What? Ndak Boleh?…

Hidup di zaman yang sudah sangat berbeda dan dengan segala macam perkembangannya, memang membuat manusia-manusia berbeda generasi sulit untuk beradaptasi. Termasuk saya dengan ibu dan juga sebaliknya. Tak jarang masalah gagalnya kami beradaptasi satu dengan yang lain, membuat kami menjadi cranky tak karuan.

Salah satu masalah adalah hal-hal tabu, tak elok, tak pantas saya, selaku anak perempuan (paling kecil pula) lakukan. Dan, seperti biasanya, hal-hal yang dianggap tabu oleh orang tua, sering tidak masuk di akal, bahkan aneh menurut saya. Parahnya, hihihi kadang malah hal itu menjadi sebuah hal yang membuat saya penasaran, kenapa sampai dikategorikan sebagai hal tabu.

Cerita saya di bawah ini adalah contoh yang dari awal saya dilarang, saya sudah memberontak dalam pikiran, dan mulailah malah merancang tindakan “kriminal” :mrgreen:.

“Anak perempuan ga pantes main ke rumah cowok. Masakh cewek duluan.”

“Whhhhhaaatttt? Apa sihhh? Bentar…kenapa? Apa yang salah? Even cuma temen gitu?” yang semuanya itu hanya ada di otak saya. Tak mungkin sepertinya semua itu saya keluarkan. Bisa panjang urusannya.

Bukan Ocha kalau yang namanya larangan malahan menjadi sebuah tantangan. Semakin dilarang semakin penasaran, kecuali kalau saya sudah terantuk dengan resiko yang pada akhirnya saya anggap masuk akal terhadap larangan tersebut.

Kunjungan pertama (atau setidaknya yang saya ingat sebagai yang pertama) saya ke rumah teman laki-laki saat saya kelas 3 SMP. Saat itu saya dan beberapa teman lainnya ingin…(*Bentar gue ketawa dulu, alesannya norak n klise banget ini soalnya*),…ingin menyalin catatan seorang teman yang lengkap untuk ulangan beberapa hari kemudian (*God, I still remember that?*). Tapi dasar ABGeh, di sana tak ada satu pun dari kami yang menyentuh buku, malahan kami berjalan beramai-ramai menuju AMPM untuk beli makanan, lalu kembali ke rumah dan kongkow-kongkow di sana. Dan untuk saya pribadi, saya mempunyai alasan tersendiri mengapa saya ke sana saat itu, apalagi kalau bukan urusan meng-entertain dunia cinta permonyetan ABGeh (baca: PE-DE-KA-TE).

Plesiran saya hari itu, pasti membuat saya menjadi pulang terlambat sampai di rumah. Bahkan seingat saya, malahan saya mendatangi kantor ayah, dan pulang bersama beliau.

Sampai rumah, sudah pasti saya diinterogasi oleh ibu. Dan pastinya juga saya tidak mengakui sepenuhnya kegiatan yang membuat saya pulang terlambat hari itu.

“Ke rumah temen, nyatet catetan yang ketinggalan.”

Untungnya ibu tidak menanyakan lebih lanjut ke rumah teman yang seperti apa saya tadi pergi.

Itu yang pertama. Selanjutnya masih ke rumah orang yang sama, dan kali ini dengan tujuan lebih spesifik; sebelum resmi pacaran, ya dalam rangka PE-DE-KA-TE, dan setelah resmi pacaran, ya pacaran di sana, kadang bersama dengan beberapa teman, kadang saya sendirian. Dan pasti di rumahnya ada orang lain selain dirinya.

Lucunya, saat saya dengan dirinya sudah tidak lagi pacaran, sempat saya dan beberapa teman berkunjung ke rumahnya, untuk kongkow-kongkow tak jelas. Saya ke rumahnya itu siang hari, setelah paginya saya pergi dengan salah satu abang saya. Kebetulan saat pulang ke rumah, rutenya pasti melewati rumahnya ini. Saya pun minta dituruni oleh si abang yang mengendari mobil, tepat di depan rumah si mantan pacar.

Melihat si abang yang tak pulang bersama saya, kontan ibu langsung menanyakan keberadaan saya.

“Rosa mana?”

“Tadi turun di rumah…,” yang pastinya si abang saya menyebutkan nama mantan pacar saya.

“Ngapain?”

“Maen paling.”

Sudah bisa dibayangkan ‘kan ya, bagaimana interogasi si ibu sesampainya saya di rumah?

“Bla, bla, bla, bla…”

“………….” saya pun diam membisu, sambil bicara dalam hati “Yah, Ma, telat banget deh marahinnya. Dah sering kaleee.”

Saya yang tak mendapatkan alasan bahwa larangan itu masuk akal (jika dibandingkan dengan kemampuan saya untuk jaga diri), maka saya pun tak repot untuk urusan yang satu itu. Apalagi semakin beranjak dewasa (*Haallaaagggghh*), saya sudah semakin bisa memisahkan mana yang baik untuk saya lakukan mana yang tidak (*Hihihi, tapi tergantung godaan juga sih*). Bahkan beberapa kali saya sempat menginap di rumah teman saya yang laki-laki (*Cattteeett!! TEMEENN!!*).

Pertama kali, saat malam tahun baru 2003, saya dan teman-teman satu divisi merayakannya di salah satu rumah teman saya yang saat itu sudah menikah. Kedua, saat saya dan teman-teman kuliah terpaksa menginap di rumah teman saya, untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah keparat. Ketiga, akhir tahun lalu, saat saya dan tiga orang gila bermain kartu sampai pagi, dan kesanggupan fisik ini untuk berjalan ke rumah orang gila lainnya, sudah tak memungkinkan. Dan yang terakhir, awal tahun ini, saat saya terpaksa menginap, karena sesi curhat dan “rapat konspirasi” saya dan dua orang gila lainnya baru selesai jam 2 pagi, dan jarak antara rumah 2 orang gila itu (yang kebetulan saat itu masih berada dalam satu kompleks dan satu cluster) dengan rumah saya sungguh jauh…

“Eh elo nginep kan ‘Cha?”

“Liat ntar, kalo ntar ngobrol-ngobrol kita cepet, ya salah satu dari kalian nganter gue pulang lah ya. Jagorawi-JORR nanti maleman pasti dah sepi,” yang saya tahu persis pernyataan itu adalah pernyataan retoris.

“Dah lahh, ga usah pulang lu. Gue capekh nih, gak kesian lu ama gue yang perlu cerita-cerita.”

Dan ternyata benar. Duduk di ruang makan itu, berhadap-hadapan dengan jam dinding yang saat itu saya lihat sudah lebih dari jam 12.00 malam, rasanya tak mungkin salah satu dari mereka mengantarkan saya pulang, karena mereka esok harinya harus bekerja.

“Untung gue bawa baju. Ngobrol ama kalian ga pernah sebentar.”

Jam dinding yang sudah menunjukkan angka 02.00, terpaksa menyudahi obrolan kami saat itu…

“Dah, si Ocha nginep rumah kamu aja ya, kalo nginep sini ga aman dia,” ucap salah satu orang gila yang rumahnya kami jadikan tempat “rapat konspirasi”.

“I know, di sini gue ga bakal selamet,” saya menimpali ucapan tadi sambil bercanda, yang dilanjutkan dengan ucapan “Tapi di rumah lu gue tidur mana? Kamar lu kan atu lagi jadi gudang,” sembari melihat ke arah orang gila lainnya.

“Di kamar bawah aja, bertiga ama anak gue,” dan kalimat itu membuat saya sedih, karena biasanya kalau saya menginap di sana, kami tidur berempat di kamar yang sama. Tapi saat itu, satu orang (yang gila juga) sedang tidak bisa berada di sana, karena sedang dirawat di rumah sakit.

“Okay. Jadinya gue bisa slamet pulang besok, daripada kalo di sini,” sambil saya menjulurkan lidah ke arah si gila satunya.

(*Geeezzz…sekitar gue isinya orang gila semua ternyata. Termasuk gue sih sepertinyah.*)

Anyway…setelah menjabarkan cerita penting sampai cerita colongan yang benang merahnya jauh dari inti cerita, saya hanya ingin katakan bahwa, kadang hal-hal yang dianggap tabu untuk dilakukan, itu tidak begitu adanya, tidak perlu dianggap sebagai hal yang tabu. Tidak ada yang salah untuk perempuan bertandang ke rumah teman laki-laki, atau bahkan ke rumah pacar sekalipun.

Setelah saya pikir-pikir, mungkin ini semua berkaitan dengan adat Jawa konservatif. Perempuan harus pasif, nrimo, tak boleh nduluin, harus nunggu, bisa jadi buah cibir oleh orang yang melihatnya. But harrreee gggeeennneee? Who cares? At least I don’t, atau setidaknya setahu saya mereka yang saya datangi rumahnya tak berpikiran demikian.

Mungkin yang bisa dikatakan salah adalah kegiatan yang dilakukan di rumah tersebut. Kalau untuk urusan yang satu ini, mau bertandang ke rumah perempuan ataupun laki-laki, kalau melakukan kegiatan yang aneh-aneh, lalu tidak bisa bertanggung jawab, ya tetap salah.

Intinya, selama kita bisa jaga diri, ya tak masalah ‘kan ya? (*Ssssttt…sama satu lagi, main aman!* :lol:)

Dan untuk para orang tua apalagi yang produk jaman dulu banget, “Ya, kalo ngasi tau sesuatu itu pake alasan make sense gitu loh. Jangan cuma asal ga boleh. Trus hehehe larangan itu bisa jadi tantangan untuk si anak looo!”

Lalu, hmmm bukan sok menggurui, saya cuma pengen ngomong usahakan “Stay away from drugs and free sex.

Untuk urusan free sex itu, memang urusan masing-masing pada akhirnya, kalau memang sudah dipikirkan masak-masak dan akhirnya menjadi pilihan yang diambil untuk dilakukan sebelum menikah, ya stay save aja ya. Jangan sampai aborsi jadi pilihan dan penyakit aneh-aneh jadi teman hidup.

Tags: , , ,

2 Responses to “What? Ndak Boleh?…”

  1. Olivia says:

    sex drug rock and roll!! yihaaa

    sama nek, gue juga sering tuh break tabu, soal main ke rumah laki, pulang pagi, de el el. hahahahaha.

    betul, gue setuju, asalkan kita bisa jaga diri aja

    stay smart and rebellious :D

  2. Huang says:

    Kejadian gag bisa di protect, at least using condom :D

    Hahaha :D

Leave a Reply