Curhat Buat Sahabat…

Cinta…benda yang tak berwujud ini kenapa seringkali membuat orang sakit kepala?

“Udah kadang dateng ga pake acara diundang, pergi juga kadang seenak jidat. Kadang bikin orang jadi ketawa-ketawa sendiri, jadi ngerasa tolol, nangis, garuk-garuk aspal, mau bales dendam, dan lain-lain lah.”

Been there, done that also? Yes! Jadi tempat curhatan manusia-manusia yang sedang jatuh cinta, sedang selingkuh, merasa patah hati? Sssseeeuuuurrriiiinggg…

Dan saya suka! Walau sepertinya lebih sering dianggap orang yang salah untuk dicurhatin.

*buka-buka memori di otak…

Sampai sekarang masih jelas terlihat di bayangan, seorang teman yang sedang duduk di samping kiri saya, saat kami berdua sedang berada di Laboratorium Komputer, kurang lebih enam tahun yang lalu…

“Cha, bisa tolong translatin ini ga? Gue lagi ga bisa mikir.”

Air mata sudah menetes deras dari kedua matanya…

“Putus?”

“Iya, Gue diputusin?”

“Ada gunanya kalo diterusin?”

“Gak, tapi khan…”

Dan saya biarkan teman saya meracau sambil menangis. Entah menangis karena teman curhatnya saat itu merespon tanpa empati, atau memang karena menerima kenyataan pahit bahwa hubungan mereka berdua telah berakhir.

Atau ingatan chatting saya di BBM dengan seorang teman yang memberikan predikat saya sebagai temannya yang genderless…

“Occchhhaaaa…gue kok ga sembuh-sembuh yah.”

“Perempuan mana lagi sekarang?”

“Tauk ni gue bingung. Gue naksir berat ama orang ini,” sambil dia mendeskripsikan tipe si perempuan itu.

“Ya…ya…that kind of girl emang tipe elo banget ya Nyet! Tiati ketauan bini lu lagi kek waktu itu. Bagus yang terakhir elo long distance tuch, dan elo diputusin sebelum ketauan.”

“Btw…gue ga jadi nyulik elo hari ini ya, gue mau nyari sesuatu buat si perempuan itu.”

“Siiiaaappp.”

“Maaf ya.”

“Yeeeyyy…kayak baru kenal gue kemaren aja loh. Kalo ga jadi ya gak papa kale. Urusan cintrong emang susah dilawan ama apa pun ya bouw.”

“Ho oh. Tapi itu yang gue buat bingung, gue bisa memperlakukan elo kayak temen-temen cowok gue, bisa batalin ini-itu, bisa dicurhatin gue selingkuh, ga perlu takut ngomong, tapi wujud loe perempuan, cantik pulakh. Teman yang genderless. Untung gue ga pernah naksir elo ampe sayang gitu sih ‘Cha.”

“Siyaaall…elo gue biarin kayak gitu terus karena elo bukan sapa-sapa gue Nyet. Ya udin gue merapat ke kasur saja hari ini. Semoga yang dicari buat si perempuan ketemu ya.”

Masih cukup jelas terdengar obrolan saya dengan temen saya, setelah saya menekan tombol bergambar gagang telepon berwarna hijau di tubuh si Bébé beberapa minggu yang lalu…

“Ocha, pa kabar?”

“Baik dounks. Elo?”

“Masih di Kantor loe yang lama?”

“Udah pindah dounks gueh.”

“Dasar brengsek! Terus dah dapet pacar baru?”

“Belom.”

“Ah, gue kira elo dah dapet penggantinya si-mas. Elo waktu sama yang itu berapa lama?”

“Yang terakhir? Dua bulan aja sih kayaknya ya.”

“Sama yang sebelumnya?”

“Perlu gue sebut lagi ya? Lamaaa deeehh.”

“Waktu bubaran elo rasanya apa sih? And terus elo bangunnya gimana? Maksud gue sama yang lama bener itu.”

“Ya sakit lah, jatoh iya banget! Garuk-garuk aspal puas banget! Tapi, saatnya bangun and jalan lagi, walaupun terseok-seok tetep haruslah.”

“Dari bubar ampe dia nikah jaraknya berapa?”

“8 Bulan sih sepertinya.”

“Dan elo sama setelahnya?”

“Yang itu intermezzo, sama-sama gebleg dan pelarian sepertinya. Nyebelin siy iya. Tapi ya sudah lah. Never Regret it. Pendewasaan diri. Though looks like never learn. But don’t want to regret it at all. Bentar-bentar elo nanya-nanya gini…masihkan sama si Abang?”

…dan saat itu saya hanya mendengar isak tangis di ujung sana…

“Yah…sorry to hear that ya Dek. Ya udah, mendingan sekarang-sekarang khan ya bubarannya? Daripada kelamaan juga?”

Dan pembicaraan saya dengan seseorang beberapa hari yang lalu. Pembicaraan yang berlangsung kurang lebih selama 4 jam. Pembicaraan yang berlangsung di sebuah tempat nongkrong yang dia pilih dan saya setujui karena saya suka. Pembicaraan di sebuah sofa merah, ditemani segelas kopi, teh, bir dan beberapa piring santapan. Seputar kisah percintaan long distance, selingkuh, dan patah hati; masih lumayan jelas terekam di otak saya.

Terlintas kembali pembicaraan saya dengan mereka. Mereka yang telah memilih saya sebagai seseorang yang bisa diceritakan masalah cinta mereka. Terlintas pula kisah-kisah cinta saya yang tak kalah serunya dengan mereka. Yang juga saya percayakan sebagian kepada mereka, dan kepada kalian.

Love, Still…makhluk yang seringkali tak bisa dipahami. Atau setidaknya, sulit untuk dipahami.

Dan kalau untuk saya sih…saya jauh lebih pintar saat saya putus cinta, daripada saat saya sedang jatuh cinta. I feel so damn, very, f***ing stupid when I’m falling in love. Once more…Damn!!

—-

And still the best quote for me: It is true, that you don’t know what you’ve got until you lose it, but it is also true, you don’t know what you’ve been missing until it arrives.

—-

Dedicated to all of you guys, who are exist in my life.

—-

Still Welcoming February. Love this month! Especially This Year!!!

—-

Ps: I Love You!!!

—-

judul terinspirasi lagunya Dewi Lestari…

judul yang sudah pernah saya pakai juga untuk tulisan saya sebelumnya.

—-

Tags: ,

3 Responses to “Curhat Buat Sahabat…”

  1. warm says:

    jadi pendengar itu memang menarik,
    sangat :D

  2. rina32 says:

    lebih baik jadi pendengar sich :)
    s7 sma om warm :D

  3. asrizul says:

    pendengar budiman ,hehehe

Leave a Reply