Malaikat Tak Sempurna…

Melewati daerah semi “Bronx” setiap pulang kantor, bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi jika saya pulang kantor sedikit lebih terlambat daripada biasanya, saat matahari sudah benar-benar menghilang terlelap.

Maklumlah, saya menggunakan kendaraan umum saat bepergian, terutama untuk pergi dan pulang kantor. Ya, namanya juga kendaraan umum (apalagi bukan taksi), pintunya tak pernah tertutup, yang berarti pula terbuka untuk siapapun untuk memasuki kendaraan itu.

Saya hanya bisa berdoa dalam hati, agar perjalanan saya tidak diganggu oleh orang-orang iseng, yang sempat beberapa kali memang memperlakukan penumpang secara semena-mena, bahkan penumpang yang jarak duduknya tidak jauh dari saya. Puji Tuhan, hal itu tidak (akan) menimpa diri saya.

“Duh, lewat daerah itu ntar dah gelap lagi. Our Father, Jesus, Mother Mary, St. Joseph, and Holy Spirit please be with me always.”

Hanya berbekal kalimat itu, yang mengawali langkah kaki saya saat bepergian, terutama pulang kantor di saat hari sudah gelap.

Namun kekhawatiran saya seperti itu, sering tergantikan dengan indahnya berbagai liputan jalanan yang bisa saya nikmati, tanpa harus berkonsentrasi dengan kendaraan yang saya kendarai, atau dengan lalu lintas Jakarta yang tak pernah jelas, atau dengan pengendara motor yang sering membuat saya bludreg (*Hehehe, sorry to say, tapi memang saya prefer masuk tol untuk menghindari ugal-ugalan si pengendara motor*).

Begitu pun dengan hari Jumat lalu. Saat saya baru bisa menginjakkan kaki keluar kantor, saat hari sudah gelap.

“Ah sudah lah, doa, pasrah and usaha.”

Saya pun menaiki kendaraan yang saya tahu akan membawa saya ke tempat tujuan. Memilih bangku yang dirasa cukup nyaman untuk saya duduki selama perjalanan. Sambil sesekali melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri saya.

“Beneran nih, ampe daerah brengsek itu dah gelap, sepi and macet.”

Ditambah saat itu saya adalah satu-satunya penumpang di dalam kendaraan.

“Biarlah. PD kelas berat gue.”

Namun rasa khawatir karena saya satu-satunya penumpang di sana, tak berlangsung lama. Ada penumpang lain yang naik ke kendaraan. Dan hei, penumpang ini sangat menarik perhatian saya selama perjalanan kali ini. Bukan karena penumpang ini ganteng atau cantik, wangi, atau berpakaian aneh-aneh, tapi karena penumpang ini saya anggap luar biasa.

Ia seorang pria, kira-kira berusia 40 tahunan, berpakaian putih dan berkopiah. Ia seorang pedagang, yang baru saja selesai berdagang. Saat ia ingin naik ke kendaraan, ia terlebih dahulu menaikkan perangkat ia berjualan, seperti gentong kecil, kayu pikulan, dan ember kecil yang berisi gelas-gelas kecil pula. Barang-barang yang dinaikkan, masih diatur seadanya, yang penting naik ke kendaraan. Termasuk tongkat yang menjadi alat bantu ia untuk berjalan. Dan terakhir yang berusaha naik ke kendaraan adalah si empunya peralatan jualan tadi.

Bukan hal mudah bagi dia untuk naik ke kendaraan. Tidak semudah kita, setidaknya saya, yang Puji Tuhan, Alhamdulilah, yang masih diberi organ tubuh yang lengkap dan tak bercacat.

Ia duduk dulu di undak-undakan di pintu kendaraan, lalu ia memutarkan badannya, sambil seperti “memapah” salah satu kakinya yang cacat itu, yang maaf sekali, kakinya tampak benar-benar lunglai klewer-klewer (seperti patah, tapi semoga tidak patah). Miris ya membayangkannya? Saya pun melihat kondisi kakinya itu dengan penuh rasa iba. Namun semua rasa iba itu hilang saat saya lihat ekspresi wajahnya, dan senyum renyahnya yang menyapa para penumpang, yang kebetulan bersamanya ada beberapa penumpang lain yang juga ikut naik.

Saya pun akhirnya mengetahui bahwa ia adalah penjual es jeruk, dari papan kecil yang tulisannya sudah mulai pudar, yang tergantung di pegangan gentong kecil, tempat ia menyimpan es jeruk buatannya. Es jeruk yang dijualnya dengan harga Rp.1.000 setiap gelasnya.

Dengan banyaknya barang bawaannya, kendaraan tampak penuh, padahal masih bisa diisi oleh beberapa penumpang lagi. Dan saat kendaraan diberhentikan oleh penumpang yang ingin masuk, dan nyaris saja membatalkan niatnya itu, si tukang jeruk ini, bergegas kembali membereskan peralatannya, sampai-sampai ia harus memeluk gentong kecil itu, yang membuatnya tampak semakin mendelep.

Sampailah kendaraan yang saya tumpangi itu di daerah yang dijadikan tempat nongkrong kumpulan anak punk, para preman, pengamen, sampai peminta-minta yang caranya setengah mengancam para penumpang. Doa saya pun semakin kencang saat saya berada di daerah itu.

Saat ada satu anak punk yang dulu beberapa kali sempat (mungkin) mengamen, tapi tak jelas itu, hendak naik ke kendaraan yang saya tumpangi, namun baru saja ia hendak duduk di bangku yang di dekat pintu, ia mengurungkan niatnya, seiring ia melihat si tukang es jeruk itu.

Dan si supir yang sepertinya sudah mengenal si tukang es jeruk, bertanya padanya…

“Kenapa dia ga jadi masuk?”

“Hahahha, tauk tuch, liat gue dia sepertinya”, jawab si tukang es jeruk.

Dan dari kaca jendela kendaraan, saya melihat kumpulan anak-anak punk di sekitar sana, melihat ke arah si tukang es jeruk itu, seolah sungkan bahkan takut dengan dirinya.

“Weitttsss..kenapa mereka bisa sesungkan itu ya, sama si tukang es jeruk?” pikir saya bingung.

Perjalanan terus berlangsung, seiring penumpang yang satu per satu sudah harus turun, karena telah sampai ke tujuan. Kembali tinggalah saya, si tukang es jeruk, satu penumpang lainnya, dan si supir.

Keleluasaan saya mengamati, bahkan mendengar percakapan si tukang jeruk dengan si pak supir pun semakin besar.

“Hahaha, ia lohh..gue kalo ga kerja, mana bisa gue ngidupin istri anak gue ‘kan?”

Namun sayangnya itu satu-satunya kalimat yang saya ingat betul terucap dari mulut si tukang es jeruk.

Tibalah si tukang es jeruk ini harus turun, karena ia sudah sampai di tujuan. Si supir sengaja memberhentikan kendaraannya di depan pangkalan ojek. Mungkin maksudnya, agar si tukang es jeruk itu mendapat bala bantuan untuk menurunkan peralatan jualannya. Dan ternyata memang benar, (mungkin ini juga sudah menjadi langganan tiap hari) para tukang ojek di luar sana, sudah bersiap-siap membantu si tukang es jeruk untuk turun. Dan kembali si tukang es jeruk ini setengah “memapah” kaki cacatnya, yang tak tampak sama sekali menyiksanya.

—-

Did you get something from this story?

I did. Guy with this disability, bisa tetap cerianya menjalani hidup, setidaknya hidupnya yang saya lihat kurang dari 1 jam itu. Cacat kaki tak dirasakan olehnya, tapi mengapa sering kali orang yang bertubuh lengkap dan tanpa cacat lebih banyak mengeluh daripadanya?

Lalu, mengapa orang lain, sungkan terhadapnya? Terhadap dia yang cacat. Namun mengapa terkadang masih ada orang yang tidak menghargai kita yang tak cacat secara fisik ini?

Dan satu hal yang tak terkira saya rasakan, orang ini, yang notabene mempunyai predikat orang cacat, telah memberi saya rasa aman, sepanjang perjalanan.

—-

Tuhan menjawab doa saya, dengan mengirimkan malaikat tak bersayap, dan tak sempurna yang hadir menemani perjalanan saya saat itu.

My God, big thanks to you, Sir! Really I do.

Thank u Father, Oom J, Mother Mary, St. Joseph, and my Holy Spirit for sending him to me!

Tags: , ,

5 Responses to “Malaikat Tak Sempurna…”

  1. Toga says:

    setiap hari, tuhan menurunkan malaikat2-nya, kdg tepat di depan hidung kita… tp ga semua kita seperti mba, yg bisa mengenalinya, belajar satu dua hal penting darinya…

    mksh, saia jg bisa ikut nebeng belajar… malam2… :D

  2. Chic says:

    ah ya jarang-jarang ketemu pengalaman berharga seperti itu Mbak, apalagi sampe mengambil hikmah nya… :D
    Hanya oarang-orang yang peka yang diberi kemampuan untuk melihat si malaikat tak sempurna itu :)

  3. astrid says:

    yup..

    that’s why im being so interested with them!

  4. devi says:

    jadi pengen nyanyi nih Chaaa.. :D
    Tuhan itu memberi kita pelajaran & perlindungan justru bukan dari hal-hal yang besar atau melalui orang yang kuat. Tapi justru dari hal-hal kecil & malaikat tak bersayap yang kamu ceritakan tadi.. :)

  5. OchaOcha says:

    Kok nyanyi si mbak Dev? duh kadang ya manusia terlalu asik ama diri sendiri ampe ga sadar ama hal-hal kecil yang sebenernya punya arti geeedddeee…thanks for visitin my blog ya dear…

Leave a Reply