Gue Bukan Elo Ya…

Ruangan sebesar 3 x 3 ini merupakan sebuah awal dan akhir perjalanan hari-hari seseorang. Ruangan yang tak pernah bisa bertahan lama untuk tetap rapi-jali. Ruangan yang sering kali terhampar pakaian kotor, kertas dan benda apapun yang bisa digeletakkan di lantainya, sama seperti sekarang ini.

Saat-saat itulah siempunya ruangan tersebut, merasa lebih mudah untuk mencari benda apapun yang ia butuhkan yang ada di ruangan tersebut. Saat-saat di mana indera penglihatan dan feeling dari si pemilik ruangan itu sedang dilatih untuk bisa lebih diandalkan.

Ruangan yang membuat mereka yang memasukinya merasa heran, merasa takjub, merasa bingung. Dan mungkin kesal, karena mendapatkan respon nyleneh atas komplain yang diajukan kepada si pemilik ruangan…

“Lah, gue happy-happy aja tuch di sini,” atau…

“Kamar-kamar siapa, kok elo yang protes.”

Satu hal yang pasti, bahwa ruangan itu adalah sebagian cermin jiwa dari si pemilik…

Manusia yang sering membuat orang lain gemas, atas santai dirinya yang untuk sebagian orang adalah sangat keterlaluan.

Manusia yang paling malas untuk diminta basa-basi, karena menurutnya ia tak pernah bisa memaksa orang lain untuk suka atau tidak suka terhadapnya.

Manusia yang merasa selalu diingatkan bahwa segala sesuatu tidak bisa terus-menerus disimpan sendiri, atau selalu tersimpan dengan rapi, karena suatu saat hal tersebut dapat tertangkap oleh indera.

Manusia yang ia ingin katakan “Jangan pernah ngubah gue jadi foto copy-nya elo,” atau berteriak “Gue ga maksa untuk elo suka ama gue, atau gue jadi benci ama elo karena elo ga suka sama gue. Terserah elo!!! So, jangan sekali-kali terlalu ikut campur ama idup gue. Coz your life is still yours, and mine is still mine.”

Karena kamu adalah kamu dan saya adalah saya.

If you do not want what I want, please try not to tell me that my want is wrong.

Or if my beliefs are different from yours, at least pause before you set out to correct them.

Or if my emotion seems less or more intense than yours, given the same circumstances, try not to ask me to feel other than I do.

Or if I act, or fail to act, in the manner of your design for action, please let me be.

I do not, for the moment at least, ask you to understand me. That will come only when you are willing to give up trying to change me into a copy of you.

If you will allow me any of my own wants, or emotions, of beliefs, or actions, then you open yourself to the possibility that some day these ways of mine might not seem so wrong, and might finally appear as right-for me. To put up with me is the first step to understanding me.

Not that you embrace my ways as right for you, but that you are no longer irritated or disappointed with me for my seeming waywardness. And one day, perhaps, in trying to understand me, you might come to prize my differences, and far from seeking to change me, might preserve and even cherish those differences.

I may be your spouse, your parent, your offspring, your friend, your colleagues. But whatever our relation, this I know: You and I are fundamentally different and both of us have to march to our own drummer.

If a man does not keep pace with his companions, perhaps it is because he hears a different drummer. Let him step to the music he hears, however measured or far away.

Different Drummer; by Henry David Thoreau

Tags: , ,

Leave a Reply