Di Antara 1 dan 4 Cinta (5)…

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (4)

___

“Arrrggghh…akhirnya nyampe kamar juga. Kayak abis jalan jauh aja dari lobi ke kamar doang.”

Tiba-tiba Laras ditarik oleh kekasihnya, sehingga punggungnya telah bersandar di dinding kamar, dan pertemuan kedua bibir mereka telah menghasilkan ciuman panas yang membuat adrenalin berpacu.

“Rana bonie, kau akan ku habisi malam ini. Aku mau nikmati setiap centi lekuk tubuhmu. I really want you tonite,” bisik Ramelan dengan suara mendesah, mencoba menggoda Laras.

“I’ll wait baby.”

Laras tahu persis, kekasihnya ini tak mungkin melewati ritual membersihkan diri, alias mandi, sebelum naik ke tempat tidur. Tanpa basa-basi, Laras langsung membantu Ramelan melepaskan jas yang ia kenakan, dan membiarkannya memasuki kamar mandi.

Tak betah mengenakan gaun panjangnya, Laras segera berganti pakaian. Kemudian mengambil rokok dari dalam tas, menyundutnya, dan mulai menikmati isapan demi isapan puntung rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.

“Sial, nih rokok dah mau abis lagi. Mas Ram masih ada stok ga ya? Ahh, gampang ntar tinggal beli di bawah. By the way, itu toh si Andra, yang niat nyari nomor telpon n nelpon gue untuk nanya gue pacaran apa ga sama Mas Ram, belum lagi komentar-komentar dahsyatnya di seluruh rumah gue di dunia maya. Paket komplit yach malem ini, Jihan, Mia, Gue, Andra, mudah-mudahan ga nambah rusuh. Kecuali rusuh di ranjang. Hahahha. Laras-laras, kalo elo ga aneh, mana mau lu diajak nikah ama Ram?”

Tanpa Laras sadari, Ramelan sudah berada di belakangnya dan memeluknya.

“Gak mandi Sayang?”

“Kayak ga tau aku aja kamu, Mas. Tadi kan sebelum makan malem aku dah mandi, and sekarang nunggu dimandiin kucing sama kamu, tapi abis selese ngerokok ya, hehehehe.”

“Aku juga mau ngerokok dulu, dah dari tadi nahan.”

“Cieeehhh…gimana rasanya hari ini? Lengkap tho perempuanmu malem ini?”

“Ho oh je. Lengkap tenan. Errr..Ran…”

“Hmm, apa?”

“Yakin mau nikah sama aku?”

“Lah, situ yakin ga nanya ke aku?”

“Yakin seratus persen, Sweetie.”

“Berhubung masokisku belom sembuh Mas, jadi sekarang aku jawab yakin.”

“So, matiin itu rokok, dah waktunya kamu tak gendong ke tempat tidur. Aku ga tahan habisin kamu sekarang.”

“Gak perlu digendong, aku naik dengan sukarela kok.”

Dalam beberapa menit setelah mereka menaiki tempat tidur, pakaian yang mereka kenakan sudah bertebaran di mana-mana. Bibir Ramelan pun sibuk menelusuri tiap inchi tubuh Laras, yang sudah terbius dengan kedahsyatan permainan ranjang kekasihnya.

Mereka berguling-guling ke sana kemari. Sibuk memainkan posisi yang menjadi kesenangan mereka.

“Aku mau kamu di atas, Sweetie.”

“So, take me there.”

Ayunan itu semakin kencang, berpadu dengan aluna suara mereka yang tak lagi peduli orang lain di luar sana, yang kemungkinan melewati kamar mereka.

Mereka berguling lagi, membawa Laras berada di bawah dan tengkurap.

“This is what you like rite, Mas? Give me your best move!”

“Will do.”

“Yes baby, rite there. Yes like that. Come on, ooohhhh…yes deeper, Hon.”

“My God, you’re so wonderful, Sweetie. Ohhhh, nooo. Yes, it’s almost done. Oh, no, oh, God…I’m done now.”

Dan akhirnya mereka terbaring berpelukan penuh puas.

“Kamu dahsyat hari ini, Hon.”

“Untuk kamu apa sih yang ngga?”

“Ran, I want more. Now.”

“Kuat?”

“Nantangin?”

“Ho oh.”

Dan mereka mengulanginya lagi, lagi, lagi dan lagi. Dua manusia yang tak pernah kehabisan energi meluapkan cinta. Walau awalnya dulu Laras selalu menolak ajakan kekasihnya itu.

“Aku ga mau jatuh gubrak, kalo ntar kita putus,” alasan yang diberikan Laras pada Ramelan saat ia mengajaknya bercinta, waktu awal-awal mereka pacaran dulu. Tapi Ramelan satu-satunya kekasih Laras yang berhasil membuatnya mampu meninggalkan topeng yang biasa Laras pakai di kehidupannya sehari-hari. Topeng yang mengakibatkan Laras tak mudah menikmati setiap cerita hidupnya. Dan Ramelan-lah yang bisa membuat Laras meninggalkan itu semua. Membuat Laras meninggalkan ketakutan-ketakutan dalam hidupnya yang belum tentu akan terjadi.

“Eh, jam berapa sih nih?”

“10.35.”

“Kok aku laper ya, Mas.”

“Mau pesen makanan?”

“Ga usah, aku turun aja lah ya, tadi liat ada cheese cake di bawah. Mudah-mudahan masih buka. Sekalian mau nyari rokok. Rokokmu juga dah mau abis kan?”

Laras langsung beranjak dari tempat tidur dan mengenakan pakaian.

“Kuncinya aku bawa ya, Sayang.”

“Yup.”

“Kamu mau nitip apa?”

“Rokok jelas.”

“Okay. Hmmm..tunggu pembalasanku nanti. I’m gonna kill you, when I come back.”

Dan Laras melayangkan satu lumatan ciuman di bibir Ramelan.

—-

to be continued…

Tags: ,

3 Responses to “Di Antara 1 dan 4 Cinta (5)…”

  1. devi says:

    jeng.. kadang aku tuh nggumun deh sama kamu.. sometimes kita ada beberapa kesamaan ide & tulisan.. Kaya cerita ini, aku juga nulis cerita yang (almost) sama temanya, tapi masih di draft.. Makanya aku ngikik sendiri.. lah kok idenya nyambung ya.. :mrgreen:
    love your posting Crit. ucrit .. :D
    *disawat kontainer soale ngganti-ngganti jeneng*

  2. Introverto says:

    @ devi: ra popo…biasa iku mbak aku ganti jeneng…hahahah…weiitttsss…ini cerita belom selese lohhh…ngikutin terus yaaah cin…:D

  3. […] Baca cerita sebelumnya Di Antara 1 dan 4 Cinta (5)… […]

Leave a Reply