No Doubt, They Are Great…

“What do you think about child with autism?”

“Hah, yakin loe nanya gue itu? Yakin, mau tau jawaban gue? Mereka luar biasa.”

Sumpah, itu yang akan keluar dari mulut saya, jika ditanya pendapat saya tentang mereka. Bukan karena saya punya keluarga yang mempunyai anak dengan autisma, atau juga bukan serta merta karena saya mempunyai latar belakang psikologi, tapi ya jawaban saya akan tetap seperti itu.

Ketertarikan saya akan anak-anak dengan autisma ini memang sudah lama.

Awalnya hanya berdasarkan rasa penasaran terhadap mereka “Kenapa ya mereka ga bisa dengan mudah berkomunikasi  dengan orang lain, atau setidaknya, tidak semudah kita yang dinyatakan lebih normal? Mereka sibuk ndiiirrrii terus” (*Padahal belum tentu lebih normal kita bouw, hahahaha*). Dan alasan lain yang membuat saya tertarik dengan mereka adalah “Ahh, seru juga ya mereka punya dunia sendiri, dan ga ada yang bisa melarang mereka.”

Ketertarikan ini benar-benar saya entertain, sebelum saya memasuki Semester VI saat masih kuliah dulu; karena semester ini sudah waktunya saya dan teman-teman lainnya memilih peminatan masing-masing. Dan karena saya sungguh “alergi” dengan DSM IV-TR (ini “kitab suci”-nya para Psikiater yang juga dipakai oleh para Psikolog, yang berisi tentang detil gejala gangguan jiwa), yang tebalnya hampir 10 cm, dan seukuran majalah zaman dulu, pastinya saya tak berminat mengambil peminatan Psikologi Klinis yang mengeksplorasi lebih dalam lagi tentang gejala-gejala gangguan jiwa sampai detil (*Lebay ga ya gue?*). Jadilah saya mengambil peminatan Psikologi Industri dan Organisasi.

Eksplorasi tentang Psikologi Klinis, sebelum peminatan dimulai, benar-benar saya manfaatkan. Semua tugas kuliah, saya usahakan mengambil fenomena ke hal-hal yang berhubungan dengan Psikologi Klinis, seperti saat memilih fenomena tugas akhir Mata Kuliah Wawancara, saya dan satu teman saya memilih untuk mewawancarai keluarga dan anak yang mengidap kanker, yang saat itu ia mengidap kanker hidung (*Si anak ini sudah meninggal di  tahun 2007*). Bidang Psikologi Klinis lainnya yang juga menjadi inceran eksplorasi saya, adalah tentang anak dengan autisma, yang pada akhirnya menjadi fenomena yang saya pilih untuk salah satu tugas kuliah (*Heheheh, lupa gue tugas kuliah apa. Mungkin pas Psikologi Abnormal*).

Dalam rangka memenuhi tugas perkuliahan yang  walau bertumpuk tapi ternyata benar-benar ngangenin itu, saya dan teman-teman mendatangi salah satu sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak dengan autisma ini.

Di sana kami diizinkan untuk melihat aktivitas mereka, baik saat di kelas (walaupun saat itu kami hanya melihatnya dari kaca jendela dari luar kelas), dan saat mereka beraktivitas di luar kelas. Terus terang, awalnya saya sedikit bingung dan takut berinteraksi dengan mereka, apalagi saat itu satu teman saya digigit oleh salah satu dari mereka, sehingga saya hanya berani mengobservasi pola tingkah laku yang mereka hasilkan, dari jauh.

Sangat menarik, banyak yang saya dapatkan, misalnya “Ternyata mereka diem-diem gitu, merhatiin sekitar ya bouw. Eh ada orang baru nih. Kenalan ah,” walaupun mungkin cara mereka berkenalan kadang tak lazim dengan cara orang biasa berkenalan, dengan menggigit tadi misalnya. Namun di lain pihak ada teman saya lainnya, yang langsung digandeng-gandeng oleh satu anak, untuk menemaninya makan siang.

Kami diberi kesempatan untuk dapat mengobservasi mereka di sekolah itu, sebanyak dua kali kunjungan.

Dan pada kunjungan kedua, kami lebih banyak menemukan kehebatan-kehebatan mereka lainnya.  Saya pun sudah tidak takut berinteraksi dengan mereka. Bagaimana takut, mereka bahkan ada yang mengingat nama salah satu di antara kami, dan serunya lagi, saat waktunya mereka untuk bermain dan berolahraga, yang tujuannya untuk melatih fungsi motorik mereka, mereka malahan mengajak beberapa dari kami untuk ikut bermain.

Kehebatan tentang mereka ini juga sempat diceritakan oleh salah satu dosen Psikologi Perkembangan I saya (*Mbakkk sapa haaayyooo?*), yang kebetulan seorang Psikolog Anak, yang menangani anak-anak dengan autisma ini. Ia pernah menceritakan bahwa, sempat ia atau temannya (*Saya lupa*) menjatuhkan satu kotak besar korek api batangan, di depan kliennya itu. Dan seketika anak itu melihat ke lantai, dan seketika pula si anak dapat menyebutkan jumlah korek api yang terjatuh. Berhubung dosen saya itu penasaran, benar atau tidak jumlah yang kliennya sebutkan, dan sayangnya tidak ada keterangan di luar kotak mengenai jumlah batang korek api yang terdapat di dalam kotak, maka dosen saya iseng memungut sambil menghitung jumlahnya. Dan ternyata jumlah yang dikatakan oleh kliennya TEPAT, dan sama sekali tidak meleset.

Contoh lain kekaguman saya terhadap anak-anak hebat ini, juga saya lihat sendiri saat saya berkunjung ke sekolah anak autis lainnya. Kebetulan anak-anak autis di sekolah ini sudah berusia remaja. Materi mata pelajaran mereka pun sudah lebih mahir daripada anak-anak yang masih kecil. Mata saya mendapatkan mereka sudah bisa melukis di atas kanvas (bahkan sudah dipamerkan dan dijual), sudah bisa melakukan berhitung dan pembukuan sederhana hasil berhitung tadi, sudah mampu membersihkan diri (berganti baju setelah olah raga, dan mencuci tangan), ada yang sudah bisa mengoperasikan laptop, mampu meminta sesuatu dengan sopan dan sudah mulai menatap mata yang diajak bicara, dan masih banyak lagi hasil kerja mereka yang membuat saya kagum.

Masih belum cukup bukti bahwa mereka itu hebat? Di Indonesia ada satu contoh nyata, seorang anak dengan autisma yang sekarang sudah menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Kebetulan si hebat ini, berkuliah di tempat yang sama dengan saya, walau berbeda fakultas. Do you know him? Oscar Yura Dompas, S.Pd, yang sudah berhasil menyelesaikan kuliahnya beberapa tahun lalu di FKIP, English Department, dengan hasil IPK yang bagus (*kalau tidak salah dengar IPK-nya jauh di atas 3 lah, kalo salah maaf ya*).

Atau masih ingat film Mercury Rising yang diperankan Bruce Willis? Hmmm…kurang hebat apa coba si anak yang diperankan oleh Miko Hughes?

Inti dari panjang lebar tulisan saya di atas adalah rasa kagum saya yang tetap besar pada mereka, juga pada orang tua mereka.

Anak-anak dengan autisma memang kadang tidak paham bahwa menggigit bukan cara lazim untuk berkenalan, bahwa setrika panas tidak boleh ditempelkan pada kulit, atau berbicara dengan orang lain sebaiknya saling menatap, tapi mereka tetap hebat, dengan kemampuan dan fokus luar biasa akan satu hal yang menjadi minat mereka.

Mungkin bagi sebagian orang yang sudah mengetahui bahwa Oscar Yura Dompas didiagnosa dengan autisma ringan, akan ngebatin “Ya terang bisa ampe sarjana tho ya, lah cuma mild autism, kalo yang berat, mang bisa gitu?” tapi ada apa dibalik suksesnya si Oscar? Ada perjuangan dan dukungan orang-orang sekitarnya yang sangat besar, dari keluarga, dari orang di sekitar Oscar.

Atau anak-anak remaja dengan autisma di sekolah yang saya datangi itu, rasanya tak mungkin mereka bisa melukis lukisan hingga laku terjual, kalau tanpa dukungan orang sekitar mereka ‘kan?

Untuk para orang tua yang mempunyai anak-anak dengan autisma, waduuuhhh Pak, Bu, sumpah setengah mati, saya menjura pada Anda. Don’t you ever think bahwa kalian itu orang tua dahsyat luar biasa hebat? Bapak, Ibu dititipkan malaikat kecil dengan kemampuan luar biasa seperti mereka, berarti Bapak, Ibu, diakui kehebatannya dan dipercaya penuh oleh Pemilik Nyawa kita ini, mampu membesarkan, menjaga dan mendidik manusia-manusia hebat itu, anak-anak dengan autisma. Orang tua lain hanya dipercaya untuk menjaga anak dengan kebutuhan yang biasa, tapi Bapak, Ibu yang mempunyai anak dengan autisma, dititipkan anak dengan kebutuhan khusus (*Kalau orang tuanya ga orang tua hebat luar biasa, khusus dipilih dan lulus “ujian saringan” kehebatan menurut standard Allah, ya ga mungkin tho yang Di Atas sana percayain malaikat-malaikat itu ke kalian?*). Dan menurut saya, sepertinya itu adalah salah satu hal yang sebaiknya dijadikan alasan untuk tidak malu mempunyai anak-anak hebat seperti mereka.

Dukungan kepada mereka sekecil apapun sangat berharga termasuk memandang mereka sama dengan kita, yang menurut kita sendiri normal. Jangan anggap mereka berbeda, termasuk dengan berhenti menggunakan istilah autis untuk gurauan kita sehari-hari.

Terus terang saya malu setengah mati, apalagi sebagai lulusan Psikologi, dan saya juga ingin menyampaikan permintaan maaf pada semua orang tua dari anak-anak hebat itu, bahwa saya juga pernah menggunakan autis sebagai bagian dari bahan gurauan sehari-hari, misalnya di status FB: autis mode: ON, atau “Dah ah, gue mau ngautis dulu”. Itu serta merta saya lakukan, karena saya ingin mengatakan pada orang lain “Hey, just leave me alone, I’m busy, don’t disturb me, and I wanna have my own world, now! Go way,” tapi kadang mereka tetap tak membiarkan saya untuk melakukan itu (*Apalagi waktu itu lagi banget, nget, nget dikejar deadline nyelesein skripsi, huuhh*).

Lalu bicara tentang dukungan, kira-kira kita harus mulai dari mana ya? Mulai dari sini…

Stop using word autism for your daily jokes. Start from ourselves, and start it now.

—-

Dedicated to all children with autism, and their great parents…

Tags: ,

4 Responses to “No Doubt, They Are Great…”

  1. silly says:

    Ahhh, dear.

    Dari tadi saya agak lebay karena terharu, jadi rada lama untuk akhirnya bisa ngontrol perasaan, baru jawab. Thanks yah. Iya, saya kenal Oscar Dompas, kenal banget malah… tapi kalo saya terusin cerita, nanti org tahu siapa saya, hehehe.

    Yang kamu maksud itu Diah Puspita? Atau ibu Dian? yang dari Aditya Medical Center?, hehehe… :)

    It’s okay dear, sebetulnya itu cuma himbauan aja kok, jadi kami juga gak berasa hebat ketika dititipin anak autis, hanya saja, kami menghimbau org untuk stop using that word on our daily jokes itu karena tidak semua orgtua bisa kuat, sama aja kok kayak org tua lainnya. Kemarin saya liat ada org yang mikir kami ini hanya minta dikasihani, aduh, enggak banget. buat siapapun yang komen kayak gitu, believe me dear, kami jauh lebih kuat dari yang anda bayangkan, dan tidak perlu dikasihani…

    Tuhhh, khannn nyampah lagi dehhh, hehehhee

    Anyway, makasih banget ya dear… Love you for this lovely post :)

    Silly

  2. OchaOcha says:

    Situ lebay yaaa sill, bilang this is nice post hahahhahaha…ini postingan sebenernya dah ada di otak dr dulu, tapi baru mood nulisnya sekarang…, thank u anyway… :)

    anyway ibu Dian? duuuhhh aku lupa dua nama sekolah itu, yang jelas satu di daerah mulawarman apa ya, satu lagi di wijaya, about Oscar aku ga kenal ama dianya, tapi temen kuliahku dulu ada yang kenal..yg aku kenal adeknya Oscar, ketemu di sekolah musik ituh.

    ya makannya aku bilang…anak2 kalian hebat, kalian juga..ga ada yang perlu dikasihani kok dari kalian…

    keep posting about your lovely cute little girl ya bu…

  3. saya cuma tau ttg autisme dari tipi, ya rising mercury tadi…
    iya, mereka hebat…

    tapi… apapun alasannya, dan apapun kekurangannya (autis, terbelakang, cacat, dsb…), manusia, tak pantas di”katai”…

  4. DewiAmarah says:

    soal salute to mom as jeung silly, ittuh dah pasti…
    really sallut deh..
    aku slalu doa spy para ibu-ibu hebat seperti ini, yg ada di seluruh dunia semakin tangguh walopun sudah tangguh.. semakin kuat meski sudah kuat..

    especially jeung silly, really love to know you jeung..
    keep strong and spirit..

    diam2 aku dah byk berguru darimuh master silly..
    :D

Leave a Reply