Ini, Itu, Anu, Ono, Sana, Sini, Begini, Begitu?…

“Life is about an option…”

“Yeahhh…rite!”

Tadi malam, akhirnya saya mengurungkan niat saya ke salon untuk potong rambut. Semua gara-gara si Trans Jakarta yang tak kunjung datang, dan membuat perut saya dan teman kantor (yang pulang bersama saya) kelaparan, sehingga kami berdua memutuskan untuk makan malam di Setiabudi Building; Membuat teman saya akhirnya minta dijemput suami tercinta; Membuat saya memilih untuk nebeng mereka sampai rumah tante saya di Bintaro.

Berjalan berjingkat, memasuki rumah tante yang sudah gelap karena penghuninya sudah terlelap, menuju kamar asisten rumah tangga yang letaknya di rumah bagian belakang…

“Mbak, mbak, kamar atas kata satpam depan dikunci ya? Tolong bukain dounks.”

“Eh, Mbak Rosa, bentar ya.”

Memasuki kamar itu, ranjang yang lengkap dengan bantal dan guling, seakan-akan sudah memanggil saya untuk segera menjatuhkan diri di atasnya.

“Pulang…ngga…pulang…ngga…jam berapa ini? Setengah 11. Kok males ya manggil taksi. Tapi gue ga bawa baju ini. Mari kita bongkar lemari, seperti biasa. Damn, baju tidur kebangsaan gue punya si tante mana ya? Kok tumben ga ada di sini.”

Dan beberapa menit kemudian…

“Halo Pa, aku ngga pulang ya. Ngantuk, males manggil taxi, aku di Garuda.”

Duduk di karpet yang terhampar memenuhi kamar, saya membaca sebuah pesan yang ditinggalkan seorang teman di akun situs jejaring sosial Facebook, yang terhubung langsung ke si Bébé. Tak tahu kenapa, sepertinya saya termasuk orang yang dipilihnya untuk memberikan komentar terhadap kejadian-kejadian yang sedang ia alami…

“Give my lover a little space, lama-lama bisa jadi gede, dia susah punya waktu untuk gue, tapi gue juga ga mau ngerusak kesenangannya dia, tapi gue juga ga mau jadi korban perasaan…”

Begitulah inti cerita teman saya yang satu itu, dan kurang lebih jawaban saya adalah yang ada di bawah ini…

“Been there…and I don’t like that kind of situation either. Gue pernah di situasi pacar loe, dan gue juga pernah berada di situasi elo. Kalo gue, atleast I did my part, my portion, and the rest my universe, including God will decide. Capekh juga bouw kalo ngelawan itu semua. Kalo pada akhirnya that relationship makin jauh, dan sepertinya memang itu pilihannya, dan memang itu yang jadi pilihan bahagianya dia, pilihannya adalah tinggal elo, bisa berdamai dengan diri loe sendiri atau teteup keukeuh, yang sebenernya you can’t push someone else to understand your feeling.”

Make a decision bukan suatu hal yang mudah, apalagi untuk orang-orang yang banyak pertimbangan, gak mau rugi, dan/atau orang yang tidak mau ambil risiko.

Errr…termasuk saya? Mungkin!

Bagi saya, setiap detik dalam hidup itu adalah suatu pilihan, baik pilihan yang sangat mudah, maupun pilihan yang sangat sulit dan mempunyai dampak besar untuk hidup.

Simple thing terjadi setiap pagi hari saat si Bébé berusaha membangunkan saya pukul 5.20. Terus terang saya terbangun dan berusaha meraihnya saat mendengarnya “berteriak-teriak”. Sesampainya mata ini melihat ke layarnya, di mana tertera dismiss atau snooze, saya pun dihadapkan pada pilihan. Dismiss berarti saya harus bangun, kalau tidak, saya bisa bablas ketiduran, atau snooze yang berarti saya hanya menunda beberapa menit, dan akan sama saja, saya tetap harus bangun. Atau, pake baju yang mana ya? Atau sepatu yang mana ya? Berangkat bawa mobil, atau nebeng ya?

Sepele ya?

Bagaimana kalau pilihan tersebut, melibatkan orang lain, atau saat berinteraksi dengan orang lain?

Membawa saya teringat usulan seseorang untuk saya. Usulan agar saya bisa sedikit memperbanyak “basa-basi” saya di depan beberapa orang, karena mungkin cara tersebut yang akan mempermudah saya untuk bisa di-iya-kan oleh mereka. Terus terang, hal ini sedikit “bukan saya” yang berpandangan bahwa saya tidak pernah bisa memaksa orang untuk suka saya, atau bahkan melarang mereka untuk suka saya. Saya akan membiarkan mereka, walaupun tentu ada respon-respon tertentu yang setidaknya terbersit di otak saya…

“Cha, bantuin nyanyi ya.”

“Duuhhh, gue dah lama ga nyanyi, manggung pulakh. Ngga janji ya. Udah ada yang lain kan?”

Sambil berpikir…”Ya sudah-lah itung-itung bisa dapet temen baru khan,” yang akhirnya membawa saya menjawab ‘Ya’ pada tawaran itu.

Atau pilihan saya untuk memasang earphone, mendengarkan lagu (dan menahan diri tanpa ikut bernyanyi) saat tetangga membuat “kerusuhan” sendiri.

Atau pilihan untuk tetap bermanis-manis ria saat berhadapan dengan orang yang sangat menjengkelkan dan membuat saya emosi jiwa.

Atau pilihan untuk pasrah dan menjawab “I can’t find that email, you can put the blame on me, mungkin ke-delete saat clean up email kemaren, tiap hari saya dapet warning email penuh. Delete item saya juga dah kosong,” saat saya tidak berhasil menemukan sebuah surat elektronik di dalam sent item folder, saat seseorang di ujung sana berkata “Did you send it?” dengan nada yang penuh keraguan.

Atau pilihan untuk tetap bersama seseorang atau membiarkan pasangan untuk perlahan terlepas dan pada akhirnya memang harus berpisah.

Pilihan untuk tidak memakai topeng sama sekali, atau memakai topeng hanya satu lapis atau seribu satu lapis. Pilihan untuk tetap menjadi diri sendiri atau menjadi foto-kopi orang lain saat berinteraksi dengan orang lain?

Bagaimana jika di satu masa hidup kamu, kamu dihadapkan ke beberapa pilihan atau tawaran, yang muncul bersamaan, pasti ada plus-minusnya, dan kamu tahu semuanya itu akan mempunyai dampak terhadap masa depan kamu?

Dilematik? Pasti!!!

“Lanjutin kerja, teteup dapet duit, tapi naiknya setengah mati, atau keluar kagak dapet duit bulanan, yang ada ngeluarin duit buat sekolah lagi.”

“Ngambil major A, atau B ya? Di Indo atau ke luar negeri ya? Rumah gimana dounks ditinggal? Kalo di Indo, nyambi kerja atau kagak ya? Kalo sambi kerja pasti ga bisa ambil yang major itu?”

“Kalo ke sana tapi kok ya di sana kira-kira kayak gitu, kalo ga ke sana, kapan dapet yang kayak gitu. Kalo tetep, pasti bakal sama ajah, tapi mungkin hal yang sangat gue pengenin bisa gue dapet, saat si anu udah begitu, tapi itu juga masih belom pasti kapannya.”

Pernah menghadapi situasi serupa? Apalagi kalau setelah dihitung-hitung, risiko, plus dan minusnya kurang lebih sama.

Bingung?

Satu kalimat yang selalu terlontar dari mulut seseorang, setiap saya minta pendapat tentang sesuatu hal ke dirinya…

“That’s your call!”

—-

“Yeaaahhh…rite!!”

Tags: , ,

Leave a Reply