Kemarin, saat saya mencari nama seseorang yang termasuk di dalam daftar teman yang ada di sebuah media ruang mengobrol yang sangat terkenal itu, saya melihat satu status seseorang di sana (padahal orang ini bukan orang yang ingin saya beritahukan sesuatu, melalui media tersebut). Statusnya kira-kira seperti ini:
“Baru aja terkenal kok ya udah meninggal tho, Mbah.”
(*Untuk yang statusnya saya pinjam, ga papa ‘kan?*)
Sontak saya bertanya-tanya dalam hati.
“Maksudnya si Mbah Surip? Cari aaah di internet.”
Dan ternyata rasa penasaran saya terjawab dengan cepat. Ditambah teman-teman di media “cuap-cuap burung” juga sudah ramai memberitakan hal ini.
“Ah, lagi-lagi kematian yang sekilas seperti tanpa sebab.”
Lantas saya teringat kejadian serupa di pertengahan tahun 2007.
Setting: saat menunggu jam tayang film dimulai, di sebuah bioskop terkenal di Pusat Perbelanjaan di daerah Bundaran HI, dan saya menerima sebuah panggilan telepon masuk.
“Halo, Ma kenapa nangis? Papa ga kenapa-napa ‘kan?”
Di ujung telepon sebelah sana hanya terdengar isak tangis, tanpa kata sedikit pun. Sedangkan saya yang sedang tidak berada di rumah, tahu persis bahwa di rumah hanya ada Papa dan Mama. Si tengah juga sedang pergi, seperti saya. Dan Papa saat itu belum lama keluar dari rumah sakit, opname karena terkena serangan jantung, yang belum pernah dialami beliau sebelumnya.
“Omamu ga ada.”
“Ha? Lah ga sakit ga apa khan?”
“Ga.”
Seketika, gairah saya untuk menonton film pun drastis turun. Sedih, karena saya belum sempat memenuhi permintaan Oma agar saya berkunjung ke rumahnya di Magelang.
Dan kali ini, saya tidak bisa ikut pergi ke Magelang untuk pemakaman Oma. Papa yang baru saja keluar dari rumah sakit, belum bisa bepergian jauh, jadi saya bertugas untuk menemaninya di rumah. Mama pergi dengan si sulung, bersama tante-tante dan oom-oom saya yang lain.
Sepulangnya Mama dan si sulung dari Magelang, saya disuguhi berbagai cerita seputar saat-saat terakhir menjelang Oma meninggal.
“Iya loo si oma tuh setengah jam sebelumnya masih telpon ke Risti, ngomel-ngomel dia dah sampe Jogja kok ga mampir ke Magelang. Terus masih ngider ke tetangga-tetangga, bawa One, bagiin Rosario sambil pamitan katanya mau pergi jauh. Sampe si One bingung, trus nanya Omanya, emang Oma mau pergi kemana. Terus pas waktu sore itu si tante mau ke gereja, naik angkot, tiba-tiba Oma lari ke depan pintu pager, and dadag-dadag sampe angkotnya belok. Yang terakhir tuh si Oma mau meninggal, lagi jalan ke dapur, gara-gara si Krisna minta digorengin tahu sama Omanya. Tau-tau Oma bilang pusing, pegangan gorden n lemes. Ga lama dibawa ke kamar, Oma ga ada.”
Siapa yang menyangka coba? Oma masih terlihat sehat, saat mengunjungi rumah tetangganya dengan salah satu cucu tercintanya, bahkan masih ingin menggorengkan tahu, juga untuk cucu tercintanya.
Saat orang rumah Magelang memasang bendera kuning di depan rumah, tetangga-tetangga pun mulai bertanya…
“Siapa yang meninggal?”
Dan keluarga saya yang tinggal bersama Oma, menjawab bahwa yang meninggal adalah Oma, yang belum lama bertandang ke rumah mereka yang mengajukan pertanyaan tadi.
Begitu pun juga si penyanyi yang belakangan ini cukup fenomenal, Mbah Surip. Memang belum lama ia menjadi terkenal, lewat lagu-lagunya yang disenangi oleh banyak orang, tapi semua itu cukup sampai kemarin. Setidaknya sampai kemarin ia menikmati apa yang sudah ia raih selama ini, secara fisik di dunia.
Kematian memang misteri, datangnya seperti pencuri di malam hari. Tak pernah ada yang tahu, kapan Yang Empunya Hidup menyatakan kita telah lulus seluruh level ujian kenaikan kelas selama kita hidup di dunia. Apa dalam hitungan jam, hitungan hari, minggu, bulan atau bahkan masih dalam hitungan tahun, untuk kita dinyatakan berhasil lulus seluruh tingkat pembelajaran kita, selama menginjakkan kaki di dunia?
Itu pulalah yang membuat saya berpikir, untuk mengurungkan niat menonton film yang diperankan oleh si ganteng Mr. Depp, seorang diri. Dan saya memutuskan untuk mengajak Papa dan Mama untuk menemani saya menonton Public Enemies, hari Minggu yang lalu.
“Eh, Pa, acara loe hari minggu besok sampe jam berapa?”
“Paling bis makan siang selese. Kenapa?”
“Gue mau ngajak nonton kalian berdua. Nonton yang jam 5 aja.”
“Ya udah.”
Pada hari kami nonton, saya dan mama berangkat terlebih dulu ke pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Barat, yang tak jauh dari rumah kami, dan janjian bertemu Papa di sana.
“Weeeittsss keren nih sekarang teaternya. Ada 3D-nya segala”, pikiran saya saat memasuki gedung bioskop yang terletak di lantai 3.
“Biar gue yang antri aja Mam, kamu duduk aja. Nunggu. Ga usah diri-diri, capek.”
Setelah tiket di tangan, saya pun menghampiri Mama yang duduk.
“Dapet?”
“Dapet donk.”
“Ga dangak ‘kan?”
“Gak.”
“Terus masih lama mulainya?”
“Masih, yuk kita makan es krim dulu. Eh yogurt.”
“Jauh?”
“Gak kok, di bawah.”
Sambil saya merangkul mama dan berjalan…
“Jarang-jarang ‘kan Mam, gue kumat nraktir-nraktir gini.”
“Iya, kamu katanya ga ada duit.”
“Duit bisa dicari, ntar pasti ada lah. Ga ada yang tau ‘kan sapa tau di antara kita berdua besok mati. Bisa aja ‘kan aku mati duluan. Dari pada ntar aku nyeselnya tambah banyak ga bisa bikin kamu seneng, ya mendingan nyeselnya dikurangin dikit. Yogurt sama nonton mayan ‘kan? Yogurtnya enak loh, mayan sambil kita nunggu Papa di situ.”
—-
“Satu yang aku minta Tuhan, jika Kau izinkan, biarkan aku mati nanti, tanpa terlalu merepotkan orang lain, tak dengan sakit berkepanjangan dan membuat orang lain sedih. Tapi sekali lagi Tuhan, jika itu semua memang sesuai kehendak-Mu atas diriku, karena aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”
—-
*Senengnya masih bisa menikmati bareng Papa Mama, satu mangkok besar FroYo beken itu, dengan 4 topping di atasnya.*
Tags: Langkah Kaki, Renungan
