Behind The Scene of Laras and Ramelan…

Sumpah baru kali ini saya merasakan dan harus mengakui menulis itu memang tidak mudah. Terbukti dengan usaha saya menulis Pscyho Series pertama saya (*Mudah-mudahan bukan yang terakhir*).

Semua, karena keinginan saya untuk menuliskan sesuatu yang berbeda.

Dari dulu memang saya lebih suka menuliskan hal-hal romantisme, menye-menye, melankolis yang menyebabkan saya dan/atau pembaca mengais-ngais aspal; atau Cinderella Story yang pasti berakhir bahagia.

Hal itu diperkuat dengan hasil saya mengobrol dengan si Cungkring, yang saya kenal sebagai salah satu psycho writer yang hobi sekali menuliskan hal-hal aneh tapi masuk akal, cerita cinta yang tak pernah berakhir menyenangkan, yang adalah kebalikan dari cerita-cerita yang saya hasilkan.

“Elo melankolis banget ya, Nek. Keliatan dari bacaan lu.”

“Hahaha, dari tulisan gue juga keliatan.”

“Ho oh banget. Beda ama gue. Ga ada tuch happy ending nikah atau semacamnya. Ga bisa tuch gue nulis cinta-cintaan lebay macem Chick Flick.”

Dan terus terang, semenjak itu saya tambah ingin sedikit keluar dari jalur. Menuliskan sesuatu yang bukan “bidang” saya.

“Gue harus bisa keluar dari comfort zone lagi. Di sini mulukh capekh.”

Kebetulan, memang akhir-akhir ini, hidup saya sehari-hari belum ada yang sangat menarik untuk menjadi bahan tulisan di blog, atau setidaknya saya sedang tidak mood untuk menuliskannya. Ditambah sisi “psychotic” saya sedang berada di titik klimaks tertinggi perjalanan uji kesabaran diri, yang kali ini tak berhasil saya tidurkan dan harus segera saya keluarkan.

“Daaaammmnn!! Capekh berat gue nulis nih cerita. Susah ya nyeett jalanin sesuatu yang belom terbiasa.”

Bab pertama memang sudah dengan sendirinya “menari-nari” di kepala. Namun itu juga hanya di bagian-bagian awal. Dan seperti biasa, semuanya akan mengalir dengan sendirinya saat saya mulai mengetikkan cerita.

Saya memang sengaja tak membatasi otak ini berputar, sehingga memperluas segala kemungkinan untuk dituangkan di dalam cerita. Sangking terlalu sering tidak membatasi otak ini berputar, ternyata hal ini menjadi bumerang untuk saya sendiri. Bingung, alur cerita mana yang paling masuk akal, paling tak terduga dari semua kemungkinan alur yang bisa saya pilih.

“Aaaarrrrrgghhh, sekali-kalinya nih gue nulis ampe migren. Pusink, ga sabaran, bingung. Ampe kebawa mimpi pula. Abis ini ntar gini, si itu gini sama anu, terus di situ dia ngapain sama ini. Mampus lah gue.”

Alhasil, saya terpaksa harus mengambil “buku ajaib” yang biasa saya pakai untuk mencorat-coret sementara apa yang ada di otak saya (biasanya agar tak lupa), lalu saya mulai membuat story board, sambil memikirkan dari sisi logika cerita yang saya tuliskan.

Et voila…

Six chapters and one epilog my first psycho series: Di Antara 1 dan 4 Cinta…

And for me this story is such a masterpiece. Whether you like it or not, whether you’re gonna hate me or love me, I don’t care. Apalagi kalau mengingat cerita ini adalah hasil elaborasi antara realitas dan khayalan; antara pengalaman pribadi maupun cerita orang lain, hasil observasi atau hasil menguping; yang adalah kejadian puluhan tahun yang lalu atau kejadian yang baru-baru saja terjadi.

Dan sialnya, sebelum cerita ini selesai saya ketik, di otak saya sudah “menari-nari” “story board” lainnya lagi.

Another psycho series? Hahaha, mudah-mudahan saya tidak lelah menuliskannya ya.

—-

“For Cungkring: Boookk…is marriage a happy ending or just the beginning of tragic life?” :mrgreen:

Tags:

4 Responses to “Behind The Scene of Laras and Ramelan…”

  1. Olivia says:

    continue your work! :)

    pertanyaan lo, gue jawab sedikit aja, cuma berkisar hal2 yang jelas2. kalo ndak, takut bikin sesat.

    yang jelas pernikahan itu bukan akhir, tapi adalah awal dari … (ya isi sendiri :D)

  2. Chic says:

    oooow MPD: Multiple Personality Disorder.
    Ide ceritanya jadi mirip deng (Un)reality Show nya Clara NG atau Tell Me Your Dreams nya Sidney Sheldon ya :mrgreen:

    Keep on the good work :D

  3. Introverto says:

    @Olivia : hahahha nyari aman lu ya nekkk..

    @Chic: Hahahah gue suka banget ama Tell Me Your Dream…tapi kalo Tell Me Your Dream, dia cuma Multiple Personality Disorder..ga ada gangguan wahamnya, tapi yang paling gw suka dari tuh buku endingnya dahsyat…btw gue masih inget 1 nama alter egonya di buku itu…Aletta…

  4. ree says:

    siiiiiph. :)

    ada lagi mbak??

Leave a Reply