I’m Not A Shoes Fetish…

Sudah lama sepertinya, saya ndak menulis sesuatu yang berbau-bau tentang fesyen. Mungkin karena kemarin-kemarin saya jarang belanja, atau mungkin karena isi lemarin tidak perlu ada yang dikurangi, lalu diganti yang baru.

Beberapa hari lalu saya kembali menambah koleksi sepatu. Kali ini sepatu kerja, karena sepatu kerja andalan saya sudah sedikit perlu di “hemat” untuk dipakai.

Terus terang saya bukan shoes fetish. Dan sepatu adalah prioritas kedua (setelah pakaian), saat saya memutuskan untuk melakukan retail therapy. Bagi saya, cukup kalau setiap tipe (yang saya bagi menurut fungsinya), yang saya punyai ada warna hitam dan warna putih. Dua warna netral itu tidak akan membuat saya lebih repot  kehabisan waktu untuk mencocokkan antara sepatu dengan pakaian yang akan saya kenakan.

Dengan menambah satu pasang lagi, sekarang inilah koleksi sepatu yang saya punyai *ga sebanyak koleksi sepatu kalian kok* :mrgreen:

DSC00763Kali ini saya ingin membahas, bercerita, atau mungkin juga reviu satu per satu tentang sepatu-sepatu yang saya punya ini. Jadi tak apa lah ya…kali ini saya juga menyebutkan mereknya.

Dan kita mulai dari deretan belakang, dari kiri ke kanan…

Nike. Saya kangen memakai sepatu ini, karena sepatu ini adalah sepatu tenis yang tentunya hanya saya pakai saat saya berlatih tenis. Karena saya kangen memakai sepatu ini, pastinya saya sudah lama tidak bermain tenis. Kalau saya tidak salah ingat harga asli sepatu ini lebih dari Rp.500.000, tetapi sepatu ini saya dapatkan hanya sekitar Rp.200.000an.

Converse. Sepatu paling menyenangkan untuk dipakai. Nyaman, gaya, dan menyarukan usia asli :mrgreen:. Saya ingat betul, sepatu ini saya beli karena terpaksa. Saat itu saya masih kuliah dan hari itu adalah hari ujian salah satu MKDU. Ujian ini mengharuskan setiap pesertanya memakai sepatu. Sialnya saya lupa memakai sepatu, karena fakultas saya sedikit tak peduli apakah mahasiswanya memakai sepatu atau sandal saat kuliah ataupun ujian. Beda fakultas, beda pula universitas *loh?*. Pihak universitas bisa saja tidak mengizinkan mahasiswa mengikuti ujian, karena tidak memakai sepatu. Untung saja ujiannya setelah makan siang. Dan waktu itu paginya saya memang ada ujian lain, jadi saya tidak mepet sampai kampus. Terpaksalah saya berlari ke mall sebelah kampus untuk mencari sepatu *kebetulan ada alasan buat beli sepatu*. Hasilnya yaa…si Converse yang satu ini. Warna merah muda, belakangnya sedikit tinggi dan bisa ditekuk. Jika ditekuk, bagian yang tertekuk (yang notabene adalah bagian dalam sepatu) memiliki corak kotak-kotak kombinasi warna merah muda, kuning dan putih. Harga saat saya beli antara Rp.300.000 – Rp. 400.000.

Marie Claire. Sepatu yang mempunyai tinggi hak sekitar 6 cm ini saya beli tahun lalu, saat saya harus kembali bekerja setelah lulus kuliah, dan baru sadar, koleksi sepatu kantor sudah sangat minim. Terus terang sepatu ini sangat jarang saya pakai. Satu alasannya, karena tidak nyaman di kaki. Mungkin karena ternyata merek ini tak cocok dengan bentuk dan segala sesuatu di kaki saya, atau karena faktor lain. Harga sepatu ini berkisar antara Rp. 200.000 – Rp. 250.000.

Everbest. Kalau tidak salah dulu Everbest mempunyai tag line The Best Ever. Terus terang sepatu ini dibelikan oleh seseorang *eh* di tahun 2004, saat tiga pasang Everbest yang saya miliki sebelumnya sudah waktunya dipensiunkan. Merek ini adalah merek andalan saya untuk sepatu kantor, karena sangat nyaman di kaki. Everbest yang ini hanya mempunyai hak setinggi 4 cm. ┬áTermasuk sepatu dengan hak rendah yang saya miliki. Sebelum Everbest yang ini, Everbest yang saya pakai harian mempunyai hak antara 5-8 cm, karena ya itu tadi, walaupun tinggi, untuk berlari ke sana ke mari, sepatu merek ini tetap nyaman di kaki. Tak membuat kaki saya lecet sedikit pun. Enam tahun lalu, harga sepatu ini berkisar Rp.450.000 – Rp. 500.000 *gue tau harganya karena gue yang milih, dan belinya sama gue* :mrgreen:

G by Guess. The newest one. Gara-gara terlalu lama menunggu antrian dokter gigi, Senin lalu saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke mall yang letaknya di samping rumah sakit tempat saya berobat gigi. Saya memang sudah berencana untuk menambah koleksi sepatu kantor, yang bukan flat shoes. Putar-putar keliling pusat perbelanjaan yang saat itu sedang menggelar diskon dimana-mana adalah hal yang menyenangkan untuk saya. Saya bisa mendapatkan barang mahal dengan harga diskon. Seperti sepatu ini, yang saya beli dengan harga Rp.300.000 – Rp. 400.000 setelah diskon, dan seperti biasa, yang paling penting adalah bisa dipakai untuk sedikit berlari-lari selama di kantor, karena mempunyai tingkat kenyamanan yang luar biasa.

Pretty Fit. Yang ini bukan sepatu untuk ke kantor. Melainkan sepatu untuk pesta. Saya beli saat saya ke Singapura tahun lalu. Mempunyai hak 8 cm dengan ujung yang kecil, yang terlihat akan membuat kaki pegal jika memakainya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Sepatu ini sangat nyaman di kaki, bahkan saya sempat memakai beberapa kali ke kantor, saat saya bosan dengan sepatu kantor saya. Seingat saya, sepatu ini saya beli dengan harga sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000 (jika dikonversi ke Rupiah), dengan harga asli Rp. 800.000an (juga jika dikonversi ke Rupiah).

Noche. Sepatu ini saya beli karena sepatu pesta saya sebelumnya yang berwarna putih sudah saatnya di “lembiru” (lempar beli yang baru). Sepatu ini adalah saksi saat saya wisuda menjadi Sarjana Psikologi. Saksi kebosanan saya menunggu untuk dipanggil ke atas podium dengan nama Rosarini S.Psi *long and windy road, Man!!!* Tinggi hak 7 cm, dan tetap nyaman di kaki saya. Harganya pun termasuk membuat dompet saya pun tetap nyaman, yaitu sekitar Rp. 300.000 – Rp. 350.000.

Hush Puppies. Nyaman sungguh sepatu ini. Kualitasnya sesuai dengan harganya yaitu Rp.800.000. Saya membeli sepatu ini akhir tahun lalu, dan saya ingat betul sepatu ini masih termasuk new arrival, dan tak ada diskon. Tapi ternyata “mas-mas” penjaga counter menghampiri saya dan mengatakan ini “Mbak, kalo mbak mau yang itu, saya telfonin temen saya yang di kantor pusat biar bisa diskon, terus terang saya lagi ngejar target dapet insentif akhir bulan,” akhirnya saya membawa pulang sepatu itu dengan harga Rp. 500.000 :mrgreen: Dan sepatu ini sekarang menjadi sepatu andalan saya saat ngantor.

Noche. Patent Leather-Pump Shoes yang menjadi saksi sejarah saat saya ujian/sidang skripsi tahun lalu. Selama dua jam dia menemani saya di ruangan itu, untuk menjawab semua pertanyaan para penguji. Sepatu ini jarang saya pakai, karena memang saya kelompokkan sebagai sepatu pesta, menjadi teman sack dress sebagai pilihan ringkes saat saya “terpaksa” berdandan pergi ke pesta. Heels sepatu ini hanya 7 cm, dengan ujung yang kecil, tapi walaupun harganya tidak terlalu mahal, kualitasnya pun ternyata bagus, setidaknya tidak membuat kaki saya pegal ataupun lecet. Harga sepatu ini saat saya beli, sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000.

Zara. Patent Leather-Suede-Ankle Strap Shoes ini juga saya golongkan sebagai sepatu pesta. Heels yang dimilikinya hanya 5 cm dengan bahan suede dan ujung yang kecil. Menurut saya, sedikit repot memakai sepatu ini, karena ankle strap sepatu ini benar-benar ankle strap yang harus dibuka terlebih dahulu baru ditaliin seperti memasang ikat pinggang, bukan ankle strap yang tinggal cantol. Harga asli sepatu ini sekitar Rp.700.000an, karena ini termasuk koleksi Zara Women, bukan TRF. Tapi…lagi-lagi saya bisa membawa pulang sepatu ini dengan harga lebih murah, yaitu sekitar Rp. 350.000 – Rp. 400.000.

Guess by Marciano. Bermodel sneakers tapi dengan hak wedges setinggi 10 cm. Yang jelas memakai sepatu ini sangat repot, apalagi sepatu ini tanpa lidah, yang memaksa saya harus melonggarkan talinya dari bawah hingga atas, agar kaki saya bisa masuk. Walaupun demikian, hal ini menjadi satu kelebihannya juga, karena kaus kaki yang saya kenakan bisa terlihat motif/corak /warnanya. Eh…sepatu ini juga dibelikan oleh seseorang, saat saya dan dia berjalan-jalan di salah satu mall di Jakarta Selatan, kurang lebih 6 tahun lalu. Harganya saat itu kalau tak salah sekitar Rp. 500.000 – Rp. 550.000 dan itu sudah harga diskon.

Dan sekarang reviu untuk sepatu di deretan depan. Dari paling kiri ya…

Vincci. Dibelikan oleh seseorang saat ia ke Kuala Lumpur. Sangat jarang saya pakai, karena sepertinya koleksi pakaian yang saya miliki jarang pula yang bisa cocok jika saya memakai sepatu ini. Sepatu berbahan beludru ini mempunyai hak sekitar 3 cm, dan cukup nyaman di kaki. Harganya? Saya tidak tahu, lha wong oleh-oleh kok.

Vincci. Flat shoes nyaman dan bisa dikatakan dengan harga yang cukup murah. Kalau tidak salah sepatu ini kisaran harganya Rp.200.000 – Rp. 250.000. Sempat menjadi sepatu andalan saat saya masih bekerja di sebuah retail company, karena saya lebih sering berangkat dan pulang kantor dengan kendaraan umum. Karena terlalu sering dipakai, sepatu ini mulai rusak dibagian solnya, dan memaksa saya untuk mengurangi frekuensi pemakaian sepatu ini.

M)phosis. Patent-leather-ankle-strap-shoes ini saya beli di Singapura dengan harga sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000 (dengan konversi ke Rupiah). Sangat nyaman di kaki, termasuk untuk menerjang hujan, berlari-lari dan berkendaraan umum. Sampai-sampai sekarang terpaksa saya kurangi frekuensi memakai sepatu ini, karena sudah mulai rusak. Flat shoes dan sandal M)phosis, adalah inceran saya saat akan menambah koleksi sepatu jenis yang satu itu. Nyaman sungguh boss!!

Everbest. Yang satu ini termasuk salah satu sepatu andalan saya untuk ngantor. Sepatu ini, sepatu hibahan dari tante saya, karena ternyata sedikit kebesaran untuknya. Saat diberikan ke saya, kondisinya masih sangat baru, dan kebetulan pas di kaki saya dan mereknya pun saya suka. Saat berjalan-jalan ke mall, saya melihat sepatu model ini dijual dengan kisaran harga Rp.700.000 – Rp. 800.000 *mayan menghemat duit* :mrgreen:.

Sebenarnya saya masih punya dua pasang sepatu lagi yang lupa saya foto. Dua-duanya flat shoes, menyenangkan dan nyaman. Satu bermerek Top Shop, dan satu lagi Tracce. Yang Top Shop berbahan dasar satin warna biru dilapisi dengan lace warna hitam, dan waktu itu saya beli dengan harga Rp.400.000 pada akhir tahun 2006, sedangkan yang Tracce dengan model mary jane, berbahan kain yang saya tidak tahu jenisnya, berwarna krem, di bagian ujung dan strapnya berbahan patent-leather berwarna coklat tua. Dua pasang sepatu ini ingin saya perbaiki, karena sedikit rusak di bagian solnya, tahu khan jalanan kota Jakarta yang tak pernah bersahabat dengan sepatu? Sangking nyamannya dua pasang sepatu ini, saya jadi malas untuk me-“lembiru” keduanya.

So…koleksi sepatu saya tak sebanyak koleksi kalian khan ya? Mudah-mudahan cerita, reviu tentang sepatu-sepatu ini dapat menjadi bahan pertimbangan kalian saat ingin berbelanja sepatu.

Hmmm…untuk cara merawat sepatu setelah kita beli, coba dibaca ulang tulisan saya yang satu ini…Sepatu Bersih Sepatu Cantik

—-

“Btw, kenapa sepatu gue banyakan item yah? Sesuai dengan baju yang mayoritas warna gelap? Atau sesuai yang lainnya? Terus-terus ketimbang cuma punya 20an pasang sepatu aja dah rempong nyimpennya, apalagi para shoes fetish itu yah? Ga kebayang…”

2 Responses to “I’m Not A Shoes Fetish…”

  1. Edo says:

    Nice article.
    I love girl in nice shoes.

  2. Irene says:

    dasar lo cha :P
    gw lg puyeng nyari ukuran gw malah, 40-41, bukan ukuran yg umum kan..
    berkebalikan dari lo, gw shoes fetish, tp krn resources (baca: toko sepatu) yang jarang jualan ukuran gw, gw jd menahan diri :(

    KL dan vincci.. jd inget marina, possible kah klo dia? eniwei nice posting cha ^^

    ~a friend from the past
    psikopat

Leave a Reply