Di Antara 1 dan 4 Cinta (2)…

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (1)

___

“Hon, keberatan ga kalo kamu yang nyetir?”

“Ntar kalo tukeran nyetir lagi di kantor, resiko bakal ada yang ngeliat donk.”

“Kamu drop aku aja di kantor, mobilnya kamu bawa dulu, ntar sore kamu jemput aku ya.”

“Okay.”

Dan mobil itu mendadak sepi, hanya ada suara lagu dari CD yang diputar Laras. Sedangkan kekasihnya, hanya sibuk menatap apapun di luar jendelanya dengan tatapan kosong.

“Mas, are you okay? Kayak abis liat setan tadi.”

“He eh.”

“Kenapa, Sayang?”

“I met Jihan.”

“Jihan who?”

“My Russian-Turkish ex-girlfriend.”

“Oh, her name is Jihan?”

“Yup.”

“Ketemu di mana? Tadi pas beresin bill?”

“Yup.”

“Trus kenapa jadi diem?”

“Ga percaya gue. Lebih 20 taun aku ga ketemu.”

“Masih cantik ga?”

“Cantikan dulu lah.”

“Ah, kamu juga pasti gantengan dulu ya pas sama dia, daripada sekarang pas sama aku. Hahahahaha.”

“Tapi tetep hebat ‘kan di ranjang.”

“Kalo yang itu sepertinya lebih hebat sekarang daripada dulu. Pengalaman berperan pastinya. Hahahahaha. Terus kamu ga rencana gitu ngobrol-ngobrol ama dia? Dah lama loh ga ngobrol. By the way tadi sempet ngomong gak?”

“Ngobrol donk. Dia nyapa duluan. Dan dia notice kamu pacar aku.”

“Oh ya? Kita kan tadi ga ngomong setelah keluar lift.”

“Dia hebat untuk urusan observasi n nyimpulin hasil yang dia liat.”

“Dalam rangka apa dia di sini?”

“Liburan, menikmati hari tua sepertinya.”

“Kapan balik?”

“Weekend ini katanya, tapi aku ga tanya kapan tepatnya.”

“Ahh, ingetan tadi malem di kamar bakal keganti ama cerita London 20-an taun lalu neh.”

“Hahahaha, ya iya lah. Damn!!”

“Sial. Ya udah sana gih, ngobrol-ngobrol ama dia. Kalo mau aku temenin ya boleh, kalo mau bedua juga ga papa.”

“Liat ntar lah, Sayang. Atau ntar malem kita nginep lagi?”

“Terus gue ga pulang-pulang. Ga bawa baju lagi gitu gue.”

“Tinggal beli ‘kan ntar.”

“Liat ntar lah, Sayang.”

Laras tahu persis kekasihnya seperti apa. Kombinasi antara makhluk super egois, keras kepala, briliant, adorable dan lovable sampai mampus. Jangankan melarang kekasihnya untuk melakukan sesuatu, berniat untuk melarangnya saja tak akan ia pikirkan. Buang waktu dan tenaga percuma untuk melarang seorang Ramelan.

Hanya orang yang mempunyai gangguan jiwa, yang bersedia hidup bersama kekasihnya ini.

Mereka berdua bertemu untuk pertama kalinya, saat Laras baru mulai menjalin hubungan dengan kekasihnya yang dulu; dan saat itu Ramelan masih dengan istrinya. Namun pertemuan itu berlalu begitu saja, tanpa menyisakan kisah roman di antara mereka berdua.

Bertahun-tahun berlalu, mereka tak saling bertemu, bahkan disempitnya kota Jakarta, yang dengan mudahnya mempertemukan banyak orang.

Sampai dengan hari itu, saat sakit hati yang dialami keduanya mempertemukan langkah kaki mereka kembali. Ramelan baru saja putus dengan kekasihnya, yang sudah 5 tahun pacaran dengannya, begitu pun juga Laras; bahkan pertemuannya dengan Ramelan saat itu masih dalam hitungan hari setelah ia putus dengan kekasihnya, yang kurang lebih 5 tahun terakhir bersamanya.

Mereka mulai merangkai rasa, menabur cinta, pacaran dan bercinta dengan dahsyatnya. Mungkin semua itu karena balas dendam akan rasa sakit yang mereka berdua alami sebelum mereka bertemu.

“Rana…”

Keheningan mobil itu terpecah dengan suara Ramelan memanggil manja Laras dengan panggilan sayangnya: Rana, sembari meraih tangan kirinya yang tak perlu sibuk memindahkan gigi, karena kecanggihan teknologi yang membuatnya demikian.

“Ya, Mas.”

“I love you, if you really knew.”

“I love you too.”

“Tolong pinggirin mobilnya sebentar dong di depan sana.”

“Okay.”

Dan tak berapa lama Laras, atau Rana, menepikan mobil kekasihnya yang sedang ia kendarai saat itu.

“Look at me, Hon.”

“Yes.”

Ramelan tampak meraih sesuatu dari dalam kantongnya.

“Will you wear this ring? Will you marry me?”

“What? Wait…you change your mind? Bukannya kamu bilang sendiri, kita ga akan nikah, ga mungkin bisa nikah, ga bakal cocok kalo nikah, dan…”

“Yes, I change my mind. Will you?”

—-

to be continued…

Tags: ,

One Response to “Di Antara 1 dan 4 Cinta (2)…”

  1. […] Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (2)… […]

Leave a Reply