Jadi Ikan Kecil atau Jadi Ikan Gede?…

Errrr…saya memang bukanlah orang yang sangat mampu dan kompeten sekelas Rene Suhardono untuk memberikan career coach, tapi tak tahu mengapa saya sempat beberapa kali ditanyai beberapa teman tentang masalah pekerjaan mereka. Ada yang tidak betah kerja dengan atasannya, ada yang bingung kira-kira mau ambil tawaran kerja yang mana, atau kira-kira ide apa yang bisa diberikan ke perusahaannya atas pekerjaan yang diberikan kepada teman saya ini. Ya, kok ndelalah masukan saya itu ternyata selama ini Puji Tuhan bermanfaat bagi mereka.

Dan kali ini saya ingin berbagi pengalaman apa perbedaan yang saya rasakan bekerja di sebuah perusahaan besar, dan pengalaman bekerja di perusahaan kecil. Mudah-mudahan kali ini pun pengalaman saya akan bermanfaat bagi yang membaca.

Bagi teman-teman yang sudah mengenal saya sejak lama, pastinya sudah mengetahui sedikit perjalanan jenjang pendidikan dan juga pekerjaan-pekerjaan yang pernah saya jalani, yang berarti pula sudah tahu di mana dulu saya bekerja. Tapi untuk yang belum tahu, dulu sebelum saya memutuskan untuk kembali kuliah dan mengambil major yang berbeda yaitu di Fakultas Psikologi (Agustus 2004-Februari 2009), saya sempat bekerja di salah satu bank swasta nasional yang sempat menduduki posisi bank non pemerintah yang memiliki aset paling besar beberapa tahun lalu (mungkin sampai sekarang).

Tak tahu mengapa, dari hari pertama saya masuk kerja di kantor ini, saya sudah merasa cukup nyaman dengan lingkungan kerjanya. Menurut saya, saya tidak perlu terlalu banyak melakukan adaptasi dengan kantor baru yang satu ini.

Saya, termasuk orang yang cukup concern dengan urusan printilan tempat kerja, karena hal itu berperan penting dalam “menempatkan” mood saya saat bekerja nantinya. Karena perusahaan tempat saya bekerja dulu adalah perusahaan yang sudah sangat mapan, maka pastilah urusan cubicle, jaringan telepon, jaringan intra dan internet (walau tetap dibatasi), dan fasilitas penunjang bekerja juga sudah ada. Tinggal memintanya sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Kemapanan seperti itu juga tidak hanya berlaku untuk urusan fasilitas/alat-alat penunjang kantor, tapi juga masalah segala prosedur, struktur organisasi, tata cara bekerja, standarisasi ini-itu, semua sudah ada. Istilahnya, kita para karyawan most likely tinggal melihat ke panduan atau Standard Operational Procedure yang berlaku. Misalnya kita ingin mengajukan permohonan penambahan karyawan, formulir-formulir yang harus diisi apa saja, harus dibubuhi tanda tangan pejabat-pejabat siapa saja, harus ke divisi-divisi mana saja, sampai bagaimana proses pemanggilan si calon karyawan; atau misalnya untuk sebuah peluncuran produk, dari produk itu tercetus hingga hari H produk itu diluncurkan ke pasar, harus menjalani proses A sampai Z yang bagaimana.

Masih ada satu hal lagi yang menurut saya bisa dikategorikan sebagai sebuah kemapanan bekerja di perusahaan besar, yaitu urusan printilan kesejahteraan karyawan. Ah, kebetulan tempat saya bekerja pertama kali itu, urusan kesejahteraan karyawan bisa dikatakan terjamin. Dari urusan jenjang karir dan syarat-syarat untuk mencapainya sudah diatur dengan sangat-sangat-sangat jelas, kita tinggal atur strategi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, jika mengincar suatu posisi. Dan bicara tentang karir dan jabatan, urusan di balik ini semua, pasti juga sudah diatur. Apalagi kalau bukan masalah gaji, kompensasi dan benefit untuk setiap tingkatan jabatan sudah ditentukan dengan jelas.

Ya, tapi bukan berarti bekerja di perusahaan besar itu sudah pasti akan selalu enak dan menyenangkan loo ya, karena di perusahaan besar berarti kita adalah seekor ikan kecil yang berada di kolam besar. Yang berarti pula kalau kita tidak kinclong dengan ide dan prestasi yang luar biasa “indah”nya bisa jadi kemampuan kita tidak kelihatan, dan apresiasi pada kita juga menjadi tidak setimpal. Dan bagaimana agar kita menjadi bersinar di antara banyaknya karyawan, juga bukan jalan yang mudah, karena persaingan antara satu karyawan dengan karyawan yang lainnya juga pasti ketat. Tak jarang malah ada “penjahat-penjahat” kecil yang suka MT alias “makan temen” sendiri.

Urusan prosedural yang sudah paten itu juga kadang membuat proses pekerjaan menjadi lebih lama (dan akan lebih terasa saat tenggat waktu sudah di depan mata) dan membuat kita berpikir dua kali untuk melakukan “kreativitas-kreativitas” tertentu, karena bisa-bisa hal itu akan dianggap menyalahi aturan main (misalnya saat ada audit internal maupun eksternal), walaupun hasil akhirnya tetap sesuai dengan target.

Dan untuk urusan jenjang karir yang sudah sangat jelas aturan mainnya itu, bisa juga menghambat karir seseorang. Loh kok bisa ‘Cha? Hal ini mungkin saja terjadi, misalnya pra-syarat seseorang untuk naik jabatan ke jenjang tertentu, minimal pendidikannya harus S1, dan ternyata yang bersangkutan belum menyandang gelar sarjana, tapi dari segi kemampuan, keterampilan dan penguasaan medan sudah memenuhi syarat orang tersebut untuk naik jabatan, namun karena peraturan, orang tersebut tidak diperbolehkan naik jabatan, dan jadilah ia terjebak di level yang sama tak tahu sampai kapan.

Nah, bagaimana kalau bekerja di perusahaan kecil? Kebetulan saya juga punya pengalaman untuk satu hal ini. Menjadi ikan agak besar di tempat yang kecil, otomatis kelihatan dong ya, dengan risiko yang kecil terkena imbas sikut-sikutan yang parah dari teman-teman sejawat lainnya. Malahan hubungan pertemanan lebih seperti hubungan keluarga. Satu sama lain bisa dekat, gap di antara mereka juga tak terlalu dirasakan.

Tapi perusahaan kecil itu biasanya merupakan perusahaan yang belum lama berdiri. Yang berarti pula, bisa dipastikan perusahaan ini belum ada apa-apanya. Belum ada peraturan ini-itu yang sudah paten dan standar, belum jelas jenjang karir, urusan kompensasi-benefit juga masih bisa sering berubah.

Jangan terlalu berharap jika kamu bingung dan menanyakan ke sesama rekan kerja pertanyaan ini misalnya “Abis ini surat ini dikasih ke mana?” ia akan dapat memberi jawaban dengan cepat, atau mungkin ia akan menjawab dengan jawaban “Errr…ga tau,” atau “Dulu sih ke dia, ga tau sekarang.”

Weeeiitttsss…tapi bukan berarti kebingungan-kebingungan dan hal-hal “ajaib” karena sistem prosedur yang belum jelas, bahkan belum ada itu lantas membuat kacau hidup kita lo. Karena di sini kreativitas-kreativitas kita diperbolehkan untuk diumbar. Misalnya kreativitas untuk membuat sistem prosedur yang sekiranya sesuai, dapat diterapkan di organisasi dan pada akhirnya akan membuat organisasi itu berkembang. Keren ‘kan ya kalau pada akhirnya organisasi bisa berkembang dan kita adalah bagian dari itu semua? Walaupun itu semua pasti perlu waktu, tenaga dan tidak mudah untuk mengubah angka 0, atau bahkan minus, bergerak naik hingga mencapai angka 100 misalnya. Apalagi, perubahan bukan semata pada diberlakukannya prosedur, tapi juga kesiapan, kemauan dan kesanggupan manusianya untuk berubah.

Panjang lebar omongan saya kali ini, intinya adalah mau bekerja di mana pun pasti ada sisi negatif dan positifnya, tinggal bagaimana kita bisa mengubah suatu yang negatif itu menjadi suatu yang lebih positif dan menjadikan kita bisa berkembang, walaupun, sekali lagi, itu tidak mudah.

Ya sudah, sekarang itu semua hanya sebuah pilihan. Apakah mau bekerja di perusahaan besar atau kecil. Yang jelas semuanya adalah pengalaman berharga.

—-

Eh, cerita pengalaman saya ini jangan dijadikan sebagai acuan pasti ya, tidak bisa digeneralisasikan untuk semua perusahaan/organisasi. Ini hanya pengalaman saya.

“Buka Online HR Consultant aja po gueh?” :lol: :mrgreen:

—-

“Untuk mereka, atasan, teman-teman, sub-ordinate saya di dua perusahaan yang saya maksud di atas, sekali lagi terima kasih untuk segala pengalaman berharga yang saya dapatkan. Dan untuk perusahaan yang sebentar lagi akan saya tinggalkan, terima kasih untuk mengizinkan saya menyusun satu anak tangga yang kembali dipercayakan Sang Alpha dan Omega pada saya kali ini.”

Tags: , ,

6 Responses to “Jadi Ikan Kecil atau Jadi Ikan Gede?…”

  1. Yohanes Han's says:

    Berbicara soal Ikan, saya jadi inget sebuah penggambaran seperti ini, “ikan kecil yg diletakkan dikolam yg besar akan bisa bebas berenang kesana-kemari dg kesempatan tak terbatas utk melakukan apapun. Tapi dia harus menanggung kemungkinan bertemu ikan besar yang memang lebih sepadan utk berada dikolam tsb. Sedangkan ikan besar yang diletakkan dikolam yang kecil, tidak akan bebas berenang kesana-kemari krn kolam tsb terlalu kecil utk ukuran dia. Dan ikan besar yg berada dikolam kecil kalo tidak hati-hati bisa menyakiti ikan kecil lainnya yg mmg lebih pantas utk berada dikolam tsb.”

    Sedikit OOT: Berbicara tentang dunia karir, saya sampai sekarang masih heran dan takjub dengan fenomena dimana ada seseorang yg sudah memiliki jenjang karir yg sangat mapan, tapi malah meninggalkan karirnya tsb dan terjun didunianya sendiri yg kondisinya jauh dibawah standard dia ketika masih berkarir. Baik dari segi Prestige, Income, Relasi apalagi Status, kondisi dia didunia yg dipilihnya sangat jauh dg karir dia dulu. Seperti contoh ada seorang wanita karir yg justru meninggalkan karirnya dan malah membuka Pet Shop. ketika ditanya, dia melakukan itu karena kecintaan dia terhadap binatang. Aneh menurut saya. Hal spt ini namanya apa ya? kejenuhan thd dunia luar atau apa?
    waks….. koment gue panjang banget yak :D :D :D * anggap aja sbg pembalasan krn kmrn dirimu posting di ngerumpi juga puaannnjannng bener * :) :) :)

  2. Introverto says:

    @ Yoh: bales dendam ceritanya situ? hahahahha….eh sapa itu wanita? sepertinya akan gue ikuti jejaknya…karena itu yg ada dipikiran gue ttg future jobs gue: punya animal shelter, nulis, n jd psikolog…

  3. zam says:

    saya juga orang yg lebih memilih jadi ikan di kolam yg kecil.. :D karena seolah jadi ikan besaran dikit.. hehehe

  4. Introverto says:

    @ zam: kali ini saya milih jadi ikan kecil lagi dulu zam..hehehehe wish me luck yah.. :D

  5. Andry says:

    Bu Introverto, boleh saya quote tulisan ini dan saya email ke teman2 di kantor saya yang….cuma sebuah kolam kecil dengan ikan-ikan kecil juga hehehe

    hatur nuhun ibu…

  6. oen says:

    mampir kemari, dapat nice artikel, yah g mungkin ikan kecil terus menerus jadi kecil pasti dia akan jadi besar, hanya masalah waktu saja

Leave a Reply