Itu Cuma Sebuah Pilihan Kok…

Spent half of my day with one of my friends, with a Butter Mushroom and Salmon Maki, continued with Sop Buntut Goreng Rica and Blueberry Flavored tea on the table in front of us, made us had a long gurls’ chit chat, about some important and scientific things to very unimportant ones, gossips included .

Started by my friend…

“She has a very smart brain.”

“Absolutely, no doubt. Talked with her couple of times. Worked with her to be exact.”

“Do you know that She’s now in French?”

“Really? Wow.”

“Yah, because of her brain. Still work for the same company like she used to work here in Jakarta, but now at French.”

A girl what we meant in our conversation named Tiza (*Not her real name for sure*).

And at the other part of our conversations, we talked about the other girl named Maia (*And it’s also not her real name)…

“Hey, is she still work there?”

“Dunno, the last time I heard about her, she wanted to resign. Planned to go to French, to be with Tiza.”

“What? Are they…?”

“Oooppsss, you don’t know?”

“No. Tiza and Maia?”

“Yes. They are lesbians.”

“Okay. Tiza? Ya I can notice it from her appearance, but Maia? Wow, I didn’t see it at all.”

“Maia is the girl.”

“Ya, so that’s why she doesn’t look like a lesbian.”

(*I change my mind. I’m going to continue writing this story with Bahasa Indonesia*)

Dari pembicaraan saya dengan makhluk yang satu ini, berarti bertambah panjang daftar kenalan saya yang ternyata memilih jalan hidupnya sebagai pencinta sesama jenis, baik gay ataupun lesbian.

Jadi teringat kejadian tahun lalu, di saat saya sedang sangat cranky, sangat ingin “menampar” seseorang karena skripsi yang masih menanti untuk dikerjakan karena yang bertanggung jawab mengerjakannya sedang “terbang-terbang” tak jelas, tiba-tiba ada satu orang pria yang menelepon saya, dengan segala pertanyaannya yang sama sekali tak penting. Pria yang dengan menyebalkannya memaksa teman saya untuk memberikan nomor telepon saya kepadanya. Pria yang benar-benar tak tahu dengan siapa ia berhadapan (*Kok jadi curcol?*). Dan mau tahu tidak, salah satu pertanyaannya yang tidak penting itu? Nih…

“Hmmm ‘Cha is he a gay?”

Pria itu menyebutkan nama seseorang, yang kalau dihitung-hitung malah masih ada hubungan darah dengan saya. Dan untuk mempersingkat pembicaraan tak penting kali itu…

“Gak kok. Hmmm, btw…dah selese? Gue masih banyak kerjaan, gue mau tutup teleponnya. Dah ya.”

Dan setelah itu bisa dipastikan bagaimana reaksi saya padanya. Menabuh “genderang perang” dengannya. Membuka satu situs jejaring sosial yang udah uzur, mencari namanya dan mengirimkan pesan padanya…

“If he’s a gay…SO WHAT? That’s his choice, apapun pilihan hidupnya dia bakal gue hormati. Mau dia gay, mau dia ga nikah seumur idup mau apapun, ga akan merusak relasi gue ama dia sih. And the most important thing is bener-bener ga penting deh pertanyaan lu tadi, ga mutu, and mau tau banget urusan orang lain.”

Marah? Iya, karena ya relasi saya dengan orang yang ia pertanyakan itu, cukup dekat. Namun yang jelas, saya kesal, karena semuanya itu tidak penting.

Talking about gay-lesbian ini, saya juga teringat satu cerita dari temannya teman saya…

“Eh, gue denger dia gay ya?”

“Masakh sih?”

“Iya, gue kapan sih ketemu dia lagi jalan ama satu cowok. Di Plaza Indonesia.”

“Temennya kali bukan pacarnya.”

“Kalo dia gay agak males ya, dulu kita satu apartemen gituh ama dia waktu di US.”

Kurang lebih begitulah perbincangan beberapa teman saya, yang semuanya pria, saat saya kumpul dengan mereka. Lalu beberapa lama setelah itu, saya bertemu dengan teman-teman saya itu lagi…

“Eh, kapan gue ketemu itu-tuh. Terus gue nanya ama dia, apa bener-bener dia gay atau bukan.”

“Serius lu? Terus jawabannya dia apa?”

“Hah? Baru tau lu? Dah lama kaleee, sejak kita di Amerika dulu,” itu jawabannya dia.

Dan langsung menjeritlah pria-pria di sana, yang baru tahu bahwa salah satu temannya yang dulu sempat tinggal satu apartemen, ternyata gay.

Hmmm…lagi-lagi saya memberikan jawaban kepada pria penelepon yang menyebalkan tadi itu, sebuah jawaban standard, yaitu SO WHAT?

Mencintai mereka yang berbeda jenis lalu menikahinya adalah sebuah pilihan. Untuk hidup bersama dengan pasangannya tanpa menikah, itu juga sebuah pilihan, walaupun kalau di Indonesia ya salah satu resikonya akan dipertanyakan oleh masyarakat sekitar. Tidak menikah sepanjang hidup, juga merupakan pilihan seseorang. Termasuk untuk mencintai atau mempunyai pasangan sesama jenis, adalah pilihan yang harus dihormati.

Lagipula gay-lesbian ini sudah sejak lama dikeluarkan dari DSM-IV TR yang merupakan “kitab suci”nya para Psikiater dan para Psikolog, yang berarti pula sudah lama ia dianggap bukan merupakan suatu gangguan mental.

It is just a matter of the choice of your life. Same like you choose that you want to marry or not, or you want to marry to that guy/girl not this guy/girl. Bagi saya pribadi, saya tak mempermasalahkannya, dan mereka kaum lesbian atau kaum gay sepertinya sudah cukup lihai untuk melihat siapa-siapa saja yang termasuk kalangannya atau bukan, dan mereka pasti akan berpikir panjang sebelum mendekati seseorang untuk dijadikan “gebetan”, walaupun dari beberapa cerita teman saya, ada juga sih yang nekat…

“Duuuhh, gue dah bilang tuch ama dia, kalo gue straight. Gue masih suka sama cewek gituh. Masih diuber-uber deeeh gue.”

So what do you think?

Tags: , ,

8 Responses to “Itu Cuma Sebuah Pilihan Kok…”

  1. Olivia says:

    yaaaaahahhaha bahasa inggrisnya kok cuma setengah cunggggg

    kalo ada yang nekad mah, itu dasar aja orangnya nekad. kagak ada hubungan sama seksualitas.

  2. Human.. apakah dia kecil, normal, cacat, cantik, jelek, baik, jahat, dan sebagainya… they still a human.. just like us….! And since mereka disebut human, saat itu juga mereka berhak diperlakukan sebagai human.. (halah bahasa saya inilah), dan sebagai manusia yg sama dengan mereka, sudah sewajibnya kita memperlakukan manusia itu sebagai manusia… because whatever remains, human is still a human…

  3. OchaOcha says:

    @ Olivia: Tiba2 males ngelanjutin…even tuch semua kata dah ada di otak gue hahahhahaha…

  4. saya kok gak ada di list followernya yah..

    heheheheh

  5. OchaOcha says:

    @ Bandit: hmmm ga tau tuch..ga saya ganti kok setting nya…yang lain aman2 ajah..coba di unfollow dulu trus follow lagi..sapa tau bisa..thank u..

  6. Olivia says:

    kalo ijk boleh saran, coba nonton A Jihad for Love deh. itu tentang kaum homoseksual di mata agama Islam, film dokumenter tentang LBGT di negara2 Islam.

  7. silly says:

    ehhh, dear, aku tahu gak… udah manteng 5 kali, kaliii di artikel ini, dan tiap kali nulis komen, selalu kedistract sama kegiatan lain.

    Ini aja aku buka dari pas balik dari ketemu simbok, sekarang dah jam 10 lewat belum slese juga nih komen…

    Padahal cuma mo bilang, hidup itu pilihan, and every choice comes with consequences… Kalo siap, ya jalanin aja. Who am I to judge anyway. Saya lebih memilih untuk tidak menghakimi pilihan hidup tiap org itu benar atau salah, karena saya sendiri belum tentu benar, besides, menilai org itu cuma hak absolute Tuhan, kita gak punya hak apa2 dimatanya, bukan? :)

    Apa khabar dear… *hugsssssssssss*

    (seneng akhirnya kelar juga ini komen… *sambil memandang 12 window yang masih kebuka, hahahahaha*)

Leave a Reply