Semua Karena Cinta…

Beruntung sekali, saya sudah tidak bekerja di perusahaan yang tetap mengharuskan pegawainya bekerja saat orang lain sedang menikmati liburan. Termasuk liburan Lebaran kali ini, yang akhirnya bisa saya nikmati bersama keluarga.

Saya bukan seorang muslim, tapi bukan berarti saya tidak merayakan Hari Raya Idul Fitri. Ada satu ritual rutin tahunan yang dilakukan oleh saya dan kedua orang tua, saat lebaran datang. Ritual apakah itu? Ritual berkunjung ke rumah Oma. Saya tidak perlu repot-repot mudik untuk bertemu si Oma, karena rumah beliau ada di Jakarta.

Begitu pula untuk tahun ini, ritual tersebut masih dilakukan. Dan tetap saja menyenangkan…

Menyenangkan karena masih bisa bertemu Oma, semua Tante dan Oom yang kebetulan pas banget bertandang ke sana. Walaupun, karena hanya setahun sekali dan tidak setiap tahun bertemu dengan semuanya, saya harus dengan susah payah mengingat kembali nama, kemudian mencocokkan dengan wajah semua yang hadir di sana.

Menyenangkan karena saya masih bisa makan masakannya si Oma yang masih tetap enak, juga puding dan kue-kue lainnya yang tersaji di meja, walaupun saya tak tahu siapa yang membuatnya.

Menyenangkan karena ternyata masih ada tradisi seperti ini, yang masih bisa saya lakukan…

Teringat puluhan tahun yang lalu. Tepatnya ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tradisi seperti ini, tak hanya terjadi di kalangan keluarga, tetapi di lingkungan komplek perumahan tempat saya tinggal. Saat lebaran dulu, saya dan orang tua mempunyai tradisi bersilaturahmi, mengucapkan selamat atas hari kemenangan ke satu per satu rumah tetangga yang tinggal berdekatan dengan saya. Lumayan, bisa nyemil kue-kue kering yang pasti tersedia dan tersuguh bagi para tamu. Begitu pun juga sebaliknya, saat Natal tiba, giliran rumah kami yang kedatangan tamu.

Tapi tradisi tersebut tak kami lakukan lagi, tak mereka lakukan lagi, tak dilakukan lagi, baik saat Lebaran maupun saat Natal dan saya tak ingat kapan tepatnya tradisi itu hilang. Atau mungkin tradisi seperti itu sudah tergantikan dengan acara halal-bihalal yang diselenggarakan RT kami sejak beberapa tahun yang lalu? Jadi tak perlu lagi bertandang ke rumah, cukup semua berkumpul di satu tempat untuk bersilaturahmi?

Saya sih berharap, memang itulah alasannya, bukan alasan yang ‘tak benar’ lainnya.

Ingat pelajaran/mata kuliah Pendidikan Moral Pancasila/PPKn *eh apa ya kepanjangannya?* dan sejenisnya seperti Pancasila, Kewarganegaraan? Ingat bagaimana si guru atau dosen *setidaknya guru dan dosen saya dulu* terus menerus membicarakan dan menanamkan tentang Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan Pluralisme? Dulu saya sampai bosan mendengarnya. Tapi ternyata rasa bosan itu, baru terlihat manfaatnya sekarang. Setidaknya terlihat dari bagaimana saya memandang/melihat mereka yang berbeda dengan saya. Berbeda apapun.

Apalagi ditambah dengan didikan selama saya mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi, yang juga mengagungkan segala hal tentang perbedaan tersebut, yang menjadikan setiap manusia sebagai makhluk “ajaib” alias makhluk unik, dan tak ada duanya.

madmaxer091100102

Perbedaan dalam diri manusia salah satunya adalah perbedaan keyakinan, perbedaan iman yang dijunjung tinggi oleh tiap orang. Dan pada akhirnya agama-lah yang dijadikan sebagai instrumen untuk pengkotak-kotakkan akan perbedaan keyakinan dan iman tiap orang.

Kotak yang saya pilih adalah Katholik. Kotak yang kamu pilih adalah Islam, sedangkan kotak yang masih dipilihnya adalah Hindu, atau Budha, atau Kristen. Atau kotaknya adalah Keyakinan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa *eh masih ada ga ya yang beginian?*. Kenapa saya menggunakan kata ‘pilih’? Karena memang masih menjadi pilihan kita; kita yang saat ini sudah beranjak dewasa, karena orang dewasa berhak dan sudah bisa menentukan pilihannya apakah ia masih mau melakukan ini, melakukan itu, atau sudah tidak mau, atau ingin pindah.

Tapi apakah kotak-kotak tersebut harus menghalangi kita untuk dapat melihat indahnya perbedaan dalam hidup?

Gak lah ya…setidaknya tidak untuk saya.

Mungkin saya sempat sedikit ketus, saat seseorang mengatakan ini “Kok, Ibu bilang Alhamdullillah sih?”, ketika saya akhirnya menemukan sebuah barang yang saya cari, yang kemudian saya membalas apa yang dikatakan orang tersebut dengan kalimat yang kurang lebih seperti ini “Kira-kira sama ga ya artinya terima kasih dengan thank you, atau merci, atau arigatoo gozaimasu? Apa yang cuma boleh bilang thank you adalah orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris, atau yang kata merci adalah paten boleh diucapkan oleh mereka yang sehari-hari make bahasa Perancis? Kalo gitu ga usah aja kita belajar bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Alhamdullillah itu artinya Puji Tuhan ‘khan?”

Atau “teguran” serupa saat saya merespon salam “As Salamu Alaykum” seseorang yang saat itu memasuki ruangan kerja dengan “Wa Alaykum Salam,” yang sebenarnya mempunyai arti yang sama dengan peace be with you, atau damai bersamamu juga? Bouuuwwww…don’t you see it’s only a matter of language?  Dan bagi saya, agama adalah juga sebagai “bahasa” kita untuk memuja Tuhan, yang notabene hanya ada satu *itu pendapat dan yakinnya saya*.

Saya yakin kita semua pasti lebih comfort dengan “bahasa” kita sendiri, tapi bukan berarti kita akan memandang rendah “bahasa” orang lain ‘khan? Atau mungkin ada bagusnya kalau kita mencari tahu tentang “bahasa” orang lain, supaya kita bisa liat bahwa “bahasa” mereka itu juga indah, dan menjadikan kita untuk lebih kuat dengan “bahasa” sendiri, dan gimana “bahasa” saya dan “bahasa” mereka, dia, atau kamu bisa saling membuat tambah indah?

Saya yakin kok ga ada seorang pun yang ingin direndahkan. Semua ingin tetap dihargai. Tak ada yang senang saat mendengar isu bahwa ada salah satu sekte di Amerika akan membakar Al-Quran, yang membuat semuanya berlomba-lomba untuk menghentikan niatan itu. Atau semua pasti marah saat Islam dikaitkan dengan teroris. Atau apakah tega melihat darah bertumpahan saat gereja-gereja dibom? Yang semuanya mengatasnamakan sebuah kebaikan dan sudah sesuai dengan ajaran iman yang dipeluknya?

Terus terang, saya tahu bahwa tidak sedikit “anak-anak” psikologi yang (pernah) menjalani pacaran beda agama, dan ini dulu sempat menjadi salah satu topik penelitian saya dan kelompok saat membuat tugas kuliah Konstruksi Tes Psikologi…

“Mereka tuh udah tau kalo pacaran beda agama itu ribet, apalagi umur-umur segitu seharusnya udah mikir ke pernikahan, di Indo pulakh, nikah beda agama super ribet, kalo putus ribet juga sakit atinya, atau jangan-jangan tingkat religiusitasnya mereka rendah ya?”

Ya kira-kira hal itu yang menjadi dasar kenapa saya dan kelompok memutuskan mengambil tema itu.

Dan seiring berjalannya hidup, semakin banyak saya melihat pasangan yang berbeda agama menjalankan sebuah hubungan yang disebut pacaran, atau bahkan berlangsung ke jenjang pernikahan.

Kalau sekarang dipikir-pikir ya mungkin semua karena cinta…

Dan kenapa tidak karena cinta, kita saling menghargai indahnya perbedaan? Perbedaan antara saya, kamu, dia, dan mereka? Karena pada dasarnya manusia diciptakan berbeda-beda.

—-

“Eh…tapi cinta itu buta ‘kan ya?” :mrgreen:

* Maaf kalau ada salah eja/penulisan dari kalimat berbahasa Arab. FYI, semuanya itu saya ambil dari Wikipedia*
* Gambar diambil dari 123RF*

Tags: ,

3 Responses to “Semua Karena Cinta…”

  1. puputs says:

    :) iya cinta itu buta…

  2. Asop says:

    Benar, cinta itu buta. Buktinya, cinta ga memandang usia, ras, agama, sampe kewarganegaraan (meskipun untuk yang terakhir ini saya masih belum melihat apa enaknya). ^__^

  3. astrid says:

    agree banget tuh chaaa..

    sedikit cerita yak, g kan kasi training di mesjid tuh.Nah melihat seorang gadis cina berkalungkan salib kecil uda membuat sejumlah mata memandang g aneh-padahal g pake baju ketutup dan celana yang ga ngejeplak loh..
    tatapan mereka menjadi lebih aneh lagi, ketika g ikutan menjawab walaikum salam..

    *hmm

Leave a Reply