Indahnya Perbedaan…

Damai rasanya saat saya melihat barisan wanita bermukena berbaris berjajar saat mereka mengikuti Sholat Tarawih berjemaah, di bagian belakang masjid yang saya lewati. Yang diikuti dengan pemandangan barisan para pria dengan kopiah dan baju koko di masjid bagian depan. Mereka berdiri, bersujud dan menyembah Allah, dengan penuh rasa syukur atas hidup yang diberikan.

Tak kalah damai rasa di hati, saat saya duduk mengikuti misa di dalam gereja, dengan iringan paduan suara yang bertugas melantunkan lagu-lagu syahdu, yang juga merupakan doa yang kami panjatkan pada yang Empunya Nyawa. Apalagi saat perayaan hari raya besar, seperti Paskah (*FYI: yang tidak sama dengan perayaan kematian Yesus, atau Jumat Agung*), dan Natal. Saat semua lagu yang terindah dibawakan; saat Altar terhias bunga lebih meriah daripada biasanya; saat nelangsa dalam hati, karena kesadaran bahwa manusia ini lemah tanpa Tuhan, lebih terasa; saat sukacita karena keluarga kembali ke rumah.

Namun rasa itu terhempas begitu saja, setelah saya teringat penggalan berita yang sempat saya dengar dari televisi. Berita tentang himbauan untuk selalu mewaspadai isi kothbah-kothbah di masjid, yang mungkin saja merupakan hasutan untuk beralih ke jalan yang menyesatkan. Bertambah sedih karena teringat, bahwa kami harus melewati pemeriksaan Polisi di pintu masuk saat kami akan memasuki pintu gereja, terutama pada misa hari raya besar, yang memberlakukan satu pintu masuk dan satu pintu keluar, yang membuat umat lebih lama mengantri keluar dari gereja.

Miris memang kalau ingat hal itu. Dan semua itu terjadi setelah teror bom mewarnai negara kita ini.

Saya ingat betul bagaimana ngerinya liputan televisi tentang tragedi teror bom di banyak gereja, yang terjadi saat perayaan Malam Natal tahun 2000, merupakan teror bom pertama kali di Jakarta; yang kemudian disusul teror-teror bom di tahun-tahun berikutnya, di berbagai wilayah Indonesia, yang juga sangat mengerikan. Teror bom yang dilakukan karena tujuan tertentu, tujuan di mana menentang adanya pluralisme, yang merupakan suatu hal yang mendasar dari sebuah kehidupan, sejak kita dilahirkan.

Saya? Perempuan. Kamu? Laki-laki. Dan kamu satunya? Perempuan. Saya? Jawa dengan campuran sedikit Manado. Kamu? Mungkin Jawa bercampur Cina, mungkin Ambon bercampur Batak. Dan dia? Manado campur Aceh campur Portugis. Eh, atau dia yang di sana? Jawa, Manado, Cina, Belanda. Saya? Beragama Katolik. Teman saya yang satunya? Kristen Protestan. Kamu? Muslim. Atau dia, yang seorang Hindu. Yang di sebelah sana, kalau berdoa di Vihara. Saya kadang bicara dengan bahasa Indonesia, kadang bahasa Jawa. Kamu mungkin berbahasa Sunda dan kadang bicara Mandarin (*Ajarin gratis dounks hahahaha*). Si peranakan Jawa-Prancis di sebelah sana, terdengar seksi saat berbicara dengan bahasa Prancis (*Parlez Fran├žais Monsieur?*)

Pada dasarnya Tuhan menciptakan kita sudah dengan segala ciri khas masing-masing yang melekat ke diri kita, dan tentunya karena itu semua adalah suatu yang khas, pada akhirnya akan membawa ke perbedaan antara satu dengan yang lain. Dari yang paling dasar saja, jenis kelamin sudah dibedakan, letak geografis yang mendasari terciptanya suku bangsa dan bahasa, juga berbeda; kita pun mempunyai cara yang berbeda-beda untuk berkomunikasi dengan Allah.

Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah kehidupan akan lebih damai saat yang berbeda itu dapat hidup berdampingan, tanpa curiga, tanpa rasa takut, tanpa iri hati dan benci? Bukankah yang berbeda itu ada untuk dapat saling mengisi dan melengkapi satu sama lain?

Semoga himbauan untuk terus memperhatikan khotbah dan ajaran-ajaran pemuka agama, karena adanya rasa takut, kalau-kalau ajaran tersebut dapat menjerumuskan, juga penjagaan polisi di pintu depan gereja tidak perlu ada lagi. Hanya karena kita sudah bisa berdamai dengan diri sendiri, dan berdamai dengan orang lain dengan segala perbedaannya. Hanya karena semua manusia sudah menjunjung tinggi dan menghargai pluralisme.

Tags: , ,

6 Responses to “Indahnya Perbedaan…”

  1. Enak bgt baca blognya. Meskipun panjang, tp msh tetep mau baca gue.. Salam kenal ya Rosarini :)

  2. hmm….
    Itulah sayangnya…
    Manusia tak bisa lagi melihat keindahan pluralis itu….
    Mereka punya mata. Mata yang buta.

    Saya ini orang batak tulen yg 6 taun di surabaya, suatu kali saya bertemu dgn org jawa yang karena memiliki banyak teman batak dia jadi tau sedikit bahasa batak… Di salah satu episode kehidupan kami berdua, dimana saat itu bagi kami makanan itu yang penting kuantitas, kualitas nomor 2,

    Saya (dgn bahasa jawa): Arep mangan opo iki..?! (Mau makan apa sekarang)
    Dia (dgn bahasa batak): Bah, mangan ahe pe jadi do, dang masala i, na petting butong… (Makan apapun jadilah, gak masalah, yang penting kenyang).

  3. DewiAmarah says:

    sebenernya perbedaan itu indah,
    namun kwalitas manusia (Indonesia) sekarang sudah semakin dangkal..
    tak banyak yang punya pemahaman sama seperti mbak…

    mudah2an “jalan pikiran” seperti punyah kamu bisa menular..
    biar semua yang baca tertular, dan menyadari.. :D

    uh, shake hand dulu sm bang bandits..
    we are bataknese..
    :D

  4. ipied says:

    masalah rasialis, agama, suku, dll.. sungguh maslah yang sangat sensitif..
    memang perlakuannya semakin tidak mengenakkan dari hari ke hari :(

  5. tabib muda says:

    Mampir, salam kenal.
    “Catatlah Ilmu dengan menuliskanya”
    memalui sebuah blog :)

  6. silly says:

    Ahhh dear, kamu emang bener, seharusnya perbedaan agama tidak disikapi dengan berlebihan, sehingga malah menimbulkan gap diantara kita. Waspada perlu, tapi akan jauh lebih indah jika kita saling menjaga. Perbedaan itu indah kok :)

    Nice post dear. Eh ya, kapan2 ngobrol lagi yukkk :)

Leave a Reply