Satu dan Lain Hal, Itu Semua Nyambung Gak Ya?…

Kemarin dalam  jangka waktu kurang dari 12 jam, buku Perahu Kertas karangan Dee Lestari, sudah selesai saya santap. Entah mengapa, sejak buku pertamanya, Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, hingga Perahu Kertas yang ia terbitkan terakhir ini, saya selalu betah bertahan hingga selesai membaca buku-bukunya (padahal ini hal langka bagi saya dalam membaca sebuah buku). I’m one of her fans. Mungkin karena gaya bahasa penulisannya memang saya suka dan menyenangkan, juga isi dan jalan cerita yang dikemas sedemikian rupa hingga sama sekali tak membosankan. Meskipun hati saya tetap pada seri buku Supernova (Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh; Akar; Petir) karyanya. Saya terlanjur jatuh cinta pada tiga buku pertamanya. Jatuh cinta pada semua tokoh dan setting cerita di sana.

Namun membaca Perahu Kertas kali ini, saya juga mendapatkan sesuatu dari sana. Apalagi cerita Perahu Kertas ini adalah cerita tentang impian penulis, yang dipadu dengan cerita cinta romantis antar tokoh dalam cerita.

Kali ini saya ingin sedikit menghubung-hubungkan cerita Perahu Kertas dengan kehidupan yang saya lihat sehari-hari, dan mungkin kehidupan saya sendiri.

Beralih sebentar dari Perahu Kertas, saya teringat tulisan si cungkring di salah satu blog yang ia kelola. Ia menuliskan daftar rentetan norma kenormalan hidup di tanah Indonesia ini.

Salah satu yang ia tulis di sana adalah mengenai pekerjaan yang dianggap laik disandang oleh masyarakat Indonesia. Menurutnya dalam tulisan itu, dan hal ini saya setujui sepenuhnya, pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan laik adalah pekerjaan kantoran, pekerjaan kerah putih, yang berarti seni masih sering tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan, “Seniman dapat duit dari mana sih,” atau “Kerjaan seniman kan ga tentu, kadang ada duit, kadang seret, bisa-bisa malah kere, kalo ga ada order.” Dan pekerjaan seni di sini berarti termasuk musikus, penyanyi, penari, komedian, artis, pemain panggung sandiwara, pembawa puisi, dan juga penulis.

Kembali ke Perahu Kertas. Dua pencinta seni, Kugy dan Keenan. Kugy yang mencintai menulis dari kecil dan bercita-cita ingin menjadi penulis dongeng, dan Keenan yang sungguh mati mencintai dan hidup untuk melukis. Namun keduanya harus sedikit pasrah dengan tuntutan realitas yang mengharuskan mereka sementara menidurkan impian untuk menjadikan passion-nya tersebut menjadi sebuah profesi. Dengan alasan, yang sempat juga dibenarkan oleh mereka (Kugy-Keenan), bahwa menulis dan melukis tidak akan menghasilkan uang, tidak akan dapat menghidupi mereka.

Pahit? Pasti! Karena mengerjakan sesuatu yang bukan disenangi, adalah sebuah tangis, siksa, derita, penjara tiada akhir. Lengkap, tak terbantahkan!! Apalagi jika kita telah menyetujui mengambil pekerjaan yang tidak kita senangi tersebut, setelah kita mengerti betul, yakin, bahwa hati kita tidak akan di sana, tapi di tempat lain. Luar biasa menggilanya.

“Jeritan hati ‘Cha?”

I’m going to say yes. Saya mungkin salah satu dari Kugy-Kugy di luar sana. Kugy yang ingin menghasilkan nafkah dari menulis. Kugy-Kugy yang masih meniti cara untuk dapat mewujudkan pekerjaan impian mereka, yang jauh dari kata mudah. Masih mencari celah untuk bisa bekerja sesuai dengan passion.

Dan kali ini saya akan melirik ke arah cungkring sambil berkata padanya “Bener gak, Cung? Setuju kan loe? Pengen dapet duit dari nulis?” Oh ya, Cungkring itu juga salah satu Kugy yang saat ini sedang mendapatkan kesempatan menjadi Kugy secara total dalam menghasilkan tulisan apa saja yang nyangsang di hati dan otaknya. Namun ia harus sedikit pusing, jika sudah memikirkan biaya hidup di kota Jakarta yang super dahsyat mahal dan banyak godaan, karena ia baru saja resign dari pekerjaan kerah putihnya sebagai pegawai kantoran, tanpa ada pekerjaan lain di tangan terlebih dahulu.

Ketakutan banyak orang bahwa pekerjaan seni tidak menjanjikan penghasilan yang tetap setiap bulannya memang benar. Kecuali jika dalam berkarya seni tersebut, pekerja seni menandatangani kontrak untuk jangka waktu tertentu, yang bisa membuat mereka bernapas lega sebelum kontrak berakhir. Namun untuk pekerja seni lepasan, yang tak mendapatkan kontrak tertentu, kemungkinan besar mereka akan kelimpungan mencari job order, apalagi kalau mengingat mereka pasti punya tanggung jawab untuk setidaknya menghidupi diri mereka sendiri.

Stres yang dihasilkan dari job order tidak hanya terjadi saat permintaan sedang sepi, tapi juga tergantung dari mood pekerja seni tersebut.

Dalam Perahu Kertas, terlihat sekali, bahwa keinginan atau totalitas Kugy menulis atau keinginan dan totalitas Keenan saat melukis, sangat-sangat dipengaruhi oleh mood mereka. Kugy lebih memilih berlari sebentar dari proyek karyanya bersama Keenan menerbitkan buku dongeng yang berilustrasi, karena ia sakit hati saat tahu bahwa Luhde, kekasih Keenan yang ia temui di Bali, adalah malaikat sempurna untuk Keenan, yang membuatnya harus berani merelakan Keenan untuk Luhde. Ataupun Keenan yang kehabisan inspirasi melukis, saat semua cerita dalam coretan cerita dongeng Kugy sudah habis ia lukis. Dan ia tak bisa melukis dengan inspirasi lain, karena cinta Keenan ada pada cerita dongeng karya Kugy, ada pada hatinya Kugy, sedangkan saat itu Keenan sedang menghilang dari Kugy.

Kembali tentang saya. Saya tahu bahwa saya memiliki passion luar biasa di dunia tulis-menulis ini. Passion yang sekaligus saya jadikan sebagai ajang katarsis. Namun bukan berarti saya tak pernah buntu ide, tak tahu apa yang harus saya tuliskan, walaupun banyak hal yang menghampiri saya setiap harinya. Tak sedikit orang yang berinteraksi dengan saya setiap hari, baik secara langsung maupun melalui dunia maya.

Dan jika kamu perhatikan, isi blog saya ini juga beraneka ragam. Tak ada yang sama. Kadang saya menuliskan pengalaman pribadi. Kadang tentang cerita orang lain atau tentang liputan sekitar. Kadang menuliskan artikel atau sebuah tips. Bahkan puisi roman picisan, dan terakhir cerita bersambung psycho series yang sempat membuat saya tambah sakit kepala. Perubahan jenis cerita yang saya tulis di blog ini, semuanya tergantung dengan mood. Apalagi saya ini adalah salah satu makhluk moody.

Bisa dibayangkan ‘kan ya, jika seorang pekerja seni yang terikat kontrak harus menyelesaikan suatu karya dalam tenggat waktu tertentu, atau harus tampil dalam sebuah event, tapi ia kehilangan mood-nya? Setengah mati juga bukan itu?

Dari urusan mood, sekarang kita beralih ke urusan karakteristik.

Kemarin saya menganalisa kecil-kecilan sesuatu hal, yaitu karakteristik dari teman-teman saya yang mengelola blog dengan telaten. Hasilnya adalah tujuh dari tujuh pemilik blog (termasuk saya) yang kebetulan teman-teman di almamater dan fakultas yang sama dengan saya, mempunyai karakteristik introver. Walaupun blog-blog kami pasti berbeda isi dan gaya penulisannya. Si cungkring yang sekarang lagi hobi menulis puisi filosofisnya, si blogger seksi yang sering menuliskan jurnal hariannya dengan bahasa sederhana tapi membuat pembaca berpikir, atau si piano jepang dan si concierge hantu yang sangat piawai menumpahkan pikirannya dalam ilustrasi, si cowok religius yang sering sekali menuliskan blog dalam bahasa Inggeris, atau si gadis kuning yang berceloteh riang dengan bahasa sehari-hari saat menuliskan ceritanya dalam blog.

Kami bertujuh sama saja dengan Keenan, yang dituliskan secara eksplisit bahwa ia mempunyai karakteristik introver, dan Kugy, yang menurut hasil analisa saya sendiri, setelah membaca buku itu hingga habis, juga mempunyai karakteristik introver (walaupun tidak disebutkan secara eksplisit oleh Dee Lestari). Mereka berdua sulit untuk menerangkan apa yang ada di hati dan pikiran mereka secara omongan langsung, tapi mereka mengemukakannya melalui media lain. Simply karena mereka, dan kami, atau setidaknya saya, sebenarnya tidak tahu secara persis apa yang diinginkan di dalam hati dan otak, dan pada akhirnya, mereka, kami, atau saya meminta orang lain mencoba mengerti dari apa yang telah diungkapkan melalui media lain itu, kalau perlu tanpa ada penjelasan lagi.

And since an introvert itu sering merasa sulit mengerti diri sendiri yang pada akhirnya mereka akan bingung setengah mati harus melakukan apa terhadap diri sendiri, tentunya ini akan mempengaruhi mood-nya mereka juga.

Kesimpulan hasil analisa saya ini, dari hipotesis yang mungkin ngaco mungkin benar, dan tanpa dilakukannya pembuktian yang sahih, saya melihat bahwa antara karakteristik introver yang cenderung sulit untuk memahami diri sendiri, akan mempengaruhi mood, dan ini akan sangat berpengaruh bagi pekerja seni untuk berkarya. Lalu hal ini dapat menimbulkan stres karena tak bisa menghasilkan karya pada tenggat waktu tertentu, atau dapat mengakibatkan job order yang tak menentu. Dan parahnya, apakah semuanya itu yang mengakibatkan norma yang berlaku di Indonesia, bahwa pekerjaan seni tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan yang menjanjikan? Hahahahah…pikiran nyleneh sih memang, tapi setidaknya itu yang ada di otak saya saat ini.

Oh ya satu lagi, apakah semua di atas itu juga ada hubungannya dengan very late night person ya? Masalahnya kemarin jam-jam segini ini (02.50 dini hari) saya masih melihat tebaran tweet dari saya sendiri, si cungkring, si blogger seksi (dari hasil tweet, diketahui bahwa kami bertiga sedang membaca buku berbeda di tempat kami masing-masing) dan si concierge hantu, sedangkan hari ini tweet dari saya, si cungkring dan gadis kuning yang mewarnai halaman Twitter saya.

Dan saya jadi teringat salah satu tweet dari Radityadika (id twitter: radityadika) penulis Kambing Jantan yang ditujukan pada Dee Lestari (id twitter: deelestari), beberapa hari lalu: Is a writer a loner?

And the answer is…errr…terus terang saya lupa tweet balasan Dee Lestari saat itu, tapi sepertinya memang mengarah ke sana ya…hahahaha…

Terakhir yang ingin saya ungkapkan adalah saya setuju dengan Kugy, kalau ada celah sekecil apapun yang akan mengantarkan saya untuk mewujudkan impian saya, saya rela untuk meninggalkan apa yang saya kerjakan sekarang.

—-

“Untuk Dewi Lestari, I’m waiting for bundelan masterpiecemu Supernova Series, karena satu dan lain hal, seri 1 dan 3 nya ga ada lagi di rak koleksi buku saya.” (*hhhuuuu…hhuuuuu*)

8 Responses to “Satu dan Lain Hal, Itu Semua Nyambung Gak Ya?…”

  1. dita.gigi says:

    huuhuuhuu… dita juga penggemar dee… dan supernova series ku pun sudah tak lengkap lagi… T_T *toss*

    mau beli/baca perahu kertas ndak sempet2, sepertinya bagus sekali yaa.. banyak banget yg ngereview bagus dan mendapatkan pencerahan setelah membacanya, berarti must have book nih…

    ntar deh abis libur lebaran… :lol:

  2. Olivia says:

    we are a loner.

    mentor gue pernah bilang ke gue, “kalau jadi penulis, harus siap untuk ngadepin resiko terasing”

    it’s either I love to write then I’m a loner or I’m a loner then I write.

    man, how I like James Joyce. biar dibilang diving schizophrenic sama Jung, tetep aja. he’s a loner, and through this, he swam to the border of madness, and profoundness and beauty radiated through his words.

  3. ade says:

    Diriku juga lagi baca perahu kertas nih, start jam 12 skrg dah hal 326 =P, bgini nih kalo udah baca bukunya dee…
    Btw, salam kenal ya…

  4. Introverto says:

    @dita.gigi: Hahahaha…iya tuch…tetep loh dari semua bukunya Dee Lestari, Supernova Series yang paling gue cinta Dit…so kita tunggu bundelannya yak…

    @olivia: yoi berat…nyaris seperti manusia gua…

    @ade: dah selesai dounks bacanya sekarang? bagus ga Perahu Kertas?

  5. goyathlay says:

    write, then i’ll buy your books.

    i am, in fact, one of your biggest fan. :)

  6. Introverto says:

    @goy i know you are my biggest fan…from the first time we met *nyodorin kantong muntahan* wakakakakakakak…wish me luck…masih panjang titian yg harus gue tempuh untuk mencari celah kecil ituh…

  7. goyathlay says:

    @i’in, duilllleeeeeehhhhhhh…. cih! kalimatnya puitis kaleeeee… hmmmm.. annie arrow yah mbak nama penanya? :)) :)) :)) :)) :))

  8. Introverto says:

    @ Goy: gue ga mau ngembat2 nama tengah lu Goy…Annie Arrow itu kan nama kehormatan lu bukan? Ndak berani gue ngambil dari elo…takut kualat… :p

Leave a Reply