Di Antara 1 dan 4 Cinta (6)…

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia Di Atas 18 Tahun

Baca cerita sebelumnya Di Antara 1 dan 4 Cinta (5)

___

“Yay…ternyata toko kuenya masih buka. Cheese cake..Me love cheese cake so much. Beli dua ah.”

Dalam hitungan kurang dari lima langkah, Laras sudah berada di depan toko kue yang ia maksud.

“Mbak, saya minta cheese cakenya 2 yah.”

“Makan sini atau?”

“Di bungkus aja, mau makan di kamar.”

Sementara Laras menunggu pesanannya dibungkus ia mendengar seseorang menyapanya…

“Ras…”

“Hei, loh kamu nginep sini Mi?”

“Iya, kantorku lagi ada workshop di sini sampe besok.”

“Ohhh. Seksi sibuk workshopnya atau ngikut doank?”

“Dua-duanya.”

“Si bos sepertinya mbak ini, hehehehe. Di lantai berapa Mi, kamarmu?”

“Lantai 12. Kamarmu?”

“Gak jauh lah dari sana. Kamu mau beli kue juga?”

“Iya lagi bingung mau milih apa. Errr…Ras…”

“Apa Mi?”

“Do you really love Mas Ram?”

“Yah, off course I love him. Why did you ask me that?”

“Coz I still do love him so much.”

“So why didn’t you say yes when he asked you to marry him?”

“I have my own reason.”

“Your fam? Bukannya kalau di tempatmu, di sebuah pernikahan, yang meninggalkan keluarganya itu yang perempuan ya, bukan yang lakinya? Correct me if I’m wrong.”

“Saya nyesel. Saya ga berani bertindak saat itu, untuk lebih milih Mas Ram.”

“So that’s your fault not mine.”

“But I still want him, Ras. I know that you’re not better than me. Kamu ga laik dampingin si Mas. Saya tahu siapa kamu. Kamu bener-bener ga pantes buat dia. Gak boleh dapetin dia, gak pantes nikah sama dia.”

“Kerusuhan apa lagi ini, kurang dahsyat sepertinya hari ini untuk gue” pikir Laras sambil menyiapkan jawaban balasan untuk hujatan Mia barusan.

“Yang tau persis nilai pantes atau gaknya aku sama Mas Ram, ya cuma Mas Ram ama Tuhan, Mi. Saya cuma ditanya mau atau ga untuk dampingin hidupnya dia nanti, dan so far saya yakin saya bisa, ya sudah, saya jawab iya atas pertanyaanya. Saya ga mau melakukan kesalahan yang sama kayak yang kamu lakukan dulu, menye-menye ngeselin kayak gitu. Ya udah ya Mi, we’re done. Saya mau bayar kue yang saya pesan.”

“You’re not going to get married with him, Ras. Saya ga akan membiarkan hal itu terjadi.”

“We’ll see, Mi. Ohh ya, don’t worry, we’ll invite you. Wait for the invitation yah. Bye.”

Laras akhirnya meninggalkan Mia sambil sedikit menggerutu dalam hati, “Psyyyccchoooo!!! Kenapa sih nih perempuan-perempuan? So pathetic. I need cigarette badly. Saatnya mencari toko yang jual rokok. Mini market di sana itu masih buka tak ya?”

***

Laras sudah berada di kamarnya lagi, dengan satu kotak berisi dua potong cheese cake, dan tiga bungkus rokok kesayangannya dan kesayangan Mas Ram.

“It will be perfect nite. Cheese cake, cigaratte, sex, and no office tomorrow. Perfecto!!!”

“Aaaaaaaaaaaa…tidaakkk!!!”

Tiba-tiba Laras berteriak kencang, sekencang-kencangnya, seperti kesetanan. Dan seketika pula, semua barang yang ia bawa, jatuh berceceran di lantai, yang sudah tentu akan menghancurkan imajinasinya akan malam yang penuh gairah dengan Ramelan, tunangannya.

Bukan pemandangan indah yang dilihatnya saat itu. Bukan tubuh kekasihnya yang menggoda, yang akan membuat adrenalinnya berteriak padanya untuk segera naik ke tempat tidur, kembali bercinta dan mengumbar napsu.

Ramelan tergeletak tanpa daya di atas tempat tidur. Seprei yang tadinya berwarna putih bersih, sekarang sudah berubah warna, akibat ceceran darah.

Laras pun langsung memeriksa denyut nadi kekasihnya itu…

“Masih berdetak, walau lambat,” diiringi dengan teriakan kecilnya yang berusaha membangunkan kekasihnya yang tak sadarkan diri, “Mas Ram, Ayank, Hon, Hon, bangun, Cinta!”

Tanpa berpikir panjang, Laras mengambil telepon dan meminta bantuan resepsionis.

“Cepetan Mbak, panggil ambulans dan polisi, kalau ga tunangan saya ga ketolong ini. Buruan!!”

Laras yang tampak kaget setengah mati, duduk lemas di sisi tempat tidur, sambil satu tangan memeluk dengkulnya yang ditekuk, dan tangan satunya lagi memegang lemas tangan Ramelan, yang beberapa kali masih menunjukkan adanya respon.

Laras hanya bisa duduk, menangis, sambil berdoa meminta agar Tuhan berbaik hati untuk tidak membiarkan kekasihnya pergi meninggalkannya, “Harus ya Tuhan, gue keilangan orang yang gue sayangin, untuk kesekian kalinya lagi? Harus ya? Answer me! Please, don’t take him away from me.”

Laras kemudian berniat menyingkir dari samping tempat tidur, begitu ia melihat tim medis sudah datang di kamar yang mulai menyita perhatian orang banyak.

Sekali lagi, genggaman Ramelan menunjukkan respon yang seolah berkata padanya, “Jangan tinggalkan aku, Rana.”

“I’m not going to leave you, Hon. Love you so much,” hanya itu yang bisa Laras katakan pada Ramelan, lewat bisikan manis di samping telinganya, sembari ia perlahan menyingkir, memberi ruang lebih untuk tim medis menangani Ramelan.

—-

to be continued…

Tags: ,

4 Responses to “Di Antara 1 dan 4 Cinta (6)…”

  1. ree says:

    horeeeeee…
    ada cerita bersambung..!!
    bikin yg seru ya, mbak.. *cupcup*

  2. […] Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (6)… […]

  3. bhien... says:

    whuaaa….smpe brp nih bersambungnya..
    bikin pnasaran euy hehehe……

    salutt aahh buat tokoh Laras…
    jd dpt inspirasi nih hahahahaha…………..

  4. rina32 says:

    kok jadi mas Ram nya yg d kejar ya?? btw mantan nya banyak bgt :-o
    ending ceritanya tragis *menurut sy ;))*
    nah lho, penyakit apaan yang d idap sma Laras??? :-?

Leave a Reply