Chit Chat After Midnite…

Jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul 01.30 dini hari, saat kemarin saya melihatnya. Dan saya memutuskan untuk menyudahi balas-balasan komentar dengan seseorang, di salah satu media internet di mana saya menjadi anggota (*Tinggal pilih deeh, FB, Twitter, Introverto, Ngerumpi*). Saya biarkan komentar terakhir darinya, tidak terbalas.

“Mari tidur lebih cepat. Dah setengah dua. Matiin laptopkyu.”

Seperti biasa, sebelum tidur, saya meletakkan si Bébé di rak di samping tempat tidur saya, karena tiap pagi ia harus bertugas membangunkan saya untuk bersiap-siap mencari segepok berlian, walaupun usahanya sering kali sia-sia (*Lebih mempan treakan si tengah dari lantai bawah yang membangunkan saya*).

Dan kali ini, saya melihat ada sebuah pesan yang sangat singkat di layar si Bébé, dari seseorang yang komentar terakhirnya tadi saya biarkan tak terjawab.

Orang itu: ;p

Saya: Kangen ‘kan loe ama gue?

Orang itu: Salah?

Saya: Gak

(*Buset nih anak belom tidur jam segini? Tumben?!*)

Manusia itu pernah mengingatkan saya untuk tidak terlalu sering tidur larut malam, saat beberapa kali ia masih menemukan saya bertengger di media daring (online), di atas pukul 24.00 (*Jam segitu baru hot-hotnya nulis biasanya*).

Dan saya pun kembali mengirimkan pesan singkat padanya…

“Tumben loe belom tidur?”

“Iya, mumet, bokap sakit…”

Ia pun menyebutkan penyakit yang sedang dialami ayahnya, yang kebetulan sama dengan yang dialami oleh si Papa, dua tahun yang lalu.

Niat saya untuk tidur lebih cepat pun gagal kali ini. Mulailah saya membuka buku telepon si Bébé, dan menelepon dirinya…

“Trus bokap gimana? Pantesan lu belom tidur hari gini.”

“Telepon juga khan luuuu? Pinter ‘kan gue mancingnya.”

“Hah…ini juga kalo ga berita tentang bokap lu, gue males juga kali tilpun elu.”

Di awal obrolan, saya hanya berbagi pengalaman saat saya mengurus papa yang saat itu mengalami penyakit yang sama dengan ayahnya teman saya ini. Sama-sama merupakan pengalaman untuk pertama kalinya. Jadi kurang lebih saya tahu bagaimana rasanya menghadapi dan harus menerima kenyataan bahwa ternyata penyakit itu menyerang orang tercinta.

Panik, harus keluar masuk ICU, harus mutusin segala persetujuan prosedur pemberian obat yang harus ditandatangani keluarga, harus konsultasi ke dokter dengan setengah cerewet dan kritis, belum lagi harus memeriksa kondisi biaya kamar ICU yang bisa melonjak dahsyat dalam hitungan jam. Harus menjadi penghubung antara pihak keluarga besar, teman-teman papa, tetangga dan keluarga saya sendiri. Dan yang terpenting meyakinkan papa, ia harus tetap semangat untuk kembali sehat. Terus terang, saya pun bingung, saya sanggup menghadapi itu semua, tentu dengan bantuan yang lain juga lah, tak mungkin saya sendiri.

Setelah berbagi pengalaman, dari urusan sisi psikologisnya, juga tindakan medis yang mungkin harus dijalani oleh ayah si teman ini, kami pun mulai dengan aktivitas kami seperti biasa, jika kami bicara di telepon. Céng-céngan, ngécé, cela-celaan dan candaan lain yang…aahhh…biarlah hanya kami berdua yang tahu (*Weeeittss, nangkep lemparan ember nih gue barusan*).

Bicara dengan manusia itu, tak pernah kehabisan topik. Mungkin kami berdua cocok kalau berprofesi sebagai penyiar radio, yang salah satu syaratnya adalah mampu menyambungkan banyak hal menjadi masuk akal, sekalipun hal itu tidak masuk akal untuk disambungkan.

Dan tiba-tiba sambungan telepon kami pun terputus. Saya yakin bukan karena jarak kami yang berbeda kota.

“Pasti dah sejam nih. XL gue ‘kan canggih, sejam mati, biar ngingetin.”

Benar saja saat saya melihat di layar si Bébé, durasi kami bicara di telepn sudah 1 jam lebih sedikit. Tadinya saya ingin mengiriminya pesan singkat, untuk menyudahi pembicaraan, tapi ia malah menelepon saya kembali.

“Kok mati?”

“Iya dah sejam.”

Kami pun masih kakakkekek alias tertawa-tawa untuk beberapa saat kemudian.

“Eh, besok loe ga ngantor?”

“Ngantor dounks.”

“Berangkat dari rumah jam berapa?”

“Jam 8 paling. Kantor gue deket gituh. Sejam kurang juga nyampe.”

“Bangun jam?”

“Jam 7.”

“Boong. Paling setengah 8″

“Tau aja lu. Dah ahhh gue pengen tidur. Elo ga tidur?”

“Ga. Gue kuat ga tidur, kalo lagi mumet gini. Apalagi gue minum kopi.”

“Ya tidur bentar lah, ntar bangun lagi.”

“Gak. Apa elo mau gue bangunin?”

“Beneran lu ga tidur? Ya udah deh, bangunin gue jam 7.”

“Mang elo sekarang bisa tidur gitu? Bis telepon gue lama?”

“Ya bisa lah! Kenapa ga?”

“Ya sapa tau ga bisa.”

“Hahahaha, paling elo yang masih kangen sama gue.”

“Setidaknya dah denger suara loe. Ma kasih ya dah ditelepon.”

“Sama-sama, cepet sembuh ya si bokap. Kalo elo mau tanya-tanya dulu tindakan medis yang bokap gue pernah jalanin trus plus minusnya apa, telpon gue aja, kapanpun, gue dengan senang hati bantu.”

Saya pun langsung tidur, tanpa perlu waktu panjang untuk memasuki dunia alam bawah sadar dan mimpi.

—-

Beberapa jam kemudian, bunyi si Bébé pun membahana, dan kebiasaan saya pun masih saya lakukan, yaitu mengambilnya, melihat layarnya, scroll down and chose dismiss, hahahahha.

Eh, tapi ada tambahan waker khusus kemarin :mrgreen:.

—-

“Nambah temen kok ya, yang ga waras juga tho ‘Cha?”

“Iya nih, sapa sih yang ngenalin gue ke dia?”

—-

*Trusss ni apa sih, inbox gue kok ya isinya SMS dari 1 nama doank dari jam 09.50 ampe 12.12*

Tags:

2 Responses to “Chit Chat After Midnite…”

  1. mbakDos says:

    jatuh cinta lagi nih ceritanya? :mrgreen:

  2. OchaOcha says:

    @ mbakDos: hush hush…saya masih jatuh cinta ama si mas kok hihihihi…tau nih ada temen gue yang ngenalin ke orang yang gue maksud dalam pembicaraan itu…sumpeee…harus tanggung jawab tuch orang :D

Leave a Reply