Mas, Gue Mau Pindah Agama…

Sampai detik ini, saya nyatakan bahwa saya masih memeluk agama Katholik. Dan sampai detik ini juga, saya masih melayangkan doa agar saya diizinkan tetap punya keteguhan hati, untuk berada di Gereja Katholik sampai saya dinyatakan selesai menjalankan tugas di dunia. Doa itu tetap terucap, meski saya bukanlah orang yang pantas menjadi panutan dalam menjalankan segala sesuatu yang harus saya jalankan, agar Tuhan memberikan perintah kepada St. Petrus, untuk membukakan pintu surga bagi saya.

Kenapa saya masih di Gereja Katholik? Kenapa saya masih melayangkan doa tersebut, kepada si Empunya hidup saya? Jawabannya hanya satu, yaitu saya masih merasa Katholik adalah yang terbaik untuk saya.

Mungkin beberapa dari kalian akan mengatakan “Ya ga heran, la wong Katholik dari kecil.”

Saya memang terlahir dan besar di keluarga Katholik. Dibaptis dengan nama yang sama, dengan yang dulu dipakai oleh St.Anastasia, dan menerima Sakramen Krisma dengan nama pelindung St. Rufina. Mengenyam pendidikan pun dari SD hingga kuliah, juga di institusi pendidikan Katholik.

Namun itu semua bukan menjadi alasan utama saya, untuk tetap berada di sana. Berada di Gereja Katholik. Kembali saya katakan bahwa Katholik masih menjadi yang terbaik untuk saya.

Begitu pun dengan Bapak yang saat ini sedang membangunkan sahur melalui pengeras suara Masjid, dan mungkin kamu yang saat ini sedang menjalani puasa, yang diusahakan 1 bulan penuh, masih memeluk agama Islam. Juga dengan teman-teman yang masih membuat sesajen persembahan di Pura kecil di rumahnya juga di mobilnya. Atau mereka yang masih memasang dupa saat mereka hendak berdoa di Wihara atau Klenteng. Mungkin salah satu alasan mereka tetap melakukan itu semua, karena mereka masih menganggap bahwa agama yang dipeluknya adalah yang terbaik menurutnya.

Namun apakah pikiran bahwa agama yang kita peluk itu merupakan yang terbaik untuk kita, lantas bisa dijadikan alasan untuk fanatik terhadap agama secara berlebihan, bukan ke dalam diri kita, tetapi ke luar diri kita sendiri? Dan kemungkinan terburuknya dapat merusak tali silaturahmi antar kita sesama manusia, yang notabene adalah bentukan dan ciptaan Sang Punya Semesta.

Jadi ingat cerita seseorang yang saya sayangi, saat ada seseorang yang saya sayangi lainnya bercerita padanya, yang kebetulan orang ini saat itu sedang berpacaran dengan seseorang yang saya sayangi juga (*Mudah-mudahan kamu ga repot mencerna kalimat ini ya?!* :mrgreen:)…

“Mas, gue pengen pindah agama. Menurut loe gimana?”

“Kalo untuk urusan itu, gue ga bisa jawab sama sekali. Itu yang tau cuma hatimu, dan tanggung jawabmu sama yang di Atas. Aku ga boleh sama sekali mempengaruhi kamu.”

*Ah, memang saya selalu dibuatnya menjura dirinya, atas kecanggihan otaknya yang sangat dahsyat*

Lalu, akankah kita menghormati setiap keputusan seperti itu; keputusan memilih jalan lain, memilih agama lain, atau bahkan memilih untuk menjadi seorang Agnostik atau seorang Atheis; dengan tidak merusak hubungan baik kita dengan mereka yang melakukannya? Menghormati pikiran mereka, bahwa agama yang dipeluknya saat ini, sudah bukan yang terbaik untuknya?

Knock-knock. Hey…your heart is knocking…

Once more…We are all beautiful with these differences…

—-

“Selamat hari minggu…Hmmm, kalo ntar ke gereja, nitip salam yah ama Oom J…!!” (*Lohhhh? Wakakakakak LOL*)

Tags: , , ,

11 Responses to “Mas, Gue Mau Pindah Agama…”

  1. mbakDos says:

    baru gue mau titip salam lewat elo :mrgreen:

  2. dunia tak bakal seindah sekarang ini jika tak ada perbedaan…

    :D

  3. Nesia! says:

    yg gini2 ini, bisa rumit bisa simpel jg. bagaimanapun open-minded-nya seseorang, pastilah ada rasa berat mengetahui seseorang yang disayanginya memutuskan pindah agama… (tentu saja, kalo si open-minded itu punya agama, dan agama yang sama dgn yg berencana pindah itu–ikutan ngeribet juga-Red, wakakakakaka)

    bukan apa-apa… jika kita yakin jalan kita adalah yang terbaik, apa rela ngeliat orang yg kita sayang memilih jalan lain. kita sedih dan keberatan, justru karena kita peduli sama dia kan?

    itulah rumitnya… tp bisa juga sederhana, bila kita mau dengan kerendahan hati mengakui, bahwa bisa saja dia ternyata berada dalam jarak yang lebih dekat dengan kebenaran… paling tidak, dengan kebenaran yang didesain khusus untuknya, oleh Pemilik Segala Kebenaran.

    Tp ini mgkn agak mirip dengan… mencintai seseorang, untuk kemudian melihatnya lebih memilih orang lain… mencintainya, kita tak ingin kehilangan, tapi mencintainya, juga berarti kita harus membebaskannya untuk memilih kebahagiaannya.

    HOREEEE KOMENKU PANJANG!

  4. Introverto says:

    @toga: Yayyy…dapet komen dari elooo..berarti tulisan gue berbobot juga ya *wakakaakkakakak*

    hmmm…btw dua orang itu tadinya agamanya memang sama, sebelum yang nanya itu mutusin convert…and sama sekali tidak mengubah relasi mereka berdua setelahnya…

    but still bang…even kita tau itu yang terbaik, tapi tetep khan itu menurut kita, dan sebaiknya kita ga boleh maksain kehendak sama orang lain tho…dan memeluk agama manapun itu hak asasi manusia yg ga boleh diganggu sama makhluk manapun sebenernya…

    urusan beginian mang sering bikin orang ribet…pusyink…

  5. Introverto says:

    @mbakDos: dah disalamin belom ta kemaren? hihihihihi

  6. silly says:

    Mencintai seharusnya memberi kebebasan untuk memilih apa yang sesuai dengan kata hatinya bukan? sayang tidak semua org mengerti itu yah… :)

  7. ndoro kakung says:

    salam buat mbak dos ya. temen satu kampus kan? hihihi…

  8. Introverto says:

    @ndorokakung: waaaaahhh ada seleb mampir di blog gue *jejingkrakkan*…hehehe iya ndor…aku dulu 1 almamater di satu2nya universitas yang letaknya di Jl. Jend. Sudirman hehehehhehe…

  9. devi says:

    aku punya sahabat yang punya cerita sama kaya tulisan kamu ini. Sekarang bahkan jadi pemeluk agama yang taat, lebih taat dari pemeluk aslinya malah. Sampai sekarang even dia diterima oleh khalayak (beeuh bahasakuu..) tapi tetep secara sembunyi2 mereka mempertanyakan gimana ceritanya & kenapa sampai dia pindah agama.. dan tanyanya selalu ke aku :((

    Keluarganya baru menerima dia lagi setelah 2 tahun dikucilkan. pas dia ceerita itu aku juga ikut nangis.. Itulah, karena semua masih menganggap agamanyalah yang paling baik & benar, sehingga ketika seseoraang memutuskan untuk berpindah agama tentu reaksinya ga semudah membalik telapak tangan. Perlu waktu & kebijaksanaan serta keterbukaan hati untuk mau menerima kenyataan itu..

  10. dita.gigi says:

    berbeda itu indah,
    berbeda jangan lantas harus disamakan,
    beda jangan lantas dijauhi dan dimusuhi,

    Tuhannya tetep satu, ntah bagaimana cara kita menyebut maupun menyembahnya, sang penguasa seluruh jagad raya ini ya Dia juga… lalu kenapa banyak orang saling menyakiti…

    ah ribet :lol: mending kita saling mencintai…

    *berpelukaaannn*

  11. Introverto says:

    @ peri gigi: eh betttuuulll mending berpelukan daripada ribet pusink ndiri

Leave a Reply