak di sana, Sayang. Tak ada di tempatku ada saat itu.

Andaikan aku punya sayap yang mampukanku untuk terbang. Ke tempatmu. Di mana pun itu.

Tapi kamu tak di sana. Menghilang.

Namun tak lama.

Dan kamu kembali menepi. Mencari yang selama ini mungkin sudah singgah di hatimu, yang mungkin kamu sangkal.

Kamu hadir di sana. Tapi di sini. Dengan hadir ribuan kata terucap. Kembali ungkap rasa. Rasa yang entah ditujukan kepada siapa. Yang saat itu terbungkus renyah tawa. Tawamu…dan tawaku.

Tapi adakah itu benar-benar nyata? Atau hanya segala yang semu?

Adakah beraniku untuk buktikannya?

Karena aku tak tahu bagaimana harus mengatakan ini semua. Menyatakan segala rasaku, yang belum tentu adalah rasamu juga. Rasa yang mungkin saja harus kupaksa hentikan dan kubuat mati, suatu hari nanti. Dan harus melihatnya kembali terlepas dan bahagia dengan rasa yang lain. Miliknya atau dirinya. Yang jelas bukan aku. Mungkin.

Sampai ku titipkan rasa ini pada semesta yang jadikanmu bintang malam sekaligus mentari pagiku.

Dan mungkin benar katamu, bahwa hidup tak pernah adil.

*Thanks for being my falling star and morning sunshine as well. 12th February 2011*

Tags: ,

Leave a Reply