Tepat Tiga Minggu…

Belum hilang kesedihan saya akan kehilangan Rambo, saya kembali dipaksa untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya di rumah.

Sesampainya saya di rumah setelah pulang kantor hari Rabu, 24 Maret 2010, saya disambut oleh Molly yang tampak tak bergairah di teras depan. Dan seperti biasa saya mengelus-elus dia, karena setelah Rambo meninggal, hanya tinggal Molly yang menjadi penguasa teras depan rumah…

“Nak, kamu kok jadi kurus banget ginih. Males banget makan abis ditinggal Kak Embo? Mimi ke dalem dulu ya, ganti baju.”

Saya memang tak berganti baju, tapi malahan mengobrol dengan ibu dan bapak saya. Dan saya ingat betul kalimat di bawah ini yang mengakhiri obrolan kami bertiga.

“Molly tadi mau makan?”

“Mau, kasih makan lagi aja.”

Saya pun langsung beranjak menyiapkan makanan untuk perempuan jagoan saya yang satu itu.

Molly pun langsung beranjak dari tidurnya setelah mendengar saya memanggilnya untuk memberi makan. Namun tak lama kemudian setelah saya masuk kembali ke dalam rumah dan kali ini benar-benar untuk berganti pakaian, saya mendengarnya merintih kesakitan, sangat-sangat kesakitan. Saya bisa katakan demikian, karena saya tahu Molly adalah anjing kuat dan tahan banting luar biasa.

Tanpa basa-basi, saya langsung kembali menuju ke teras depan, dan kaget setengah mati, karena menemukan Molly tersayang kesulitan untuk berdiri. Kedua kaki belakangnya tiba-tiba lunglai dan lemas. Ia pun terus-menerus merintih dan menjerit kencang tanpa henti.

Saya pun sembari memegangi Molly berteriak memanggil Mama atau Papa untuk membantu saya…

“Panggilin Becky dounks, Ma. Minta pegangin Molly dulu, aku mau ganti baju.”

“Becky dah tidur.”

“Bangunin aja. Nih anak kenapa treak-treak?”

Akhirnya Becky, abang saya kedua menghampiri saya dan membantu memegangi Molly.

“Bentar Beck, gue ganti baju dulu, masih pake baju kantor ini.”

Saya pun bingung setengah mati, apa yang harus saya lakukan saat itu. Bolak-balik kiri-kanan, sampai saya memutuskan untuk membawa Molly ke Rumah Sakit Hewan 24 jam yang ada di Sunter.

“Molly harus dibawa ke Sunter sekarang. Damn besok gue ada Coffee Morning pulakh, gue ga bisa libur.”

Saya kembali masuk ke kamar, berganti baju kembali dan bersiap untuk membawa Molly ke Rumah Sakit bersama dengan Becky.

Becky pun tanpa basa-basi berganti baju, meminta uang sementara ke Papa dan menggendong Molly ke dalam mobil.

“Bentar ya Sayang, kita ke dokter ya. Sakit banget ya, Nak? Kita usaha bareng dulu ya.”

Saya bertugas mengendarai mobil, karena abang saya yang satu itu, lebih “buta” jalan daripada saya, yang lebih hobi kluyuran di jalanan.

Menyusuri jalan tol Kebon Jeruk dan tol Dalam Kota yang sudah kosong, tetap terasa lama, saat saya harus mendengar rintihan anak perempuan saya satu-satunya itu.

“Bentar ya sayang, Mimi lagi nyetir nih Nak, cepet ampe rumah sakit ya kita.”

Sesampainya kami di rumah sakit, saya melihat bahwa pasien yang berobat masih banyak. Tanpa berpikir panjang saya langsung menghampiri ke resepsionisnya…

“Mbak masih banyak ya? Emergensi nih.”

“Dah pernah ke sini?”

“Yang ini belom, anjing saya yang lainnya udah. Biasanya dibawa ke Green Garden.”

Saya pun diminta untuk mengisi data-data Molly dan saya sendiri.

“Dah mbak, hewannya dibawa turun aja, terus ditimbang ya.”

Molly kemudian ditangani oleh dokter yang sedang bertugas malam ini. Saya sudah tahu bahwa kondisi Molly sangat-sangat mengkhawatirkan, saat saya memeriksa kondisi mulutnya di mana seluruh gusi sudah nampak pucat pasi berwarna putih, detak jantung yang sudah sangat cepat. dan duburnya yang sudah mengeluarkan darah.

Di atas meja pemeriksaan, Molly yang sudah diberikan cairan intra vena dan diberi obat penghilang rasa sakit, masih juga menangis kesakitan, dan semakin keras saat saya melangkah menjauh daripadanya.

Saya pun kemudian berkata pada Molly…

“Sayang, sakit banget ya? Kita usaha dulu ya berempat ama dokternya ya? Molly khan kuat, cantik, pinter, usaha dulu, tapi Molly boleh milih nanti, mau ikut Embo atau milih ama Mimi, terserah kamu ya, Sayang. Tapi malem ini Molly bobokh sini dulu ya, ama dokternya, besok bis ngantor Mimi nengok Molly, kalo ngga ngantor nanti Mimi ga bisa nyembuhin Mowi.”

Saya mengantar Molly ke ruang rawat inapnya, tubuhnya yang sudah dingin dan terpasang infus, digendong oleh asisten dokter yang merawat Molly. Sesampainya di ruangannya, Molly masih diberi penghangat lebih berupa sinar lampu yang langsung disorot ke tubuhnya, tapi sebelum saya turun, ternyata, selang infus Molly pun sudah terlepas, karena ia terlalu banyak bergerak, mungkin kesal karena ia ingin berdiri tapi sudah tak mampu.

Saya kemudian berjalan menuruni anak tangga dan kembali ke ruang periksa tadi, untuk membereskan urusan administrasi rawat inap Molly, sembari berbincang-bincang sebentar dengan dokternya…

“Do your best untuk Molly ya, Dok.”

“Will do, tapi kita juga harus realistik, melihat kondisi Molly, terus terang sangat mengkhawatirkan, makannya saya ga bisa janjiin yang manis.”

“I know, still do your best.”

Abang saya pun kemudian nimbrung di perbincangan kami…

“Ya kalau memang yang terbaik untuk Molly adalah eutanasia, ya ga papa juga.”

Disusul dengan omongan saya…

“Ya tapi kalo bisa mah yang eutanasia, mah yang punya idup semua makhluk.”

Lalu si dokter pun menjawab…

“Saya juga paling males kalo disuruh nyuntik mati. Kalo ga ditungguin pemiliknya, saya diem-diem ngerawat dulu ampe beberapa hari lagi, kalo bener-bener ga bisa baru eutanasia. Saya ngga mau sebenernya.”

Setelah beres, kami pun kembali ke mobil dan pulang ke rumah. Kembali saya yang mengendarai mobil, di tengah jalan tol yang sudah sepi, dan membuat kantuk. Jam mobil sudah menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Dan tepat pukul 03.00 dini hari, Kamis 25 Maret 2010, saya dan si abang sampai di rumah.

“Deeemmmm…ntar jam 5 dah harus berangkat pulakh. Sialll.”

Sesampainya di rumah, saya langsung masuk ke kamar si Mama, berganti baju dan tidur. Namun tidur saya malam ini pun tidak nyenyak, karena memikirkan anak saya yang sedang di rumah sakit, yang terakhir sebelum saya pulang, saya masih mendengar rintihannya.

Pukul 05.00 waker yang bunyinya sungguh keparat itu, tumben mampu membangunkan saya dari tidur. Sialnya, saat diri ini belum mandi, taksi yang saya pesan sudah datang…

“Dem…telat ini gue bakalan.”

Dan benar tebakan saya, taksi yang saya tumpangi tak sanggup menghantarkan saya ke kawasan Pejaten dalam waktu satu jam, karena jalanan yang saya kira masih sepi di pukul 05.30 pagi, ternyata salah total.

“Duuuhhh…maap nih…HRDnya telat lagih…hahahhahah.”

Acara kantor tersebut tak berlangsung lama, dan karena jadwal saya seharusnya memang libur, jadi saya langsung meninggalkan store seselesainya acara itu. Dan pertanyaan selanjutnya…

“Jrittt..ga suka nih gue dah bangun pagi, pergi and ga tau mau ngapain. Telpon rumah sakit kali ya, gue nengok Molly, tapi belum jam 10.00, si dokter belom selese ngobatin pasien-pasiennya.”

Akhirnya saya memutuskan untuk sebentar nyangkut di warung kecil samping store, menenggak sebotol minuman teh di kemasan botol, dan ngobrol dengan beberapa anak saya, yang juga nyangkut di sana, sembari memikirkan apa yang harus saya lakukan sebelum pulang ke rumah.

Pukul 10.00, saya memutuskan untuk pulang, dengan menaiki Trans Jakarta. Saat pikiran ini sedang memikirkan Molly tersayang, tiba-tiba telepon saya berdering. Di layar tertera sebuah nomor yang tak ada di buku telepon si Bébé saya. Saya mengangkatnya…

“Hallo, mbak Rosa, ini dokter Endang.”

Yah, pikiran saya sudah tak karuan, saya sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh dokter itu…

“Mbak, sorry ya, Molly ga ketolong, barusan aja meninggal.”

Saya pun hanya bisa berkata…

“Yaaaahhh. Molly ga ketungguan ama saya ya.”

“Iya, tadi malem, jam 4 dia dah mulai bisa tenang, tapi jam 7 tadi dia pup darah, barusan meninggal. Tapi meninggalnya dia ga kesakitan kok, tenang.”

“Ya udah lah dok, yang penting dia sekarang dah ga sakit. Tapi saya ga bisa ngambil sekarang ya. Saya baru pulang dari kantor.”

“Ga papa. Nanti khan dimasukkin ke lemari pendingin.”

“Kalo dikremasi berapa, Dok?”

“Seratus ribuan.”

“Tapi abunya ga bisa diambil ya sekarang aturannya?”

“Iya, Mbak, abunya sekarang ga bisa diambil kayak dulu.”

“Ya udah, Dok, saya ambil Molly hari minggu ya. Ma kasih ya, Dok.”

Sesaat saya menutup telepon itu, semua “film” dari saat saya bertemu Molly di ujung jalan rumah saya, saat ia akhirnya mau diajak masuk ke rumah dan akhirnya kami pelihara, saat ia meminta untuk melahirkan anaknya di rumah, saat saya membawanya ke rumah sakit untuk disterilisasi, betapa senangnya ia menemani saya atau papa jalan-jalan, saat ia menangis karena dilarang ikut papa bersepeda, saat ia berteriak minta dibukakan pintu kalau ia kehujanan di luar saat ia ia berjalan-jalan sendiri tanpa kami temani, saat ia menyambut saya sepulang kantor, sampai detik-detik terakhir hidup bersama kami yang sudah berjalan kurang lebih 8 tahun.

Di tengah sedihnya saya setelah mendengar berita tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk turun di halte depan kantor Becky, dan menuju ke kantornya abang saya yang ikut menemani saya membawa anak cantik itu.

Dan begitu saya bertemu dengan Becky, di ruangannya…

“Mowi meninggal.”

“Hah? Yakin? Meninggal beneran? Cepet banget, masih mau makan, masih mau minum susu. Dokternya bilang apa?”

“Gak tau, orang belum diambil darah, belum di akupunktur, baru abis dikasih obat sama dibersihin. Tapi tadi dia check pupnya, penasaran kena Parvo atau bukan, dan ternyata bukan.”

Lalu saya menelepon ke rumah dan kebetulan yang mengangkat Papa, yang sering sekali ditemani Molly berjalan-jalan, sering mengajaknya mengambil uang ke ATM (dan jika Molly ikut, Papa memasukkan Molly sampai ke dalam ruang ATM, tidak dibiarkan menunggu di luar), atau menemaninya berjalan ke mini market yang letaknya di kompleks sebelah…

“Pa, Molly ga ada.”

“Yaaaahh, aduh, aku kebayang matanya. Ya udah lah daripada kasian. Dokternya belum nemu sakit apa ya?”

“Belum sempet observasi lebih lanjut.”

—-

She was a stray dogs…yang akhirnya saya dan keluarga saya pelihara dan sayangi. Dan terus terang, kami tak pernah tahu usia asli anak perempuan saya yang satu ini, tapi yang kami tahu adalah Molly kami sayangi, ia bagian keluarga kami, dan ia meninggalkan jejak kaki yang luar biasa dalamnya di hati kami sekeluarga…

“Love you, Mowiiii, we already miss your little cute eyes, we already miss you to the max. Nanti kalo Mi mati jemput Mi sama Rambo, ama Bozo, ama Boomer and kakak-kakakmu yang lain ya.”

*Masih belum bisa upload gambar…Damn!!! Jadi kalo mau liat fotonya Molly bisa klik di sini


Tags: ,

Leave a Reply