Sebuah Pengakuan…

“Iya Mbak, aku di tempat kita biasa kopdar kalo aku pas ke sini. Aku tunggu ya.”

Lagi-lagi ada satu perempuan yang sedang menunggu seorang perempuan lainnya, sembari duduk di sebuah kedai kopi dan menyruput secangkir teh. Kegelisahan sangat tampak di wajahnya.

Tak lama kemudian, perempuan yang ditunggunya datang. Seperti biasa, jika para perempuan saling bertemu, bisa dipastikan acara cipika-cipiki menjadi acara pertama di pertemuan itu.

“Apa kabar, Mbak?”

“Baik-baik. Eh aku pesen dulu ya.”

Kembali perempuan itu duduk sendiri, sementara perempuan lainnya mengantri untuk memesan minuman dan mungkin makanan kecil.

Dan sekembalinya si perempuan itu dari memesan minuman dan ternyata benar, termasuk makanan kecil, ia pun langsung duduk, di depan si perempuan yang tadi menunggunya.

“Eh, pa kabar? Dah lama ga ketemu ya.”

“Iya, Mbak apa kabar? Anak pa kabar?”

“Aku baik, Anakku baik juga, jalan 5 tahun.”

“Kamu kok tumben, jauh-jauh main ke sini, ke kotaku ini?”

“Biasa tugas kantor.”

“Sendirian?”

“Gak. Ber-empat sama temen kantorku.”

“Trus, kantor masih yang lama?”

“Hmm, baru pindah sih, aku di kantor yang Mbak terakhir tahu itu cuma sebentar kok, 3-4 bulanan lah.”

“Kenapa pindah?”

“Offeringnya lebih gede lah yang jelas.”

“Trus, tunanganmu?”

“Tunangan? Belum dengerkah? Aku dah ga sama dia lagi?”

“Setelah sekian lama?”

“Karena kelamaan kayaknya, jadi bubar, dan masih banyak lagi lainnya. Pusink.”

“Trus dah punya pacar sekarang?”

“Udah.”

“Bagus dong.”

“Hehehehe, ya gitu lah.”

“Terus by the way, Mas apa kabar Mbak?”

“Ya gitu. Hubunganku sama suamiku masih kayak dulu, yang aku ceritain ke kamu.”

“Kalian masih ngurus anak bareng ga sih?”

“Gak, pasti lebih sering aku lah. Paling aku komunikasinya ama dia, cuma urusan transfer-transferan.”

“Kalian kenapa ga cerai aja sih? Dari pada tinggal di kota yang terpisah dan ga jelas gituh.”

“Ya, pernikahan kami memang ada masalah.”

“Ruwet ya. Kalian nikah saat ia masih berhubungan sama seseorang, dan ia tetap menjalani hubungan dengan orang itu sampai tahun lalu, dan setauku ia juga berusaha ingin menikahi perempuan itu, tapi tak bisa karena satu hal. Which is ia masih terkait pernikahan sama kamu, Mbak.”

“Makannya tadi aku bilang, kami ada masalah.”

“Ya, diselesein aja masalahnya, khan ga pusing lagi.”

“Salahku juga sih, aku ga mau ngikut suami, mentingin karir segala macem. Dan aku tau persis siapa suamiku, stubborn but still adorable.”

“Ya, makannya daripada ngga selese-selese masalahnya, ya mendingan cerai aja, khan beres Mbak?”

“Ga segampang itu, dan aku juga ga mau cerai, kasian anakku. Eh, kok kita jadi bahas tentang aku sih? Kamu dong cerita, pacar kamu sekarang sapa? Cerita-cerita dong, biarpun aku ga kenal.”

“Mbak kenal kok sapa pacarku.”

“Oh, ya. Siapa?”

“Suami Mbak.”

(*Daaarrrr…pindah duduk ga ya gue?*)

“Iya, pacarku sekarang lelaki yang masih jadi suami sah Mbak. Aku ga salah donk Mbak, kalian memang ga berhubungan lagi, even urusan anak, kecuali masalah duit. Perkawinan kalian bermasalah. Dia baru bubar sama pacarnya, dan aku juga baru putus ama tunanganku. Kami saling cinta. Aku baru tahu kalian masih terikat perkawinan, dan kronologis semua kejadian ini setelah beberapa bulan aku sama dia.”

“Dan kamu tahu akibatnya dari kamu cerita semua ini ke aku, kalau suamiku tahu semuanya, tahu kalo kamu cerita ini ke aku? Dia bakal ninggalin kamu tanpa basa-basi. Dia ga bakal menghubungi kamu lagi sama sekali. Kasian ya kamu cuma dimanfaatin sama dia. Pantesan dari tadi kamu nyuruh-nyuruh aku cerai sama dia.”

“Hmmm Mbak, dan aku bercinta dengannya.”

(*Yaaakkk, ga ada pilihan sepertinya. Hmmm Mas-mas, di teras sana masih ada satu kursi ‘kan ya? Saya pindah situ, tolong di tag dulu dong. Keburu diambil orang lain.*)

Can you just tell me one place, that I can sit all alone, with a cup of tea or coffee and my beloved laptop, without hearing that kind of conversation (Don’t tell me the place is my own room!!)??? Gossshh…a lot of bizzare love triangle out there…

(*Ahh, senangnya setidaknya masih ditemani bintang di luar sini.*)

Hmmm, tapi satu yang membuat saya berpikir, kalau ada seseorang yang tak tahu dengan lugunya, jujur atau apa lah itu, mengakui bahwa ia pacaran bahkan bercinta dengan pasanganmu (baik pacar atau suami, atau istri), bukankah kamu harusnya berterima kasih kepada orang itu karena telah memberitahukanmu sebuah kenyataan pahit, atau malah memarahinya dan jambak-jambakan? Atau mungkin yang pria langsung tonjok-tonjokan di tempat?

Jadi ingat nasihat seseorang dulu…

“Just wake up and smell the coffee!”

atau..

“Finish the final chapter and close the book!”

Mungkin itu yang bisa saya katakan pada kedua perempuan yang masih duduk di sana.

(*Gak tau aaahh…pusink, mendingan nyruput kopi ajah.*)

Tags: , , ,

8 Responses to “Sebuah Pengakuan…”

  1. Uhm…
    Antara bingung ini cerita yang ironi atau cerita yang bisa diupload ke nguping.com…
    hahaha..dasar kau manusia psikologi…demenannya nguping ajahhhh…
    Di tangan seorang manusia psikologi, coffee cup pun bertelinga yah…

  2. OchaOcha says:

    @ Dessy: kita pan mang dilatih untuk punya mata lbh dari 2, punya kuping lebih dari 2, punya mata hati lebih dari 1, punya perasaan dari gradasi menye2 ampe sekeras batu, apa lagi ya? Hahahaha…nasib kita lah des…

  3. warm says:

    endingnya kalem tapi sadis :D

  4. OchaOcha says:

    @ Warm: dua manusia hebat…yang diomongin topiknya bikin emosi, tapi nada mereka berdua menunjukkan tidak ada emosi sama sekali…kontrol dirinya canggih…tapi yaaa dari pada nanggung resiko laptop saya kena guyuran teh mereka yaaaa…mending ngacir…hahahaha

  5. silly says:

    Wahhhh, baru masuk blog ini… gila tulisan kamu keren juga cha… *menjura*

    btw, anak psikologi juga kah?. Ohya, tadi aku pikir ini cerita kamu dan temanmu, ternyata nguping doang, hahaha… (thank god, karena kalo iya, saya gak yakin gimana menyikapi percakapan yang kayak gitu… :P )

  6. OchaOcha says:

    @ Jeung Silly: jadi tersanjung dibilang bagus tulisannya ama blogger senior semacam dirimu hehehehe…ma kasih yaaa…Iya jeung aku anak psikologi…mungkin juga sedikit psycho hahahaha…kamu juga tho? *seneng ada temen, btw sedikit psycho juga ga ya heheheh? peluk2 silly*

  7. Chic says:

    haduuhhhhh berat yaks… saya ikut pusing :|

  8. OchaOcha says:

    @ Chic: Nasib gue Chic…duduk di tempat ngupi2..mau santai2..ngga banyak mikir..malah denger beginian lagi, malah bukan ngupi, malah nguping…(remember yang kill those butterflies khan?) hahahaha…tapi mayan lah…dapet bahan tulisan…

Leave a Reply