Anak Kecil Itu…

Kino (Si Gendut Hitam) and O'Neil (Si Kecil Putih-Coklat)

Kino (Si Gendut Hitam) and O'Neil (Si Kecil Putih-Coklat)

Anak kecil ini, kemarin sempat hilang beberapa jam. Semua memang gara-gara saya. Saya yang lupa menutup pagar depan rumah sehabis memasukkan mobil ke dalam car port. Biasalah, beberapa bulan belakangan ini, saya sedikit dimanja papa, setiap saya pulang, beliau yang selalu membukakan pagar dan menutup kembali, tapi tidak dengan kemarin. Saya langsung masuk ke dalam rumah, mandi, berganti baju dan tidur, padahal tadinya saya hendak pergi lagi, tapi malas. Alhasil saya tidak memeriksa lagi pintu pagar apakah sudah tertutup atau masih terbuka lebar.

Setelah saya bangun, saya hanya melihat si hitam gendut itu tidur sendirian di ruang tengah. Sendirian tanpa anak kecil yang berwarna putih-coklat ini, karena biasanya dua anak kecil ini memang ada di dalam rumah. Langsung saya tanya papa, yang kebetulan sedang membaca sesuatu di ruang itu, “Si putih mana?” “Gak tau,” saya pun langsung memeriksa sofa singgasana si putih biasa tidur, dan lemari yang pintunya rusak sehingga ia bisa masuk ke sana, dan hasilnya tak ada. Saya pun langsung berlari keluar, memang biasanya mereka sering kali berada di teras depan. Seketika saya kaget setengah mati, karena saya menemukan pintu pagar yang terbuka sangat lebar, dan saya hanya menemukan si coklat di teras. Saya pun berteriak histeris memanggil nama si putih, O’Neil, saya lihat ke kiri dan ke kanan, saya tak menemukan anak itu. Langsung saya berlari ke arah kiri, dan saya membiarkan naluri saya yang mengarahkan langkah kaki ini, yang setengah berlari. Baru beberapa langkah kaki ini berjalan, saya melihat abang dan papa juga sudah keluar dari rumah, untuk ikut mencari anak kecil ini. Mereka berdua pun mengambil arah yang berbeda.

Saya memutuskan untuk berkeliling kampung yang letaknya di belakang komplek rumah saya, sembari bertanya kepada orang-orang yang sedang berkerumun di sepanjang jalan yang saya lewati, termasuk ke tukang-tukang ojek yang biasa saya tumpangi dan juga tetangga-tetangga di gang sebelah, “Tadi ada yang liat non, jalan ke gang 3.” Saya pun menyusuri jalanan yang disebutkan hingga ke ujung, dan tibalah di persimpangan. Saya memutuskan untuk mengambil ke kiri, ke arah masjid di jalan utama kompleks, hasilnya pun nihil. Saya kembali ke arah terusan gang rumah saya yang menuju ke kampung yang letaknya di dekat sebuah sekolah katolik. Sesampainya di sana saya bertanya pada satpam sekolah itu, “Pak, liat anjing kecil pendek, warnanya putih-coklat?” “Oh, tadi ke arah sana.” “Ke kampung atau balik ke kompleks?” “Ke kompleks non.”

Tak jauh dari sana, saya lihat ada beberapa tetangga saya, yang setahu saya dia juga mempunyai beberapa ekor anjing, “Lihat anjing gue ga yang pendek putih-coklat?” “Oh, tadi udah dibawa Oom kayaknya, dah ketemu kok.”

Saya pun langsung berlari menuju ke rumah dengan perasaan lega. Dan sesampainya di rumah, saya langsung menggendong si kecil yang sedang menunjukkan wajah penuh rasa bersalah. Tapi ada satu kejanggalan, saya melihatnya terus seperti sedang mengunyah sesuatu, dan tanpa basa-basi, saya memeriksa mulutnya, ternyata ada satu giginya yang mau lepas, “Yak another problem, harus dibawa ke dokter ini, tapi kapan ya?”

Saya langsung berlari ke kamar, mengambil “buku primbon” yang saya beli tentang first aid untuk anjing. Ternyata di sana tertulis masih tak apa jika dibawa ke dokter hewan dalam kurun waktu 1X24 jam. Tak lama kemudian saya menelepon dokter, dan membuat perjanjian untuk Senin pagi.

Malam harinya, O’Neil mendapat kemewahan karena saya perbolehkan tidur dengan saya di kamar, setelah sekian lama tak lagi saya izinkan tidur dengan saya. Sepanjang malam, ia sering sekali membangunkan saya, karena merasa tak enak dengan giginya, “Ga enak ya Nak, nanti ke dokter ya. Lain kali jangan nakal keluar-keluar rumah ya, tuch ujan, kalo tadi O’Neil ga ketemu, mau bobokh dimana? Giginya lagi sakit khan?” dan omongan saya itu dijawab dengan “Hoommommoomm,” seperti orang yang sedang bergumam panjang. Dan saat ia membangunkan saya untuk kesekiankalinya, ternyata giginya terlepas, dan semenjak itu, ia pun bisa tidur dengan lebih pulas.

Beberapa kali saya terbangun, hanya untuk memandangi anak kecil itu tidur melintang horizontal di ranjang saya yang hanya berukuran 100cmX200cm itu, “Nak…maminya gimana tidurnya, kalo kamu melintang, terus ngangkang gini pulakh,” dan anak itu ga bergerak sedikit pun. Akhirnya saya berpindah posisi, yang tadinya saya menempel ke dinding, akhirnya saya mengambil sisi sebaliknya, sebagai pagar O’Neil agar ia tak terjatuh, dan guling saya letakkan di sisi lainnya supaya O’Neil tetap hangat.

Pagi harinya, mama membangunkan saya, karena beliau tahu tadinya saya berencana membawa O’Neil ke dokter. Dan begitu mama membuka pintu kamar saya “Waaaduuuhh, enaknya tidur di sini, dah kayak orang, pantesan dicariin di bawah ga ada,” saya yang mendengar omongan mama tapi belum membuka mata langsung merespon “Ga jadi ke vet mam, giginya O’Neil dah copot, aku yang anter mama ke Pondok Indah aja.”

Saya tak langsung beranjak dari tempat tidur, sampai akhirnya mama berteriak dari bawah “Sa, mandi, mau berangkat jam berapa?” “Ntar-ntar aja, masih pagi juga, jalanan khan kosong.”

Tak berapa lama, saya memutuskan ingin melihat jam berapa saat itu, dan begitu saya membuka mata, tepat di depan mata saya, ada benda kecil bulat-bulat berjejer, berjumlah empat dan di tengahnya ada yang sedikit lebar dibandingkan empat lainnya. Sesaat saya belum dapat mencerna benda apakah itu. Tapi setelah saya benar-benar sadar, dan penglihatan saya benar-benar sudah penuh, saya baru ngeh bahwa di hadapan saya itu adalah O’Neil’s paw.

“Oooohhhaaalllaaahhh Nak, maminya di kasih kaki ya pagi-pagi, sama pantat ngangkang gini? But I’m glad that I can still see and have you this morning. Love you baby.”

Saya pun memberi kecupan pada anak kecil itu sembari berbicara padanya “Bangun yuk,” “Hooommmooommmm.”

“Dasar males. Mami gendong turun ya.”

Tags: ,

2 Responses to “Anak Kecil Itu…”

  1. Miftahgeek says:

    Ho hoi, kacau, untung belom dipelihara orang laen dulu :D

  2. devieriana says:

    untung “anakmu” itu nggak diculik ya jeng :)
    Kalau lucu gitu kan bisa aja diculik trus dijual :(

    Ah kamu memang bener-bener penyayang binatang :)

Leave a Reply