Kemana Lagi, Nduk?…

Hehehe, tulisan kali ini adalah cerita saya yang sedikit “mendidik” orang tua saya.

Sudah tahu semua ‘kan ya, bahwa saya adalah anak terakhir dari 3 bersaudara? Jarak usia antara abang pertama dengan saya nyaris 10 tahun, dan jarak usia saya dengan abang saya yang kedua 4.5 tahun.

“Waaahhh…enak ya pasti dimanja?”

Saya akan menjawab, relatif. Pasti ada enak ada tidaknya. Namun yang jelas, bernasib menjadi anak perempuan terakhir dan mempunyai dua abang, sering membuat orang lain parno sendiri, dan akhirnya membuat mereka jadi over protective pada saya. Dan yang paling over protective tentu ibu saya. Walaupun semakin tua, saya semakin memahami kenapa beliau bersikap demikian terhadap saya.

Tidak ingin dianggap anak manja, dan kesal karena merasa terkekang, maka saya sering merancang tindakan-tindakan “kriminal” pembangkangkan, atau memberontak. Salah satunya seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan saya sebelumnya. Dan kali ini saya ceritakan beberapa hal lagi.

Hihihihi…(*Ketawa dulu ah, ternyata dari kecil udah ndableg*)…

Kejadian yang saya ingat betul, saya mulai mencoba membangkang, saya lakukan saat saya duduk di kelas IV SD. Saat itu, saya berangkat dan pulang sekolah dengan jemputan. Lalu tiba-tiba, saya bosan naik jemputan, akhirnya saya mengatakan ini pada ayah…

“Pa, aku pulang sekolah naik bis aja lah. Ga usah naik jemputan. Depan sekolah banyak ‘bis gitu.”

Saya sudah tahu kira-kira apa jawaban ayah. Oh ya, for your info, saya tidak pernah bersekolah atau kuliah yang letaknya dekat dengan rumah, kayaknya ga seru sekolah deket rumah, ga bisa klayapan :mrgreen:.

“Ya udah, mulai bulan depan berangkat sekolahnya aja yang naik jemputan, pulangnya naik bis.”

Ternyata perkataan ayah didengar oleh ibu saya, dan pastinya beliau menimpali perkataan suaminya saat itu…

“Gak, enak ajah, tetep naik jemputan.”

“Ngapain sih. Pulang sekolah juga masih jam 12. Masih terang, banyak bis. Bisa hemat, ga usah bayar jemputan.”

“Gak, kamu masih kecil, anak cewek, pulang sendirian.”

“Yang pulang ke arah yang sama banyak kok temenku, jadi ‘kan bisa bareng-bareng satu bis.”

Setelah negosiasi sedikit keras, akhirnya saya diperbolehkan untuk pulang sekolah menggunakan bis kota, walaupun saat itu hari-hari saya sepulang sekolah dipadati kursus macam-macam yang membuat hampir tiap hari ibu menjemput saya ke sekolah (*Sama ajah judulnya*).

Bertambah usia, bukan berarti berkurang juga urusan over protective ini. Dan rancangan “kriminal” saya juga tidak berkurang :mrgreen:.

Kali ini masalah mendapatkan izin untuk pergi ke luar kota, tanpa ada pihak keluarga yang menemani. Semua dimulai dengan perjalanan saya ke Bandung.

Kebetulan selulus saya SMA, satu teman baik saya pindah ke Bandung dan berkuliah di sana. Saya dan beberapa teman saya yang lain, berniat mengunjunginya, karena waktu itu kuliah kami (yang ada di Jakarta) baru dimulai bulan September, dan kalau tidak salah saya pergi ke Bandung itu sekitar bulan Agustus. Ah, bingung juga ini meminta izin pergi ke Bandung, baru lulus SMA pula…

“Ma, aku pergi ke Bandung minggu depan sama anak-anak lain.”

“Ngapain?”

“Ke tempat si Moonceh.”

“Naik apa? Tidur di mana di sana?”

“Kereta, terus nginep di rumahnya Moon.”

“Ya udah.”

Dalam hati saya…

“Loh, segitu doank nih? Hah!”

Perjalanan berikutnya tetap ke Bandung, tapi kali ini, saat saya sudah bekerja. Kebetulan waktu itu bos saya sedang cuti, jadi saya malah bisa sebentar melarikan diri dari penat dengan semua printilan rutinitas. Tanpa pikir panjang lagi, saya  yang saat itu sedang di kantor, mulai mengisi formulir cuti, dan meminta persetujuan kepada si pengganti bos yang sedang cuti. Lalu, saya angkat telepon dan menelepon agen perjalanan yang biasanya.

“Mbak, Argo Gede, besok donks yang siang. Langsung anter ke kantor ya hari ini.”

Dan begitu sampai rumah…

“Ma, aku besok ke Bandung.”

“Ngapain?”

“Bosen di Jakarta.”

Dan hehehehe…kembali sepertinya ibu saya tak bisa berkata apa-apa.

Cerita kluyuran keluar kota berikutnya, yaitu ke Manado. Sudah pernah baca tulisan saya tentang liburan saya ke Manado saat saya menyusul dua orang gila, Karin dan Rully waktu itu ‘kan ya?

Setelah tiket di tangan, barulah saya memberitahukan orang rumah, bahwa saya akan pergi ke Manado. Ya, kira-kira dua hari sebelum berangkat lah.

“Lusa aku ke Manado ya.”

“Hah, ngapain?”

“Maen, liburan. Mumpung Karin di sana jadi ada temennya, and bisa nyambung ampe long weekend. Plus tiket lagi super murah 1.2 juta pulang-pergi.”

Kembali ibu saya tidak bisa berkata apapun, walaupun raut mukanya seperti melihat penampakan tante kunti, mengetahui anak perempuannya yang super ndableg.

Ini adalah perjalanan pertama saya bepergian dengan pesawat ke Sulawesi seorang diri. Sedikit jiper juga sih, saat penerbangan saya ditunda 4 jam karena Manado hujan deras dan menyebabkan pesawat tidak bisa mendarat, bahkan pesawat sebelumnya harus kembali ke Makassar, padahal sudah sampai ke Manado dan tinggal mendarat. Tapi untunglah tak terjadi apa-apa.

Wajah ibu pun berganti sumringah saat saya pulang membawa Kepiting Kenari dan satu loyang Klappertart.

Namun, baru hari Minggu saya kembali dari Manado, hari Jumatnya saya sudah pergi lagi ke Bandung, ke rumah sahabat saya. Kembali ibu saya hanya bisa mengucap doa untuk anaknya yang satu ini :D.

Dari tahun 2003-2007, orang tua saya bisa cukup tenang karena saya tak bepergian ke luar kota secara mendadak. Itu pun kebanyakan karena saya sibuk kuliah.

Tapi di tengah banjir bandang kota Jakarta tahun 2007, saya berhasil diantar oleh ayah dan abang saya ke dua menembus Tol Dalam Kota yang masih banjir, dan meninggalkan ibu dengan kekhawatiran sangat tinggi, untuk terbang ke Bali.

Saya ingat betul, saya dan ibu saat itu sedang di dapur, saat saya ingin mengatakan bahwa dua hari lagi saya akan pergi ke Bali. Dan di luar sana, hujan badai masih belum berhenti mengguyur Jakarta…

“Lusa aku ke Bali ya. Tiket dah di tangan, sayang kalo ga kepake.”

Respon ibu hanya pergi keluar dari dapur. Hihihihi, kali ini saya yang pucet, tapi apa daya hasrat pergi ke Bali sudah tak tertahankan.

Belum selesai urusan pergi-pergi ke luar kota lagi.

November 2007, saya mempunyai kesempatan untuk pergi lagi ke Bali. Saya memberitahukan ke ibu dan ayah juga seperti biasa, berjarak dua hari sebelum keberangkatan. Mereka pun bertambah pasrah. Dan yang menjadi gong-nya adalah saat kepergian saya ke Bali Februari tahun 2008, di mana saya baru memberi tahu ibu bahwa saya akan terbang ke Bali saat 4 jam sebelum saya harus berangkat menuju bandara, dan memberitahukan ayah, 2 jam sebelum saya harus mulai berangkat menuju bandara. Dengan kata-kata yang sangat singkat…

“Ntar aku terbang ke Bali ya.”

Dan mereka berdua sudah sangat pasrah, mungkin sembari berpikir “Anak gue bukan pramugari ‘kan ya? Yang lagi dapet tugas mendadak?”

Mungkin mereka atau kalian yang membaca tulisan saya ini akan menilai saya anak kurang ajar, tak tahu sopan dan berbagai macam caci-maki yang akan terlontar untuk saya. Terus terang saya juga berpikiran demikian. Saya akan terima segala caci-maki itu, tapi dengan segala “pembenaran” versi saya sendiri, saya menganggap bahwa itu adalah cara saya memberitahukan ke orang tua saya, bahwa mereka tidak perlu terlalu khawatir “melepas” saya. Mereka harus percaya pada saya, bahwa saya akan dapat survive di luar sana, karena bekal dari mereka itu sebenarnya sudah lebih dari cukup, dan sekarang masalah bagaimana saya menerapkannya di kehidupan sebenarnya. Berhubung saya tidak mampu mengutarakan hal ini secara langsung kepada mereka, jadi dengan bersikap itu lah saya mengutarakannya.

Dan sepertinya metode ini cukup berhasil untuk saya. Setidaknya saya sudah mempunyai keleluasaan lebih banyak dibandingkan dulu.

Tidak hanya anak yang harus belajar dari orang tuanya, tapi orang tua juga harus bisa belajar dari anak-anaknya ‘kan? Apalagi anak seperti saya :mrgreen:.

—-

Kata ibu dan ayah saya, beberapa kali saat memperkenalkan saya ke teman-teman mereka kalau sedang bertemu mereka di suatu tempat…

“Iya, ini anak saya paling kecil.”

Lalu kadang-kadang diselipkan satu kalimat lanjutan “Tapi paling bandel.”

Dan saya pun hanya bisa nyengir asin plus bangga :lol:.

Tapi ada perkataan lain si ayah yang membuat saya “terbang”. Sesudah beliau berhasil melewati masa kritis penyakitnya dan sudah hampir pulih ke kondisi seperti sebelum sakit, beliau mengatakan hal ini saat bicara di telepon dengan temannya…

“Ya sak’iki aku dah lumayan. Waktu aku sakit anakku yang paling kecil yang paling kritis, crigis, takon-takon dokter’e sampe detil. Obat itu untuk apa, masukin ke tubuh gimana, fungsinya untuk apa, efek sampingnya apa, kalo ga dikasih kenapa. Terus dia yang nyampein ke aku, aku harus gimana ntar dirawat. Crewet tenan, tapi bagus.”

Dan dalam hati saya…”Weeeiittss…bandel-bandel berguna juga ‘kan? Hahahahaha.”

Anywayyy…love you Mom, Dad!!! :D

Tags: ,

14 Responses to “Kemana Lagi, Nduk?…”

  1. Sampai dewasa, akan tetap disebut sebagai “anak yang paling kecil” — bukan “anak yang paling muda”. :)

  2. ipied says:

    wah mbak haha kayak kutu loncat ndak bisa diem, tapi enak ya bisa kemana2 dan ijinnya juga gampang hihih kalo aku biasanya yang riwil itu bapakku, pergi ke mana, nginep di mana sama siapa.. wess panjang bener deh.. pulang kapan :))
    mungkin gara2 dulu 6 tahun tak tinggal ke surabaya kali ya :p

    btw, met lahir batin ya mbak… maap kalo punya salah ya :D

  3. Introverto says:

    @pamantyo: sepertinya sih akan kayak gituh…*naseebbb*

  4. bandit sp™ says:

    ahahaha… bandel betullll…. :D

  5. Introverto says:

    @ipied: gampang dari mana? dibuat gampang sama gue iya…kalo ga gituh duh…bakal jd anak rumahan dari dulu… :mrgreen:

  6. Introverto says:

    @bandit: saya ndak bandel kok…mencoba membuat yang lain melihat sesuatu yang baru aja :D

  7. Olivia says:

    bandel itu artinya mau belajar dari hidup

    salam badung! :D

  8. devi says:

    selama bandelnya maish taraf wajar sih nggapapa jeng..
    kalo kata mama papaku, ngasuh & mendidik anak itu ibarat main layangan. Kalo pas anginnya bagus kasih dia kebebasan menari-nari di udara, kalo pas anginnya buruk tarik dia, selmatkan layangannya..
    Kurang lebih gitu.. Hasilnya? ya gini deh.. jadi anak ALAY.. :D anak layangan..
    *mlipir main gundu*

  9. Introverto says:

    @olivia: hahahahaha…untung emak bapak gue ga dapet anak kayak elo liph hahahaha…

    @devi: yoi…ternyata bakat alay itu turunan juga tho yo? nah kalo situ bukan alay..tapi agun..anak gundu? :lol:

  10. dulu aku anak rumahan (sekarang anak kost-an) :D
    dari TK-SMA, sekolahnya di seputaran rumah, dan benar skali, ndak bisa keluyuran dan uang saku pun sgitu2 aja, tapi aku pernah sukses ndak pulang selama sminggu, nginep di sekolahan :D

    giliran udah kerja, kalau bepergian pamitnya ya kalau ndak pas sdh di bandara ya pas sudah sampe di tempat tujuan (itu mah bukan pamit, dodol) :p

  11. Olivia says:

    @ocha: HAHAHAHAHAHAHAHAHA… saya kan anaknya kalem, baik2 kok di rumah HAHAHAHHAHAHAH

  12. Introverto says:

    @cling: eerrrr…caramu itu kira2 pengen aku coba deh…hahahaha…:mrgreen:

  13. lembah says:

    wah ceritanya lucu sayang saya tidak mempunyai jiwa pemberontak seperti anda

  14. Introverto says:

    @ Lembah: Cobain deh sekali2…menyenangkan kok :D

Leave a Reply