Kalo Elo Boleh? Giliran Gue Gak Boleh?…

“Yang gue sebel, dia harus dibolehin jalan ama cowok manapun, mau temennya, mau mantan pacarnya, pokoknya harus diijinin. Tapi kalo gue, jangankan jalan ama temen gue yang cewek, jalan ama temen-temen gue yang cowok pun di betein, terus kalo dia gue ajak, ga bisa nyambung, trus mukanya ketekuk 17 lipet.”

—-

“Ochaaaa, gue sebel, masakh di hapenya ada foto cewek lain.”

“So?”

“Kok elo gitu?”

“Ya biar aja, ga usah dimarahin.”

“Aaarrrgghh, curhat ama elo bikin bete ya kadang.”

“Elo sayang ama dia? Ya bilang pelan-pelan, ga perlu ngomel-ngomel parah, kalo ga bisa juga ya udah diemin aja. Dan berarti elo bisa juga nyimpen foto cowok lain bukan? Hahahahahaha.”

—-

“Itu yang gue sebelnya. Dia boleh tuch kalo bete dikit aja, nulis-nulis di blognya tentang betenya, terus mulai deh kayak nunjukkin dia masih ada rasa ama mantannya. Ya, kalo misalnya dia masih ada rasa kayak gitu, ya mbok jangan ditulis di publik, n jangan ditunjukkin ke gue ya. Gue sih ga merasa tulisannya dia waktu itu tentang gue. Trus giliran ada satu temen gue aja ya yang perhatian ama gue, ngasi info tentang kerjaan gue nih padahal, gue dibeteinnya setengah mati.”

“Hmmm, tapi kalo gue bilang sih, ya mending dia tulis sih. Jadi elo tau, daripada diem-diem di belakang? Mungkin gue yang aneh sepertinya, apa-apa mendingan gue omongin ke cowok gue. Mau kata gue kangen ama laki mana, gue jalan ama hantu belau mana, bahkan tiap postingan gue, gue email ke dia. Gue mendingan bilang, dan mang itu sih perjanjian dari awal. Trus kalo urusan elo ga suka yayank lu kayak gitu, ya tinggal bilang toh ama dia?”

“Waktu itu sih dia gue diemin seharian.”

—-

Itu adalah tiga kasus hasil curhatan beberapa kenalan saya tentang hubungan mereka dengan (mantan) pasangan mereka.

Dan yang di bawah ini adalah kasus saya sendiri (*Tanpa perlu menyebutkan tahun kejadiannya ya, ntar yang bersangkutan protes lagi gue tulis-tulis di sini*)…

“Kamu kenapa sih kalau ketemu temen kamu, cowok apalagi, most likely sun pipi.”

“He? Kamu tanyain itu ke aku? Ya, jawabannya karena mereka temen aku, udah lama ga ketemu.”

“Hmmm, tapi ‘kan itu cowok.”

“So?”

“Kan ga perlu sampe kayak gitu juga.”

“Itu cuman sun pipi gituh. Dan aku kan juga ga ngelarang kamu mau kayak gitu ama temen-temen lama kamu.”

“Tapi aku ngga.”

“Trus, gimana? Aku mesti menghindar gitu, narik diri? Gak bisa, apalagi kalo mereka temen deketku. Gak mungkin banget deh.”

Akhirnya larangan itu tak saya gubris sama sekali, saya tetap melakukan tradisi cipika-cipiki dengan teman-teman (lama) saya, saat kami bertemu lagi, apalagi setelah tahunan tak bertemu.

Tapi nih ya, setelah larangan itu dilontarkan, ada satu kejadian yang…(*Baca dulu deh*)

Suatu hari, karena saya tahu jadual aktivitas dirinya setiap hari, dan karena hati sedang ingin memberikan kejutan untuknya, akhirnya saya datang ke tempatnya beraktivitas.

Namanya kejutan, pasti tak ada pemberitahuan terlebih dulu ‘kan ya?

Saya datang dari arah belakang tempatnya melakukan aktivitas siang itu, dan kebetulan saya sudah melihatnya dari jauh, ia sedang di depan tempat itu. Jarak dari titik pertama kali saya melihatnya (tanpa ia melihat saya) itu cukup jauh, sehingga masih sempat beberapa tingkah lakunya yang tertangkap oleh mata saya. Dan tingkah laku inilah yang tertangkap oleh kedua mata saya (*Yang masih bisa menangkap dengan jelas, tanpa harus mengenakan kacamata yang seharusnya saya gunakan*)…

Dirinya: Sedang berdiri di depan tempatnya beraktivitas dan sedang berbicara dengan salah satu temannya, yang kemudian pergi meninggalkannya. Dan akhirnya ia berdiri sendirian di depan tempat aktivitasnya, sambil bertolak pinggang.

Tak berapa lama, ada seorang perempuan yang keluar dari pintu tempatnya beraktivitas ke arah dirinya. Tiba-tiba si perempuan itu gelendotan di tangannya yang sedang bertolak pinggang tadi, dan menempelkan kepalanya di pundak si dia.

(*Doooohhhhh? Menurut looohhh?*)

Dan saat itu reaksi saya hanya terus berjalan menghampiri si dia, yang sedang di-gelendoti oleh satu perempuan, dan setelah sampai, saya menepuk pundaknya dan mengatakan ini…

“Aku ke ATM dulu ya, ntar aku balik ke sini lagi kalo kamu dah ga sibuk.”

Setelah saya selesai ke ATM, saya kembali menghampirinya, dan seketika mendapatkan seribu penjelasan tentang kejadian itu. Dan saya hanya menjawab…

“Gak papa, dimengerti kok, tapi berarti aku boleh ya sun-sunan ama temen.”

Tapi bukan berarti saya malaikat selalu looo, dan dua komentar, di dua kasus terakhir teman saya, yang saya contohkan di atas, juga tidak serta-merta meluncur dari mulut saya tanpa “kemplangan” yang keras sebelumnya, dari seseorang.

Tanpa disadari, saya juga pernah melakukan hal yang sama terhadap seseorang. Terhadap si itu (bukan si dia yang tadi di-gelendoti). Melarang si itu melakukan suatu hal, tapi secara tidak langsung saya melarangnya untuk melarang saya melakukan itu.

Untungnya si itu sangat mampu “mendidik” saya sampai lulus.

“Kalo kamu boleh gitu? Giliran aku ga boleh? Kok enak. You really want to hear want you want to hear ya.”

(*Ada yang ketampar*)

Reaksi saya? Pasti bete saat merasakan “tamparan” itu, tapi lama-kelamaan saya kok merasa beruntung ya, ada orang yang segila itu, mau memberitahu saya untuk melihat hal yang seharusnya juga saya lihat, mendengar hal yang juga sebaiknya saya dengarkan.

Dan memang dasar masokis, karena ingin mendapat didikan dengan level lebih gila, setelah si itu saya memilih si anu, yang saya tahu persis akan memberikan saya “kemplangan”, “tamparan” kasih sayang yang lebih dahsyat.

(*Daripada ngelantur kejauhan*)

Intinya adalah…(*Simpulin sendiri ga bisa ya? :D*)

Ya, sekarang pilihan ada di tangan kamu, untuk menentukan ke mana arah hubungan akan dibawa.

Bukankah ada baiknya jika semua hal mengganjal, dibicarakan baik-baik bersama, tanpa harus menjadi penyanyi bersuara sopran (baca: tanpa nada tinggi saat bicara), daripada pasangannya curhat dengan orang lain? Kalau sudah urusan curhat dengan orang lain, bukankah artinya rasa nyaman curhat dengan pasangan yang seharusnya menjadi orang kepercayaan untuk menumpahkan apa saja, sudah tidak ada di dalam hubungan yang terjalin?

Lalu, coba pikir lagi deh, di mana kedewasaan diri saat ego pribadi ditinggikan? Maunya hanya melarang, apalagi tanpa alasan masuk akal, tapi tidak mau dilarang sama sekali, walaupun hal itu masuk akal?

Dan kalau sekarang-sekarang ini saya bertemu dengan orang seperti itu? Sudah saya tendang jauh-jauh ke Timbuktu…(*Ciiiaaaatttt…*)

Tags: , , ,

13 Responses to “Kalo Elo Boleh? Giliran Gue Gak Boleh?…”

  1. aie says:

    Hmmm… password account fb suami saya masih pakai nama mantannya ^_^
    Bete sih waktu baru tau, tapi pikir2 saya jg kadang ketemu mantan saya dan dia tidak protes, toh sudah jd masa lalu

  2. Heheheh….
    Sedikit menyimpang dari topik…

    Ada orang (yg tak tampan) bilang ke pacarnya, tak apa” masa pacaran kita habiskan untuk bertengkar, asal nanti setelah menikah kita tak punya waktu untuk bertengkar… (sedikit impossiblelah),,,, daripada semasa pacaran kita habiskan dgn berpura-pura baik saja, melakukan hal” yg seharusnya kita lakukan setelah menikah, dan setelah menikah malah kita tak habiskan untuk bertengkar dan mencari penyelesaian di luar pernikahan kita…

    bah kok panjang kali pula aku ngomong disini… hehehe

  3. btw saya kok ga ada di membernya ya? pdhl kan sudah saya follow.. :D

  4. Chic says:

    ahahahahahaha…. suka sebel ya Mbak? sok ngelarang-larang padahal dia sendiri kayak gitu juga.. hmmmmmm :lol:

  5. OchaOcha says:

    @ aie: hehehhe…mang enakkan gitu ‘kan?

    @ bandit: iyaaa llooohhh panjang kali kau komen hahahaha, untuk urusan si follow2an itu..saya ga ngubah settingannya loohh..coba diulang aja gimana? :D

    @ chic: hahaha itu duluuuuu chic..sekarang satu ga bisa dilarang..satu lagi..sangat memahami dan mulai ga bisa dilarang juga..dan lama2 berprinsip sak karepmu dengan koridor yang wajar dan disepakati…hehehhehe…

  6. KangBoed says:

    Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  7. Dwi Wahyudi says:

    Kunjungan di pagi hari yang cerah dan salam kenal sebelumnya dari sesama peserta Pesta Blogger 2009

  8. OchaOcha says:

    Salam kenal juga, ma kasih udah mampir :)

  9. OchaOcha says:

    Ma kasin KangBoed..walaupun saya tidak ikut menjalankan puasa. Saya yang seharusnya mengucapkan selamat berpuasa. Dan hmmm…sepertinya KangBoed tak ada salah ke saya sih…tapi tetap lah permintaan maafnya saya terima.

  10. Appleomyeye says:

    @ aie: Kasus kasus ini banyak dapat ditemukan.. karena mungkin sudah lama menggunakan nama itu untuk berbagai macam passwords. Saya malah masih pakai tanggal jadian dgn mantan utk PIN ATM.. hehehe.. karena sudah 1 dekade lebih pakai kombinasi itu dan mudah diingatt…

    @ Ocha: I guess the blogger is not the only who’s insecure.. lol.. Laki laki tuh mahluk lemah.. lemah akan belaian wanita.. laki laki mana yg ga seneng di gelendotin ce? mungkin mereka yg seneng di gelendotin co. :) no matter.. it’s a sign of affection… asal ga disalah artikan kan seharusnya tidak apa apa toh? Demikian dengan cipika cipiki.. Gw malah ngerasa ga sopan kalau sahabatan lama tapi ga cipika cipiki waktu ketemu.. or a friendly hug between guys.. ya ga si?? I’m also in support of a friendly peck between ex-es.. but I bet my wife would have a problem with that.. :).. lol.. take care..

    -a fan-

  11. OchaOcha says:

    @ Apple: says who im insecure…im such a person with high tolerate for those kind of things. I trust completely my guy…toh ntar kalo dia aneh2 ya pasti ketauan dengan sendirinya. Untuk urusan cipika cipiki, thats why gue waktu itu ga mau memberhentikan tradisi itu…gila ajah looo…Terus2 urusan ex-es hmmm…i’m a lucky one…siapapun yang ada di samping gue memberikan toleransi yang besar pula untuk urusan itu, dan gue juga…tapi kadang yang ada di samping mereka sekarang ini yang akan memberikan indikasi mereka masalah dgn gue…mungkin kayak yang elo bilang…im such a pretty counselor *dilempar gilesan cucian* hahahah…

    btw…so now i know your ATM PIN, :mrgreen:

    -a fan of yours too-

  12. Appleomyeye says:

    @ Ocha: I thought writing blogs and being an introvert is your way of dealing with insecurity? Am I wrong then? hehehhe.. The problem with marrying your bestfriend, is that he/she knows your every move. So even a cipika cipika can be interpreted in 10 different ways. haha..

    btw, about the ATM PIN.. have fun guessin :D

    -a fan-

  13. OchaOcha says:

    yah..that’s one of reasons i’m writing blogs..in our word, maybe it is called as self-defense mechanism…hahahhaha…

    so u tried to tell me this: Don’t marry your best friend ‘Cha!!!! hahahaha (i’m glad that you’re taken now *oooooppssssss kiddding my man!*)

    hmmm…so now it’s my homework to find out which girl yang elo ingat terus di PIN atm ituh…*hahahhaha*

    miss u bro!!!

    -fan of yours too-

Leave a Reply