Di Antara 1 dan 4 Cinta (3)…

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia Di Atas 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 Dan 4 Cinta (2)

___

Mereka tidak kembali menginap di hotel itu, pada malam di hari yang sama saat Ramelan bertemu Jihan, melainkan dua hari setelahnya. Kebetulan mereka mendapat kamar yang sama, kamar 1203, yang juga merupakan angka keramat untuk mereka berdua.

Kali ini acara romantisme mereka berdua diawali dengan makan malam, di restoran mahal dan romantis yang juga terletak di hotel. Mereka tak lagi peduli ada kenalan, teman atau saudara yang melihat mereka menghabiskan malam penuh cinta dan hasrat di sana.

Makan malam yang sangat romantis. Ramelan mengenakan jas terbaiknya, yang sepertinya tak perlu lagi disebutkan mereknya, kalau dasinya saja sudah bermerek satu butik terkenal dari Prancis yang tak pernah sama sekali menggelar program diskon. Sedangkan Laras mengenakan gaun hitam panjang, berkerah halter neck dan backless, memamerkan lehernya yang jenjang dan punggung indahnya. Makan malam yang berlangsung singkat, karena mereka rindu akan kamar yang menjanjikan suatu hal yang lebih menarik daripada sepiring makanan mini nan cimit ala fine dining.

Dan saat mereka hendak kembali menuju ke kamar, tiba-tiba mereka berpapasan dengan seseorang.

“Malam, Ramelan.”

“Hei, malam, Jihan.”

“Ketemu lagi di sini.”

“Yah, just had dinner.”

“Owhh, menyenangkan. Nginep sini juga?”

“Sepertinya. Oh, ya, kenalin. Ini Laras.”

Dan Laras pun menyambut uluran tangan Jihan.

“Hai Jihan, nice to see u.”

“Saya juga. You look so gorgeous. By the way, kalian terburu-burukah? Aku traktir ngopi dulu yuk, sambil ngobrol-ngobrol sebentar.”

Dan akhirnya mereka bertiga menempati satu meja sembari menikmati minuman yang mereka pesan.

“So, akhirnya saya liat wajahmu dari dekat Ras.”

“Kemarin cuma dari jauh ya. How do you know that I am Ramelan’s girl?”

“Kelihatan lah dari body language kalian. Mata kalian itu bicara, dan penuh cinta.”

“Duuhh, jadi malu.”

“Gak perlu malu lah, harusnya kalian seneng. Udah berapa lama kalian pacaran?”

“Almost a year.”

“And planning to get married?”

Laras hanya diam, dan melirik ke arah kekasihnya…

“That’s what we celebrate today.”

“I proposed her two days ago. After checked out from this hotel.”

“Congratulation for both of you.”

“Thank you.”

“So what is the date?”

“Belum dibicarain. Baru dua hari juga.”

“Andaikan saya bisa datang nanti.”

“Kalian ngobrol berdua sebentar ya. Hon, aku ke toilet dulu ya.”

“Ya, Mas.”

Dan tinggalah Jihan dan Laras berdua di sana, sementara Ramelan pergi ke toilet yang tak jauh letaknya dari tempat mereka mengobrol saat itu.

“Ras,…”

“Yah.”

“Jadi ini cincin pemberian Mas-mu itu?”

“Yup.”

“Nice.”

“I know.”

“Kamu beruntung dapet dia.”

“Really? Why?”

“Dunno, but you’re so lucky to have him.”

“Hopefully. Hmm, may I ask you something?”

“Yes, sure.”

“Berapa lama kalian pacaran dulu?”

“Lumayan lama. Saya lupa. Saya dulu sempat berharap saya bisa nikah sama dia, tapi berhubung saat itu tak mungkin, ya saya harus trima. Terus terang saya iri sekali sama kamu sekarang. That’s why I told you, that you’re so lucky.”

Dan di tengah pembicaraan dua perempuan itu, Ramelan sudah muncul di hadapan mereka.

“Seru amat ceritanya.”

“Gosipin kamu pastinya.”

Laras tiba-tiba memasuki dunianya sendiri saat Ramelan asik mengobrol dengan mantan kekasihnya, yang sampai sekarang masih terlihat cantik, walaupun sudah berada di akhir usia-usia 40 tahunan. Ya, bagaimana tidak cantik, peranakan Rusia campur Turki.

Laras sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Huh, beruntung? Kira-kira beruntungnya di mana ya? Egois mampus, iya. Gak peduli orang lain kalo dah kerja, iya juga. Keras kepala super dahsyat, jangan ditanya deh. Ya, ya, kalo urusan otak yang super dahsyat canggihnya, mang gue beruntung sih dapetin dia. Apalagi untuk urusan ranjang, hahaha, wah ga ada nih manusia yang ngasih gue tiket langsung ke neraka kenikmatan ke-7, kayak dia. By the way kenapa mereka dulu putus ya. Apa cuma gara-gara Mas Ram dah punya istri dulu. Ah, ga bakal ketauan juga toh ya, lah wong beda benua juga gituh, yayaya, semakin rusak lah ini otak gue mikir yang aneh-aneh.”

Laras berhasil keluar dari pikirannya yang mulai tak menentu. Teriakan seseorang yang memanggil nama kekasihnya, mampu menarik perhatiannya.

“Mas Ramelan.”

“Huh, perempuan mana lagi ini. Eh bentar, kayaknya gue tau nih muka. Damn another his ex-girlfriend, sempurnalah malem gue hari ini,” pikir Laras saat itu.

Mereka berdua asik cipika-cipiki, seperti laiknya orang yang sudah lama tak bertemu.

“Lagi meeting, Mas?”

Dan dalam hati Laras, ia mengumpat, “Ga liat ya Neng, gue pake baju kayak gini, meeting dari Hongkong?”

“Gak, lagi ngobrol-ngobrol aja.”

“Owhh, okay.”

“Eh, iya Mi, kenalin ini Laras, ini Jihan.”

“Mia.”

“Jihan.”

“Mia, mantan pacarnya Mas Ramelan.”

“Laras,” sambil ia berkata di dalam hati “Sumpah loe PD abis.”

“Mia, Laras ini tunanganku.”

“Oh, loh, bukannya waktu aku telepon beberapa waktu lalu, Mas Ram bilang belom punya pacar ya.”

Gatal rasanya mulut itu ingin mengeluarkan kata menimpali pembicaraannya, kalau saja Laras tak mengingat kekasihnya, yang sangat ia hormati itu.

“Aku ngomong gitu ke kamu, karena satu alasan, Mi.”

“Apa?”

“Sepertinya kamu ga perlu tahu lagi alasan itu sekarang.”

Laras pun bisa tersenyum puas. Puas, dengan jawaban diplomatis kekasihnya, yang saat itu ingin sekali ia hamburkan cium di bibir tipisnya.

“Love you lah, Mas,” cuma itu yang bisa Laras sampaikan kepada kekasihnya, dengan sebuah tatapan mata penuh dengan binar cinta.

Mia pun berlalu dari hadapan mereka bertiga, sehingga mereka bisa kembali leluasa mengobrol.

“So Jihan, kapan terbang balik ke London?”

“Terbang ke London sih besok malam, itu di London juga cuma seminggu, ngambil barang. Terus langsung ke Moskow.”

“Kamu akan tinggal di Moskow?”

“Saya udah kurang lebih setahun ini hidup nomaden. Keliling sesuka hati. Sebelum ke Indonesia ke dua kalinya ini, saya tinggal di Bangkok 3 bulan, sempet di Vietnam 2 minggu, pernah di KL 2 minggu juga. Abis itu di Jakarta 1 bulan, Bandung 1 bulan, Manado 3 minggu, lalu karena visa sudah mau habis, terpaksa keluar dari Indonesia dulu, akhirnya saya ke Singapura 1 bulan, dan balik ke Indonesia lagi, tinggal di Bali, lalu Jogja, dan balik ke Jakarta. Sepertinya sudah cukup jalan-jalan saya, dan sekarang saya mutusin tinggal di Moskow saja, tempat kelahiran saya.”

“Enak banget kamu bisa jalan-jalan terus.”

“Udah rencana dari dulu memang.”

“Hon, balik ke kamar yuk, besok…”

“Duh, sorry besok kalian kerja ya?”

“Kita? On leave tomorrow. Sengaja cuti barengan, tapi saya ga betah aja pake baju seperti ini berlama-lama. Jadi tetep kayaknya saya sama Mas Ram, harus balik ke kamar.”

“Okay, kalau begitu, terima kasih udah mau ngobrol nemenin saya ngopi.”

“My pleasure juga kok, seneng bisa kenal sama kamu Jihan.”

“Good night and have a good sleep, Jihan.”

Akhirnya Laras dan Ramelan berpamitan dengan Jihan. Meminta izin untuk kembali ke kamar mereka, kembali menikmati waktu dan dunia mereka berdua, tak ada orang lain. Menikmati nikmatnya surga dalam neraka yang saling mereka janjikan dan sajikan langsung di depan mata.

—-

to be continued…

Tags: ,

2 Responses to “Di Antara 1 dan 4 Cinta (3)…”

  1. Chic says:

    *nungguin lanjutannya*

  2. […] Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (3)… […]

Leave a Reply