Saya tak peduli, apakah tulisan saya kali ini merupakan perpanjangan atau reproduksi dari cerita yang satu ini, tapi saya ingin menuliskan topik yang kurang lebih sama dengan cerita yang itu.
Teringat masa-masa indah beberapa puluh tahun lalu, beberapa tahun lalu, bahkan beberapa bulan yang lalu.
“Huh…emang masa-masa pendekatan, kejar-kejaran itu masa paling indah dan menyenangkan. Damn!”
Apapun akan dilakukan olehnya, dia, dan dia, untuk bisa membuat hati saya ada di tangan pria-pria itu (*Weeittss..bukan berarti banyak pria di satu masa loh ya*).
Beberapa puluh tahun lalu itu memang belum masanya ponsel, jadi urusan “gombality” lewat kata-kata masih tak semudah sekarang. Modus operandi (*haaallaaaggghh modus operandi*) lebih ke arah “Di mana pun ada kamu ‘Cha, aku bakal ada di sana juga.”
Lain masa, lain pula caranya.
Hmmm, kali ini sepertinya kesempatan makan siang bersama dan juga acara berbelanja, yang diselipkan sesi curhat colongan dari dua belah pihak, sepertinya merupakan “celah” kecil yang akhirnya membuat hati saya berkata “Siaaall, sumpah otaknya canggih banget nih manusia.”
“Huaaaa…gue bisa banget klepek-klepek ama orang yang otaknya super canggih, ga menye-menye, n nyambung sama gue, n he’s really good in taking care of me.”
Apalagi kami sempat beberapa kali liburan bersama teman-teman ke luar kota, semakin saya jatuh hati dengan kepandaian otaknya.
Dan yang terdahsyat adalah masa indah nan dahsyat tak ada tandingannya adalah masa kurang dari satu bulan bebarapa waktu lalu.
Can you imagine the situation that you met one person long-long time ago, you didn’t see each other for years, then that damn social network site made both of you connected again? Dan tiba-tiba di tengah siang bolong saat sedang gundah gulana malas mengerjakan tugas kuliah keparat itu, terpampanglah sebuah pesan di kotak masuk layanan situs jejaring sosial yang satu itu.
“Pa kabar? And bla, bla, bla”, yang terus terang saya pun lupa isinya apa.
Berlanjut saling bertukar identitas ruang mengobrol yang sangat terkenal, juga bertukar nomor ponsel. Awalnya ia salah memberikan saya nomor teleponnya, maklum manusia ini seperti “toko ponsel” berjalan, karena banyaknya ponsel yang ia bawa, yang diakibatkan ia selalu membedakan nomor telepon urusan kantor dan nomor telepon urusan pertemanan dan pribadi.
“Eh, salah Dear, nomornya yang ini aja.”
Dan…
“Hmmm, he called me with dear? Ahh jangan gede rasa ‘Cha, itu panggilan biasa.”
Hari berlalu. Masih di tengah kemalasan yang amat sangat dalam mengerjakan tugas kuliah super laknat itu. Kembali di siang bolong, nan cerah ceria dengan sinar matahari, tiba-tiba dengan begitu perhatiannya ia menanyakan kabar saya dan kabar seseorang, melalui media ruang mengobrol yang biasa kami gunakan. Dan saat itu saya jawab dengan kebohongan total, “Baik, ooo dia lagi sibuk ngurusin kerjaannya”.
Terus-menerus ia tanyakan hal itu, di hari-hari berikutnya.
“Hmmm, jam kantor masih sempet juga dia chatting.”
Dan saya pun akhirnya lelah untuk terus-menerus menghindar.
“Actually, gue dah lama ga kontak dia sih.”
Dan setelah itu, kami pun makin sering berbincang, mengobrol. Panggilan-panggilan Dear, Hon dan sejenisnya semakin sering saya dengar.
Sedikit kesal pada diri sendiri, karena hal-hal “bodoh” seperti itu sempat membuat saya berbunga-bunga, walau saya pun dengan susah payah mencoba menetralisir semuanya.
Tak tahu mengapa, saat ada berita menyebalkan yang saya ketahui dari situs jejaring sosial “keparat” itu, manusia itulah yang saya beritahu pertama kali, dengan meninggalkan pesan di kotak masuk akunnya.Yang kemudian dibalas dengan…
“Perlu rawat jalan ‘kan Hon, atau rawat inap sekalian?”
“Huaaahahahahha, mau lu emang!”
Namun akhirnya kami pun bertemu, curhat sana curhat sini, cerita sana cerita sini, ketawa-tawa seperti dua orang yang sudah sangat sering bertemu.
“Annnnjjjrrriiittttt….otaknya boleh ga ya gue colong? Gila-gila, damn, he is really good in influencing others. Ketampar berat gue! Lebih ketampar daripada dulu. Yah, ‘kan ga lucu nih, klepek-klepek lagi gue.”
Mulailah dari sana, ajakan nonton, ajakan makan, ajakan chatting sampe subuh, usahanya untuk dapat mengobati luka lama saya, timbunan kiriman SMS bertubi-tubi, dari yang cuma “laporan” mengantuk karena pekerjaan, sampai puisi yang mengatakan bahwa ia merasa lebih kesepian saat bertemu saya lagi, terbiasa tak menggubris sakit, tapi perasaan-perasaan itu sekarang muncul karena saya, lalu mengatakan saya adalah oasis baginya, yang membuatnya ia rela mati hanya untuk meminumnya. Dan satu hal, hampir semua kiriman SMS darinya, ia ingin sebisa mungkin terbalas dengan segera.
“Gombality kelas berat?”
Tapiiii yaaa kok tetap membuat saya berbunga-bunga, walau ditutupi setengah mati.
Dengan amat sangat menyesal, dan terpaksa mementahkan gengsi diri yang luar biasa ini, I admit that I love it, all, no doubt. DAMN!
Semua yang ada di masa itu indah luar biasa. Tak ada surut rasa indah, senang dan berbunga-bunga luar biasa. Dan saya sempat mengatakan itu padanya…
“Di mana-mana masa PDKT itu masa paling indah, paling seru. Begitu dah dapet beda.”
Dan ternyata dia ingat pernyataan saya itu.
“Sekarang ‘dah dapet ‘kan? Masih greget, masih seru?”
“Masih sepertinya, gregetnya karena kita berdua ada di house of madness sekarang.”
Pada awalnya masalah frekuensi saling memberikan perhatian tak menjadi masalah. He was so sweet, dan saya juga selalu sempatkan menelepon atau menyapanya lewat semua media komunikasi. Semua masih sama. Kata-kata indah itu masih terkirim dengan baik, walau lambat laun frekuensinya juga berkurang, seiring sibuknya kami berdua di dunia dan kesibukan yang berbeda.
Tak hanya masalah frekuensi yang berubah, tapi rasa berbunga-bunga itu tak sedahsyat masa PDKT, walaupun masih membuat saya tertawa-tawa sendiri saat membaca semua SMS yang masih tersimpan, atau setidaknya ada surutnya, saat kekesalan terjadi di antara kami. Dulu? Tak pernah surut, selalu berada di posisi tertinggi rasa berbunga-bunga yang pernah saya rasakan.
Apakah manusia memang seperti itu? Saat ia sudah mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, rasa puas itu sudah terpenuhi, sehingga sensasi-sensasi usaha pemenuhan keinginan sebelumnya surut dan hilang? Atau pikiran seperti ini “Apapun tentang elo indah dah”, yang mendominasi saat masa PDKT, sehingga keburukan si dia tak MAU kita gubris? Atau memang karena mereka take each other for granted, sehingga pikiran seperti “Dia khan pasangan gue, ya dia harus ngertiin gue donk, gue mau ngapain aja”, yang sering ada saat mereka sudah melangkah ke taraf yang lebih daripada sebelumnya?
Saya belum menikah, jadi saya belum merasakan sendiri apa beda hubungan saat berpacaran dan saat sudah menikah? Apakah sensasi-sensasi, lompatan kuantum yang memacu adrenalin di bidang (*halagh bidang*) asmara ini masih sering terlontarkan dari masing-masing pasangan, dan masih menghasilkan rasa yang sama atau tidak? Apakah terjadinya perbedaan antara masa PDKT dan masa pacaran (setidaknya yang saya alami) itu juga terjadi pada hubungan pacaran yang dibawa ke taraf pernikahan?
Hmmm…tapi kejutan-kejutan kecil yang terlontar di saat-saat yang tak terduga, saya rasa tetap akan membuat si pasangan jadi berbunga-bunga sih.
—-
“Angkat donk Mas teleponnya. Gak lama kok, coz I just want to say, I love you.”
Tags: Cerita Cinta, Langkah Kaki, Persepsi Bebas, Psikologi

“Strangers passing in the street
By chance two separate glances meet
And I am you and what I see is me.
And do I take you by the hand
And lead you through the land
And help me understand
The best I can. ”
(Echoes by Pink Floyd)
dengerin lagu ini kalo lo demen psychedelic n efek yang ditimbulkan setelah denger lagu2 macem ini :p
@ Olivia: Hyaaaahhhh…member tetap tim garuk aspal ya?
hehehehe.. lagi jatuh cinta nih ceeritanya jeung..
)
Rasa PDKT, pacaran, nikah itu jelas amat sangat berbeda sekali (nah lho, mulai lebay deh gue). Pas masa PDKT itu masa yang paling cihuy.. like you said : “gombality” pegang peranan penuh disini. Tapi herannya kok ya kita seneng digombalin ya? xixixxi.. Pas udah dapet ya wis standar pacaranlah.. Pas udah nikah, hahaha.. paling aku tanya “Pa, tar kita pulang jam berapa”
*toyor-toyor kepala sendiri*
Ya pastilah ada masa & saatnya kapan kita perlu gombal atau jujur jeung. You’ll know it by yourself later
Salam buat masnya..
@ Mbak Devi: hahahhahahah…saya jatuh cinta? skarang? yakinkah? wakakakakak…berarti bener ya..masa kejar2an itu paling indah tho? hahahahaha…salam buat mas-ku? mang ada? *sambil clingak-clinguk, pertanda ga ngaku?*
*pentung-pentungin*
)
lha itu tadi apa bilang “Angkat donk Mas teleponnya. Gak lama kok, coz I just want to say, I love you.”
@ Devi: Bisa iya bisa tidak..belum tentu itu aku yang ngomong hihihihi
*nyiapin jurus tangkisan lemparan tempayan…aaadddeeezzziikkk*