Do Love Being Skinny and Proud of It…

Beberapa bulan yang lalu, seseorang yang sudah tahunan tak bertemu dengan saya melontarkan komentar ini, saat saya kembali bertemu dengannya…

“My goodness ‘Cha, you’re so skinny.”

Beberapa bulan setelah itu…

“Nih, kamu capekh ‘kan, n udah aku masakkin, ayo makan yang banyak, biar gemuk.”

Dua hari yang lalu…

“Dah sarapan blom?”

“Udah donk, I never skip breakfast coz it’s the most important meal.”

“Good then, biar gemuk.”

Komentar-komentar seputar berat badan saya yang termasuk underweight ini sudah menjadi agenda rutin saat saya bertemu dengan seseorang, apalagi kawan lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Termasuk urusan meminta saya untuk menaikkan berat badan.

Saya paham betul, dengan proporsi berat tubuh 44 kg dan tinggi 162 cm, dan ukuran semua pakaian di seputar XS dan S, semua orang pasti mengatakan saya kurus, bahkan seseorang memberikan panggilan sayang untuk saya dengan “Bonnie”, yang berarti tulang (*Tapi cantik ‘kan? Wakakakakak :lol:*).

Sewaktu remaja, yang biasanya remaja perempuan sedang sangat concern dengan berat tubuh mereka, saya malah tak terlalu peduli, dan cenderung santai, karena saya tahu saya sulit menggemuk dalam sekejap. Saya tidak suka camilan, saya tak menggilai es krim atau coklat, dan porsi makan saya sedikit tapi sering.

Namun setelah semakin bertambah umur, dan saya juga melihat mama yang dulu juga sangat kurus (bahkan di usia yang sama dengan saya sekarang, mama lebih kurus daripada saya) sekarang berubah menggemuk, saya jadi berpikir, dan ini saya ungkapkan ke mama…

“Ntar gue segede apa ya Ma? Dulu aja kamu kecil banget sekarang gemuk gitu. Waduh-waduh mesti jaga badan neh.”

“Iya, gue juga bingung, dah mondar-mandir ngurus cucu, masih aja segede ini. Makannya jaga badan dari sekarang.”

Dan hal itu sudah saya pikirkan sejak beberapa tahun lalu, apalagi sekarang.

Dari urusan makan siang di kantor, saya memilih untuk membawa dari rumah, selain bersih dan sehat, masakan si mama itu tak ada tandingannya deh. Sangat enak.

Belum lagi pertimbangan karena mempunyai titik lemah di organ pencernaan yang membuat saya harus berhati-hati terhadap maag. Penyakit ini sebenarnya sudah mulai saya alami sejak saya duduk di kelas 5. Dan telah menyebabkan saya opname 2 kali, yaitu saat kelas 5 itu, dan terakhir yang sangat parah di tahun 2000 lalu, bahkan opname terakhir ini, menyebabkan pertama kali saya harus merasakan cairan intra vena yang menyebalkan itu.

Padahal dulu, sewaktu kecil terkena demam berdarah, dan juga opname, jarum infus tak dipasangkan ke tubuh saya, karena dokter yang merawat saya bertanya pada saya “Mau diinfus, atau mau minum air putih 1 gelas besar tiap 5 menit?” dan saya lebih memilih meminum air putih daripada harus terkena jarum infus.

Opname di kelas 5 SD itu saya masih terbebas dari infus, tapi tak dengan opname di tahun 2000, saat saya benar-benar kehilangan cairan, setelah diare dan muntah berkali-kali, tak terhitung jumlahnya, cairan intra vena pun terpaksa dipasangkan di pergelangan tangan saya. Hanya karena saya terlambat makan siang selama 2 jam. Hanya karena 2 jam yang berakhir menyebalkan.

Penyakit maag akut yang merupakan pengalaman traumatis itu, membuat saya memilih untuk tak membiarkan perut saya kosong, apalagi jika sudah terasa lapar. Namun mengkonsumsi camilan atau biskuit-biskuit yang dapat menggemukkan badan? No, no, no, tidak saya lakukan. Lebih baik saya menuang oatmeal ke dalam gelas dan menyeduhnya.

Kebutuhan kalsium untuk tulang dari susu, juga saya perhatikan. Dan susu tanpa lemak, dari satu produk andalan yang namanya hanya 3 huruf itu menjadi pilihan saya.

Ah tinggal satu hal yang belum kembali rutin saya lakukan seperti dulu. Olah raga.

Gym? No, I don’t like it. Bertubuh kecil begini, tapi olah raga yang dulu sempat 10 tahun rutin saya jalani (rutin dari tahun 1998-2008) adalah tenis lapangan. Papa yang membawa saya ke olah raga ini. Namun sayangnya, sekarang sedang vakum, karena pelatih saya pindah kota.

Dulu niy, ada satu masa di mana saya menjalani tenis ini dua kali seminggu, Kamis dan Minggu. Masa lainnya, Sabtu bowling, dan Minggu tenis. Masa lainnya lagi, Kamis joging di Senayan (*Terakhir sampai 7 putaran stadion non-stop loh*), dan Minggu tenis. Masa lainnya, Sabtu berenang dan Minggu tenis.

Sekarang? Huaaaa…belum rutin lagi. Saya rindu lapangan, apalagi mengingat tenis ini bisa saya jadikan ajang katarsis kekesalan atau kemarahan saya.

Ada teman saya yang pernah mengatakan ini…

“Ocha mana bisa gemuk?!”

dan sekarang saya akan menjawab…

“Berat gue naik kok, lulus SMA 38 sekarang 44.”

(*FYI, saya lulus SMA itu lebih dah laaaaammmaaaa, hahahaha*)

—-

Hmmm, tak perlu menyuruh saya menaikkan berat badan ya, karena saya akan katakan ini…

“I love being skinny and I am proud of it.”

Apalagi papa memanggil saya dengan si Twiggy (*Hihihiyyy…I’m such a super model for him, wakakakakak*).

—-

*Nyari coach tennis baru aaaahhh, really miss this sport*

Tags: ,

2 Responses to “Do Love Being Skinny and Proud of It…”

  1. ipied says:

    beruntungnya dirimu skinny wekekeke

    dulu gw juga segitu beratnya 42 jaman sma. itu dah berasa kurus banget, dan gw seneng… lah setealh kuliah kok makin naik dan sekarang pas kerja juga gitu. wedew… saya jadi stres dengan pertambahan yang nyebelin.
    tersiksa kalo harus beli baju lagi :( gak nyaman kalo badan membesar, lebih besar dari sebelumnya :p

  2. OchaOcha says:

    Itulah Pied…aku bener2 berniat untuk menjaga badan segini2 ajah…ini aja 44 dah agak2 menghinaku..hahahahha pengennya 42-43..nyokab bilang soalnya gemuk ga enak..gerak susah dll…apalagi dulu dari kurus banget ya..jadi berasa banget bedanya saat kurus ama jadi gemuk…

Leave a Reply