Titik Air Mata Harap…

“Pheeewwwhhh…akhirnya sampai rumah”

Itulah keluhan saya setelah kembali menikmati jalanan Jakarta yang sudah (lebih) dari normal.

“Njriit ini macet apa ya? Gak biasa banget kayak gini?”

Dan hasil analisa saya, selepas dari macet yang menyebalkan itu, ternyata penyebabnya adalah semua lampu pengatur lalu lintas di sepanjang jalan yang saya lewati, tidak menyala, walaupun listrik di sekitarnya masih menyala normal.

Begitu memasuki rumah, saya langsung meletakkan tas, dan menyimak isi berita yang sedang disiarkan di televisi. Berita televisi pastilah masih seputar bencana gempa bumi di Sumatra Barat dan sekitarnya.

Saya duduk di lantai, sembari memangku O’Neil yang dari tadi bersama Kino sibuk menyambut kedatangan saya. Tubuh ini masih lelah, masih jengkel dan terus mengeluh, karena macet berkepanjangan sepulang kantor tadi.

Saya pun masih enggan berjalan menuju kamar mandi untuk langsung membersihkan diri, walau risih setengah mati. Dan lebih memilih manteng di depan layar televisi.

Namun pemandangan di depan saya ternyata telah menampar keras saya. Suguhan berita bergambar para korban gempa sungguh mengerikan, menyedihkan dan membuat saya malu. Malu pada diri sendiri yang sering mudah mengeluh.

Gambar pertama yang saya lihat adalah seorang tentara sedang memberikan sebotol air pada seseorang yang tertimpa bangunan, yang tangannya masih bisa bergerak, untuk mengambil botol air mineral itu, dan tak tahu apakah ia meminumnya atau malahan menyiramkan air itu ke wajah agar bisa lebih terus terjaga.

Menurut penyiar yang memberitakan kabar itu, orang yang tertimpa bangunan dan meminta minum tadi, sudah berusaha bertahan hidup lebih dari 24 jam di sana, hanya dengan air-air yang diberikan oleh tentara. Ia belum bisa dikeluarkan karena kurangnya alat berat untuk menyingkirkan reruntuhan bangunan.

Pemandangan berikutnya ada ibu separuh baya, dengan wajah yang lebab dan bengkak, termasuk di daerah kedua matanya. Ibu itu sedang dipapah, setelah berhasil dikeluarkan dari puing-puing reruntuhan yang menimpanya. Saya tak mendengar jelas apa yang dikatakan ibu paruh baya itu, tapi saya mendengar jelas apa yang dikatakan oleh tentara yang memapahnya saat itu…

“Sabar ya bu. Iya ibu selamat. Ibu selamat, masih hidup,” yang menurut saya itu adalah sebuah jawaban atas pertanyaan dari ibu kepada tentara yang membantunya. Sebuah kalimat tanya yang mungkin penuh kesanksian, apakah si ibu itu masih bernyawa atau tidak.

Pemandangan ke tiga, tidak kalah menampar saya. Kali ini gambar anak-anak. Satu dari mereka kepalanya masih dibalut, dan di ujung keningnya masih terlihat bekas darah, atau tak tahu apakah itu adalah aliran darah yang masih belum bisa berhenti, dan anak yang lain sepertinya mendapatkan luka serius di bagian perut. Terus terang saya terus berusaha untuk memicingkan mata saya agar gambar perut itu semakin jelas, sehingga tidak perlu menerka-nerka, ada apa dengan perut anak tadi, tapi saya tidak berhasil mendapati gambar itu dengan jelas.

Sampai akhirnya pemandangan itu pun berganti dengan wajah penyiar televisi yang memberitakan berita tersebut, saya masih duduk di depan layar kaca. Bergeming, malu dan merasa menyedihkan, hanya karena kemacetan kota Jakarta selama 2 jam sudah membuat saya lelah. Padahal di seberang pulau, ribuan orang masih berusaha bertahan hidup, berharap akan ada hari esok untuk dirinya dan keluarganya. Berharap titik air mata mereka mengalir mempunyai arti, untuk lebih mengimani hidup, dan hidup lebih beriman. Yang mereka semua panjatkan di bawah reruntuhan gedung yang menggelapkan hari mereka. Yang mereka haturkan, TANPA LELAH.

Hanging there, My Dear Friends…my prayer is always with you…

Saya pribadi mengucapkan bela sungkawa dan prihatin untuk semua korban dan keluarga korban bencana gempa bumi di Bumi Andalas dan sekitarnya. Dan semoga para aparat yang bertugas mendistribusikan bantuan dan juga mengevakuasi para korban diberi kesehatan sehingga dapat bekerja dengan baik.

Saya jadi teringat quote yang diucapkan salah satu tetangga Erica Bain (Jodie Foster) dalam film The Brave One (2007), saat mendapati Erica sedang duduk di tangga kecil di depan gedung apartemen mereka berdua…

“Ada banyak cara untuk mati, tapi kita harus terus mencari cara untuk tetap hidup.”

Tags:

Leave a Reply