Aib atau Prestasi?…

Hmm…mungkin topik tentang pre-marital sex sudah cukup basi sepertinya untuk dibahas. Ada yang pro dan ada pula yang kontra.

Dinamika kehidupan kota besar, apalagi Ibukota seperti kota Jakarta ini memang sangat-sangat cepat. Bisa jadi perubahan terjadi dalam hitungan detik saja, termasuk dinamika dan perubahan pikiran manusianya. Salah satunya, pemikiran tentang seks pra nikah dan/atau seks bebas.

Kalau zaman dulu nih, membicarakan seks saja sudah dianggap suatu hal tabu, dan saru. Beda ‘kan ya dengan sekarang? Pelajaran tentang anatomi tubuh manusia yang membedakan antara perempuan dan laki-laki sudah mulai diperkenalkan sejak sekolah dasar, sex education juga sudah diperkenalkan ke sekolah-sekolah. Dulu, waktu masih zaman saya sekolah, sex education ini sudah diberikan saat saya duduk di bangku SMP, dan diulangi serta ditambahkan materinya saat saya duduk di bangku SMA (*Duuuhh jadi inget tuch film tentang aborsi berjudul Silent Scream*).

Contoh lainnya nih, ya pemikiran tentang seks sebelum menikah. Ini topik memang terdengar basi, tapi mengapa selalu menyebabkan pro dan kontra? Dan hai, kita ‘kan hidup di Ibukota, yang mendapat julukan kota yang tidak ada matinya. Pasti ada kehidupan malam, ada segala kemudahan fasilitas privasi, dari kamar motel, hotel, karaoke plus plus, dan bukannya seharusnya kita satu pemikiran bahwa pre-marital sex atau mungkin malahan free-sex ini adalah hal wajar menjadi salah satu potret kota besar, apalagi dengan segala kemudahan fasilitas tersebut? (*Yang kontra mulai sungut-sungut?*).

Jangan marah dulu, bukan berarti saya pro, atau kontra juga, saya berusaha netral (*Nyari aman hahahahha*).

Mungkin pernah dengar debat atau pendapat seperti di bawah ini, saat topik pre-marital sex atau free-sex ini dilontarkan ke forum…

“Enak ajah, yang laki bisa gitu main colok seenaknya tanpa bekas, trus ngarepin nikah nanti dapet cewek virgin? Dari mana perempuan tau kalo tuh laki masih perjaka?”

“Duuuhhh, anak perempuan kalo dah keilangan mahkota yang satu itu, berarti dia dah keilangan semuanya. Dah sampah.”

“Eh pre-marital sex itu testing dulu kale sebelum nikah. Hahahaha.”

“Kalo hamil gimana? Kan bikin pusing. Belom lagi kalo kena penyakit.”

Dan gong-nya adalah…

“Kan dilarang agama,” (*Daaarrr…skak mat*), walaupun saya lebih setuju jika dikatakan sebagai sesuatu yang sebaiknya sangat dihindari, karena Tuhan memberikan kepada kita pilihan bebas sepenuhnya. Tinggal saat akhir hari kita nanti, Dia yang menentukan apakah pilihan kita itu benar atau salah menurut “SOP”-Nya.

Saya pribadi, tidak hanya mendengar satu dua kali dari beberapa kenalan saya yang bercerita tentang hubungan mereka dengan kekasihnya (*Hehehe, kekasih resmi maupun kekasih “minjem”/ngembat punya orang lain*), tentu sampai dengan cerita-cerita seputar hubungan fisik mereka.

Seru, aneh-aneh, ajaib (*Apalagi urusan gaya-gaya yang dipakai dan tempat mencari sensasi, wakakakakak*). Semakin hari semakin banyak. Semakin hari semakin diceritakan tanpa malu, tanpa ditutup-tutupi, dan dengan nada ringan tanpa ragu.

Saya pribadi menyimpulkan, hmmm…sepertinya sudah bukan hal yang sangat tabu ya urusan yang satu ini, dan di atas pemikiran itu adalah pemikiran apakah virginitas sudah tidak terlalu penting bagi perempuan ataupun pria yang belum menikah? Kalau dilihat dari cerita-cerita yang sempat mampir di telinga saya, sepertinya hal itu bukan hal yang paten untuk didapatkan dari pasangan. Mungkin semua yang penting di atas segalanya adalah masalah hati dan cinta.

Dan jika saya ditanya, apakah hal itu sangat penting untuk saya, mendapatkan pria perjaka untuk dijadikan suami? Saya akan jawab, hahahaha…berhubung manusia seperti itu adanya hanya satu di antara sejuta, maka saya akan katakan saya tidak akan terlalu ambil pusing, as long as dirinya tidak membawa penyakit terhadap saya, dan stop playing around after we married.

Lalu pernah dengar juga kan ya, julukan si perawan tua, bagi perempuan yang sudah dianggap berumur tapi belum juga menikah? Dan bagi sebagian orang, ini merupakan suatu hal yang memalukan. Bahkan cerita yang juga sampai ke telinga saya, ada seseorang yang lebih memilih menjadi janda, daripada perawan tua.

Ada dua pikiran saat saya mendengar julukan perawan tua itu, yaitu: Hmmm…yakin dia masih perawan? Hahahaha. Dan pikiran ke dua adalah, kalau perempuan itu masih tetap perawan hingga umur tertentu, apalagi usia yang dianggap banyak orang sebagai usia tua/telat menikah, wah bukankah itu sebuah prestasi yang membanggakan dan bukanlah sebuah aib yang memalukan? Karena menjaga diri untuk tetap perawan hingga tiba saatnya nanti resmi menikah, saya yakin sangat sulit untuk dilakukan di zaman seperti sekarang ini. Bukan begitu bukan?

Tags: , ,

5 Responses to “Aib atau Prestasi?…”

  1. betull…

    Ciuman pertama itu juga bakal kujaga hingga tiba di depannya Pak Pendeta itu…

  2. warm says:

    tapi, saya tetap jengah membicarakan hal gituan di forum, asli..

  3. adietya says:

    Hi Cha,

    Nice posting anyway…mau nimbrung dikit mumpung topicnya cukup menarik, mudah2an berkenan

    Pre-Marital Sex, ditinjau dari sisi-sisi ketimuran terutama yang menjunjung tinggi Adat Istiadat, Norma Kesusilaan dan Agama memang sangat ditabukan. Seperti halnya perceraian terutama dalam kasus rekan yang memeluk agama Katolik

    Metropolis pun menjadi alasan klise bagi yang penganut Pre-Marital Sex terutama bagi penganut sex bebas. Well gw sendiri seperti Ocha yang tidak Pro maupun Kontra, gw sebagai seorang pribadi selalu menghargai pemikiran dan pemilihan jalan hidup setiap orang, dengan apapun hal yang menjadi dasar keputusan mereka.

    Sekedar share, satu tahun yang lalu gw mendapatkan suatu kasus yang cukup membuat gw sedikit terhenyak dengan segala campuran rasa bingung, heran, geli, concern dan juga penasaran, salah satu sahabat gw sudah menikah kurang lebih selama 3 tahun, sebelum ia menikah ia sama sekali tidak pernah melakukan suatu pre-marital sex bahkan dengan calon suaminya kala itu, suatu kenyataan yang cukup mengherankan ternyata setelah 3 tahun menikah, sahabat gw masih tetap dengan status perawan, dimana sang suami sendiri setelah diperiksa sama sekali sehat dan tidak ada masalah, setelah ditanya ternyata sang suami kehilangan rasa terhadap istrinya, bagi gw itu sebuah alasan yang menggelikan dan sama sekali tidak relevan dengan perlakuan sang suami terhadap istri (kalau tidak cinta dan kehilangan rasa, kenapa harus sampai menikah?!) berbekal dari kasus tersebut, timbul pertanyaan apakah Pre-Marital Sex itu relevan pada masa kini?

    Apapun kasus dan alasan, terutama bagi yang pro terhadap Pre-Marital Sex ataupun sex bebas, gw selalu memberikan masukan untuk melakukan Save Sex, guna mencegah hal-hal seperti STD (Sexual Transmitted Disease) dan juga kehamilan yang tidak direncanakan yang memungkinkan kearah aborsi.

    so, have fun, go wild but stay save…

    Cheerio

  4. virginity itu sih cuman dipermasalahkan sama org2 yg kolot dan tradisional aja sih. kl mnrt gw, kl udh ga virgin jg so what.. well-experienced malah kan.. haha

    udh ah gw kl komen yg ginian, suka bablas bablas hehehe :D

  5. Introverto says:

    @ bandit: ditunggu berita ciuman di depan pendetanya yaaa :)

    @ warm: kalo pembicaraan ini dilakukan di forum, menurut saya ada baiknya juga untuk lebih membuka pikiran orang, dalam arti bahwa virginitas apalagi perempuan bukan suatu yang paten harus didapatkan pria yg mencari istri, atau malah bisa lebih membuka pikiran ya bahwa virginitas memang penting, dan bisa juga jadi mengurangi STDs dan aborsi tho?

    @ adietya: heeeiii…kemana aja? blogmu tak pernah di update lagi ya? :) thank u komennya panjang n keren…gue setuju banget sama apa yang elo bilang di situ…dalam arti masalah pilihan bebas yang harus dihargai n untuk tetep main aman…tapi temenmu itu juga aneh yaaa bouw..buset..3 taon nikah masih virgin..sinting..bener juga kagak usah nikah tau gituh…

    @ eliabintang: yoiiii..virginitas bukan indikator paten…btw..bablas ampe mana? :mrgreen:

Leave a Reply