Walaupun Tanpa Bintang Malam Itu…

“Hei…kok  jemputnya kecepetan?”

“Duh, kok gue deg-degan ya?”

“Kenapa?”

“Gue salting nih.”

“Buset norakh banget lu.”

“Duh, duh, duh…langsung pulang aja ya.”

“Okay.”

Selama perjalanan dari daerah Barito ke daerah rumah saya,…

“Eh, kenapa sih lu cengar-cengir sendiri?”

“Gak, norakh nih gue, duh, kok bisa-bisanya ya gue jemput elo.”

“Haalllaaggghhh…masih norakh?”

“Gak habis pikir gue.”

Kurang lebih satu jam di perjalanan, kami habiskan untuk mengobrol, tentang hal yang sangat penting, sampai ke hal yang sangat tidak penting…

“Eh gue anter elo pulang langsung aja ya?”

“Hah? Katanya ada yang mau diomongin?”

“Ngga ya, gue anter elo pulang aja langsung, bis itu gue pulang.”

“Lah, elo pulang dulu, terus baru jemput cewek lu gitu?”

“Iya.”

“Buset, setrikaan banget, yang ada lebih deket jemput cewek lu dari sini kali. Dah ntar kita nangkring dulu di mana gitu deket-deket rumah gue, terus baru elu nanti jemput cewek lu.”

Kami pun terdiam untuk beberapa saat…

“Eh…tuh belok kanan rumahmu.”

“Heh, ada apa ya di kanan? Kenapa mang di kanan? Senangnya yang nganterin dah tau jalan tanpa harus dikomando kiri-kanannya.”

Ia pun melajukan kendaraan melewati kompleks rumah saya, tanpa tahu arah ke mana.

Dan sampailah kami di sebuah kompleks perumahaan sekaligus pertokoan dan pusat jajanan…

“Nangkring di mana nih?”

“Tuh ada tukang nasi goreng di kanan.”

“Hah, elo bisa makan di tempat kayak gitu?”

“Yah…ampyyyyuuunnn…ya bisa lah. Denger ya, dari makanan pinggir jalan kayak gini ampe masuk hotel mahal, dari naik bis busuk ampe gue nyetir Merci, gue pernah banget kali.”

“Sumpah gue ngga nyangka.”

“Kenapa pada ga percaya ya? Gue bisa makanan beginian.”

Dan duduklah kami berdua di sana, di pelataran pertokoan, berpemandangan tukang kaki lima yang berjualan makanan dan para pembeli yang merapatkan kendaraannya ke tepian untuk lebih bisa bersantai atau menikmati sepenggal hidup yang diberikan untuk dinikmati.

“Masih geleng-geleng?”

“Beneran gue lebih suka nih yang kayak gini. Ga bolak-balik ke mall ke tempat yang kayak-kayak gitu. GAP-nya keliatan banget.”

“Mang cewek lu ngajakin lu ke mall mulukh?”

“Ga juga sih, tapi ga bisa diajak ke tempat kayak gini.”

“Ohhh. Ya diajarin kek.”

“Udah, tapi kayaknya sih dia ngga enjoy gitu, jadi gue males ngajak lagi. Tapi tetep gue ga percaya elo bisa diajak ke tempat gini.”

“Now, you believe it, rite? Tapi ya sebenernya sih elo ga perlu mikirin gap juga kali kalo jalan ke mall-mall gituh, emang mereka tau gitu elo siapa? Dan yang penting, emang mereka ngasih elo makan, gaji elo dan harus elo peduliin?”

“Iya juga ya.”

“Ya dounks, they do not know who you are, so no need to worry lah. PD ajah jalanin. Lagi pula perlu sekali-kali elo liat mereka, observasi mereka manusia-manusia mall itu, dengan segala kemewahannya. Elo boleh kok mimpi bisa seperti mereka, tapi jangan lupa juga liat yang di bawah.”

“Betul-betul, gue suka omongan lu.”

“Elo akan semakin suka ama omongan gue, kalo keseringan dengerin ocehan gue. Atau bisa-bisa malah elu jadi suka ama gue, hahahaha.”

“Sial, brengsek. Kalah gue.”

“Elo akan banyak kalahnya ama gue kok. Tenang aja.”

Sepiring nasi goreng dan sebotol teh kemasan sudah kami pegang. Mulut ini tak hanya sibuk mengunyah hidangan, tapi juga sibuk mengeluarkan kata demi kata…

“Jadi, kapan nikah?”

“Hyyyaaahhh…kenapa jadi nanyanya ke sana?”

“Loh, biasanya khan umur-umur loe emang lagi pada kejar-kejaran untuk nikah ‘kan?”

Dilanjutkan dengan perbincangan kami berdua seputar masalah kehidupan percintaan manusia yang saat itu duduk di sebelah kiri saya.

Dan diakhiri dengan beberapa kalimat yang bisa disimpulkan…

“Ya, semoga elo bisa mendidik sebelahmu itu sedikit berbeda, walaupun itu semua juga menjadi keputusanmu untuk bisa mewujudkan sebuah mimpi relationship dua arah kayak yang udah elo critain ke gue tadi.”

—-

Esok harinya, saat saya dan seseorang yang sama dengan cerita di atas, melakukan sebuah perbincangan melalui sebuah media…

“Duuuhhh…gue lagi mikir nih, gimana caranya ya, biar kemaren bisa dua kali.”

“Elo pikir sendiri aja ya. Kalo gue-nya sih bisa terus. Elo-nya khan yang repot atur-atur jadwal dan kondisi. Huahahahahahaha.”

“Ya, ya, ya.”

Beberapa jam kemudian, Bébé saya sibuk mengeluarkan bunyi-bunyian, yang kalau dari bunyinya sudah ketahuan bahwa itu adalah bunyi tanda adanya pesan singkat yang masuk.

“Gue tunggu di depan, gue anterin elo pulang.”

“Udah gih, kondangan, ama pacar lu. Repot amat.”

“Gak, gue anterin elo pulang dulu. Terus kondangan, dan baru jemput pacar gue. Pacar gue pulang malem.”

“Hyaaahhh…gampang gue pulang ndiri.”

“Udah nanggung gue anterin, sekalian lewat.”

“Ya udah kalo elo maksa. Bentar, gue masih ada printilan.”

Tidak memakan waktu lama dari Pejaten sampai ke rumah saya. Pukul 19.30, saya sudah berhasil dihantarkan dengan selamat sampai di depan rumah…

“Yah bagus, orang rumah pergi semua. Gue ga bawa kunci.”

“Serius lu?”

“Bentar gue bongkar tas dulu.”

“Eh, gue boleh istirahat dulu ga di sini. Macet tadi, gue pegel.”

“Boleh-boleh aja. Tapi sorry nih gue ga kasih elo masuk ke rumah ya. Ada anjing gue, dan di teras kayaknya dia muntah tuh.”

“Gak papa.”

“Bentar gue masuk dulu.”

“Mang bisa?”

“Bisa, nih gue ternyata bawa kunci.”

“Gue ngerokok sebatang-dua batang dulu yah.”

“Gue bikinin minum sekalian aja yah.”

“Gak usah kali.”

“Basa-basi lu.”

Tak berapa lama, saya keluar dengan dua gelas teh hangat di tangan, untuk saya nikmati dengan seseorang yang ternyata sudah duduk bersila di depan garasi rumah saya. Saya pun yang saat itu sudah bersandal, tak lama kemudian mengikuti gaya duduknya.

“Kompleks rumah lu enak ‘Cha. Sepi ginih. Tenang.”

“Yoi. Sayang nih, sekarang langitnya ga ada bintang. Gue sering banget keluar tengah malem, sekalian ngegembog pager, cuma untuk liat bintang di langit.”

“Gila ya, gue ngga nyangka bisa nangkring-nangkring gini sama elo.”

“Bisa aja, kenapa ga bisa.”

“Eh by the way, ini teh?”

“Iya, gue lagi ga ada kopi cuy.”

“Ya ampun gue kira cuma air putih.”

“Katanya tadi minta yang berwarna. Basa-basi banget sih lu.”

Perbincangan saya kali ini dengan manusia di sebelah saya, tidak sebanyak kemarin, karena dirinya sibuk menerima telepon dari teman-temannya yang janjian untuk pergi ke kawinan.

Dan selama perbincangan mereka berlangsung, saya hanya ketawa-ketawa kecil sambil menyeruput teh yang masih sedikit panas. Bagaimana saya tidak ketawa, kalau perbincangan seperti ini yang saya dengar…

“Bentar-bentar, gue masih kena macet nih, masih di Pondok Indah. Bentar lagi gue nyampe rumah. Begitu gue ampe rumah, gue mandi, dandan terus berangkat deh. Elo duluan aja gimana.”

Konsentrasi manusia di sebelah saya kembali ke urusan perbincangan dengan saya, juga teh dan rokok yang sedang ia usahakan untuk dihabiskan.

Tak lama kemudian…

“Gue balik ya. Ma kasih tehnya udah abis. Gue mesti ke kawinan trus jemput cewek gue.”

“Okay. Ati-ati ya di  jalan.”

—-

Dua hari kemudian…

“Kemana kita hari ini.”

“Lah katanya situ jemput pacar.”

“Duh gue dilema ini.”

“Terserah ya, bukan gue yang mau loh.”

Sekitar pukul 18.00, akhirnya saya memutuskan menyudahi perjuangan saya di tempat saya bekerja pada hari itu, dan mulai melangkahkan kaki saya untuk meninggalkan segala urusan pekerjaan, dan membiarkan itu semua “duduk manis” pada tempatnya.

Byyyyuuurrr…

“Yak pinter masih ujan. Alamat gue main air ujan inih.”

Kaki ini pun terus melangkah, satu…dua…tiga…empat…dan tak tahu berapa langkah lagi sampai mata ini mendapati ada seseorang yang menunggu saya.

Berhubung hujan, pastinya banyak anak-anak saya yang masih nongkrong di sekitar store

“Males nih, kalo gue ketauan pulang ama sapa.”

Tak lama kemudian, saya mengambil Bébé dan mengetikkan beberapa kata…

“Gue tunggu di tempat biasa.”

Dan alhasil saya dijemput di tempat biasa…dan kegembiraan saya bertambah malam itu karena saya bisa menikmati malam diiringi cipratan bahkan guyuran hujan.

—-

Esok harinya…

“Tumben anteng.”

“Weits ada yang kangen kayaknya, sms duluan.”

“Sial elo nyuruh gue sms duluan ya?”

“Yoi.”

“Brengsek.”

“Telepon gue dounks.”

“Daripada gue telepon elo, mendingan elo entar jemput gue deh.”

“Keluar jam berapa lu?”

“Mudah-mudahan jam setengah 6. Gue meeting dulu. Biasa, weekly.”

“Sip.”

Beberapa jam kemudian…

“Sial, nih meeting ga kelar-kelar. Mati-matiin komputer dulu ah, biar ntar bisa langsung cabut.”

Beberapa menit kemudian…

“Yak, sepertinya cukup meeting hari ini, bla…bla…bla…”

Saya pun dalam hitungan detik berlari ke mesin absensi…

“Check out…NIP…yak, thank you…dan yak cabut.”

Sesampainya saya di luar gedung…

“Di mana lu?”

“Tempat biasa.”

Akhirnya saya pulang dengannya untuk kesekian kalinya…

Di tengah perjalanan, seperti biasa kami isi dengan obrolan-obrolan, dan salah satunya tentang hal ini…

“Btw…elo belum jawab pertanyaan gue dari dulu.”

“Pertanyaan elo yang mana ya? Perasaan elo banyak banget nanya ke gue.”

“Itu tentang masalah gue, elo tau dari mana?”

“Dah ah, elo ga perlu tahu, gue tau dari mana.”

“Tapi gue penasaran aja.”

“Ga semua rasa penasaran lu harus terjawab khan ya?”

“Ada satu cerita lagi sih yang gue pengen cerita ama elo, tapi gue ragu mau cerita sekarang atau ntar-ntar aja.”

“Masalah apa? Terserah elu sih mau ceritanya kapan, gue khan cuma pendengar elu aja.”

“Penasaran kan lu?”

“Dikit, tapi gue dah biasa rasa penasaran gue ga terjawab, jadi ya sudah lah. Gue tunggu aja.”

“Ya udah ya, kita ngeteh pinggir jalan aja gimana?”

“Ya udin…terserah elu lah. Tapi janji ya, elo ga boleh sakit ati setelah tau gue taunya tentang masalah lu itu gimana caranya, karena gue rasa, cara dia nyampeinnya ga bagus aja, ga tepat.”

“Siapa yang ngasih tau elo. Inisialnya aja.”

“Kalo gue bilang sekarang, sama aja gue mulai cerita sekarang dounks.”

Tak berapa lama kemudian, sampailah kami di tempat biasa kami nangkring akhir-akhir ini.

“Emang pait ya ‘Cha kalo gue tau.”

“Mayan sih.”

“Emang siapa sih orangnya.”

“Yah kan gue bilang, gue ngga mau setengah-setengah cerita ama elo. Elo harus jawab dulu, mau denger ceritanya atau ngga. Iya-iya, ngga-ngga, jangan menye-menye ga jelas gitu dounks. Apalagi elo laki, malu kalo pake acara menye-menye.”

Akhirnya saya pun cerita secara detil bagaimana saya sampai tahu masalah yang sedang ia hadapi beberapa tahun belakangan ini…dan tetesan air mata kembali terjadi, pada malam itu, di tengah perbincangan kami berdua untuk kesekiankalinya.

“Terus yang elo bilang mau cerita ke gue itu, masih pengen diomongin?”

“Masih inget lagi lu.”

“Kalo masih ya sekalian gituh.”

Kali ini cerita yang keluar dari mulutnya, hanya mendapat satu respon dari saya…

“Whaaaaatttttt the f***?”

Dan kembali saya merasa bersyukur bahwa saya (akhirnya) bukanlah seorang perempuan kebanyakan. Kali ini saya kembali sungkem pada manusia-manusia yang berhasil mendidik saya, untuk menjadikan saya seperti sekarang ini, dengan segala yang ada di dalam otak dan hati saya.

—-

Besoknya…

“Uaannnnjjjrrriiittt…ATM masih rusak pulakh.”

Tanpa basa-basi…

“Dimana? Pulang bareng yah. Duit gue abis banget nih. Tadi pagi telat bangun terpaksa ngojek, dan ngarep bisa ambil ATM di sini, tapi ATM masih rusak.”

“Okay, gue jemput di tempat biasa ya.”

Dan di tengah perbincangan kami selama perjalanan…

“Sebenernya ada sesuatu hal yang pengen gue omongin.”

“Ya udah, ngeteh aja apa?”

“Elo ga pake acara pulang dulu ganti sendal buat jemput cewek lu?”

“Nanggung.”

“Ya udah bilang aja tadi elo abis nongkrong di mana. Khan elo ga boong dounks abis nongkrong ama temen-temen lu?”

Kembali tempat itu menjadi saksi bisu perbincangan kami berdua…

“I just wanna say thank you for everything. Untuk semua cerita lu yang gue tau bahwa mempercayakan cerita ke seseorang itu ga mudah. Elo dan cerita loe menjadikan dunia gue semakin berwarna sekarang. Terus terang gue cukup sedih denger cerita-cerita elo, tapi bagaimanapun juga itu keputusan lu untuk berada di sana, dengan dia yang elo pilih saat ini. Apapun itu gue dukung, gue cuma bisa ngasih pilihan alternatif yang mungkin bisa elo ambil atau elo pilih. Just stay gold. Tetep bersinar. Karena gue tau kapasitas elo, tau kualitas otak lu kayak apa. Pilihan ada di tangan lo.”

“Elo ga punya adek cewek gitu ‘Cha?”

“Hah? Gue anak paling kecil gituh, cewek satu-satunya.”

“Kalo ada gue uber gue pacarin deh.”

“Huaahahahha, kalo ada juga dah gue larang pacaran ama elu.”

Seselesainya saya mengatakan hal itu, saya kembali sibuk melihat ke atas langit…

“Gak ada bintang.”

“Ho oh, ketutupan awan kayaknya.”

“Iya, padahal kemaren pas gue gembog pintu banyak banget tuch bintangnya. Tapi kayaknya gue ga perlu jauh-jauh nyari bintang, karena salah satu bintangnya ada di samping gue.”

“Kayaknya gue juga ga perlu sibuk nyari-nyari, karena gue dah nemu bintangnya. Duduk di samping gue.”

“Tapi yang penting, elo harus bisa jadiin yang sekarang lagi nunggu elo di sana, jadi bintang loe, walaupun dia belom bisa bawain apa yang elo butuhin, walau cuma segelas air putih.”

…Wahai Tuhan, Jangan Bilang Lagi Itu Terlalu Tinggi…(Taken from lyrics “Curhat Buat Sahabat” by Dee Lestari)

Tags: ,

2 Responses to “Walaupun Tanpa Bintang Malam Itu…”

  1. warm says:

    ya ampun,
    kok bisa-bisanya nulis panjang gini
    salut euy
    :)

    curhatnya dari jalan sampe emper rumah
    ah keren

  2. NuigeL says:

    Ini keren banget tulisannya…. Sangat… :)

Leave a Reply