Di Antara 1 dan 4 Cinta (1)…

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

___

Seketika semua kejadian lebih dari dua puluh tahun lalu itu, tampak di pelupuk mata perempuan yang sekarang duduk di sana…

Saat itu, saat musim dingin di London, saat di luar jendela kamar, tampak salju sedang turun. Dia memelukku, dan menghangatkan tubuh ini. Yah, ditambah lagu itu, aku ingat betul lagu itu terputar, dan mengiringi malam yang menghangat karena degup jantung yang semakin cepat, yang memacu aliran darah semakin kencang. The First Time Ever I Saw Your Face, membuatku tak tahan untuk tak menyambut ciuman lembut darinya. Dan aku tak ingat lagi, bagaimana caranya tubuhku ini bisa tak terbalut lagi oleh benang sehelai pun, yang memeluk tubuhnya yang juga hanya tertutup selembar selimut, yang kami pakai bersama.

Aku sungguh tak peduli, tak mau mengingat tepatnya, bahwa saat itu seseorang yang ribuan mil jaraknya darinya, masih bersamanya. Saat peri-peri kecil itu pun masih baru seumur jagung belajar mengenal dunia yang penuh dengan kebrengsekkan.

Dan aku di sini, tega berbuat maksiat kenikmatan dengan dirinya, yang dikhianati dengan dansa-dansi kotor, oleh ia yang jauh di seberang sana. But still…he’s still with her at that time.

“Yes, baby deeper, and faster.”

Sial, aku benar-benar masih ingat detil kejadian di kamar itu. Ia memang hebat menerbangkanku ke neraka ke-7.

Dan kenapa hari ini, mata ini kembali melihatnya. Sekilas ia tak berubah sama sekali, walau kami sudah lebih dari dua puluh tahun tak bertemu.

Ia baru saja keluar dari lift yang terletak di ujung lobi hotel yang aku inapi. Keluar dengan seorang perempuan cantik dan bertubuh langsing, yang tampak jauh lebih muda darinya. Aku tahu persis, walau mereka tak saling bicara sekeluarnya mereka dari lift, tapi mereka baru saja menghabiskan malam bersama di salah satu kamar di atas.

Dan tebakanku kali ini benar, mereka saling menatap saat mereka berpisah. Si perempuan langsung keluar dari hotel, dan dirinya menuju resepsionis, yang sudah pasti untuk mengurus pembayaran kamar yang baru saja mereka pakai.

“Sayang bener, masih setengah delapan pagi udah check out. Wait, hari apa ini? Ah iya, Selasa, mereka harus bekerja, pantesan mereka memakai pakaian ngantor,” pikirku sembari mengamati mereka berdua.

Aku sampai melupakan hari. Sepertinya sudah terlalu lama aku menikmati masa liburanku, yang aku pakai berkeliling dunia.

“Sial, kenapa ia sekarang menuju ke sini. Pasti sambil nunggu kamar selesai diperiksa, untuk settle bill deh. Hyaaahh. What should I do. Dia bakal masih kenal aku?”

Ia pun duduk di sana. Di kursi tepat di depanku. Akhirnya mulut ini, tak tahan tak mengucapkan sesuatu untuk menyapanya.

“İyi günler, Ramelan.”

Beberapa detik, telingaku tak menangkap suara apapun. Bahkan suara sepatu tamu hotel yang lalu lalang di sekitar, tak terdengar sama sekali, bagai mereka berjalan sambil melayang. Tapi tidak dengan ujung mata ini, yang menangkap seseorang sedang menatapku takjub dan tak berkedip, yang beberapa detik kemudian mengeluarkan suara dari mulutnya…

“İyi günler, Jihan.”

“You still remember me?”

“How could I forget a beautiful Russian-Turkish girl, Jihan Albina who I met 23 years ago?”

“Dan kamu masih ingat selamat pagi dalam bahasa Turki?’

“And you can speak Indonesian fluently right now.”

“Yes, been living here for 3 months.”

“Really? Business trip or vacation?”

“Vacation pastinya. Kamu tak berubah sama sekali sepertinya. Wait..berubah sih, tapi sedikit.”

“I know, my hair. Ubanan kan? Getting old already.”

“Apa kabar?”

“Never better.”

“So…she’s pretty, and looks much younger than you.”

“Who?”

“Hey, I know you. Walaupun kalian ga saling bicara saat berpisah tadi, but I know, she’s your girlfriend.”

“Oh, yes, she’s my girl. Laras.”

“Pardon?”

“Her name. Lintang Kirana Larasati. I call her Laras, or sometimes with Rana.”

“Javanese girl right?”

“Yah.”

“Great night with her last nite?”

“Hahahha, that’s my secret!”

“Sorry.”

“So, you stay here? With your husband?”

“Ya, I just got back from Bali and Jogja, and have to fly back to London, due the expiration of my visa.”

“Kapan pulang ke London?”

“This weekend.”

“You’re alone here? Or with your hubby.”

“We divorced after 7 years we married.”

“Sorry to hear that.”

“Ga perlu, itu juga kemauan saya.”

“Yah, sepertinya cerai adalah jalan yang terbaik untuk ditempuh.”

“Yup, and don’t tell me that you divorced too?”

“We did.”

“Well, I don’t know what to say.”

“So don’t. I don’t wanna talk about it at all.”

“Okay, sepertinya seseorang nunggu kamu di mobil sekarang, dan resepsionis lagi jalan ke sini. Billnya sudah siap juga sepertinya.”

“Okay, see you when I see you then, Jihan.”

“See you when I see you too, Ramelan.”

—-

to be continued…

Tags: ,

One Response to “Di Antara 1 dan 4 Cinta (1)…”

  1. […] Baca cerita sebelumnya, di Di Antara 1 dan 4 Cinta (1)… […]

Leave a Reply