Banyak Anak Banyak Rezeki?…

Kali ini, saya ingin menuliskan sesuatu hal yang cukup “berat” (*Sesekali ga jadi pujangga amatiran dan pendongeng cinta, tak apa ‘kan? :D*).

Semua bermula saat saya pulang kantor dengan kendaraan umum beberapa hari lalu. Ya namanya kendaraan umum, apalagi bukan taksi, pasti siapa saja diperbolehkan naik. Kebetulan kendaraan yang saya tumpangi ini sudah mulai kosong ditinggalkan para penumpang yang sudah turun, di tujuan mereka masing-masing. Hanya tinggal saya dan beberapa orang yang dari penampilannya terlihat seperti pulang kantor.

Tiba-tiba kendaraan berhenti, karena ada penumpang di luar sana yang hendak naik.

Biasanya saya tak terlalu perduli dengan lalu lalang penumpang yang naik turun ke kendaraan yang saya tumpangi. Namun tidak kali ini.

Orang pertama yang saya lihat memasuki pintu kendaraan adalah anak kecil laki-laki kira-kira usianya 11 tahun. Yang kedua, masih anak kecil, lebih kecil dari yang pertama, tapi perempuan, berambut panjang yang semua helainya sedang ditata menyatu, dikesampingkan ke salah satu bagian pundak, memakai kaus dan rok panjang. Usia anak perempuan ini mungkin sekitar 10 tahun. Berikutnya, juga masih anak kecil, perempuan, sepertinya lebih muda dari pada dua anak sebelumnya, berambut pendek, berkaus dan bercelana pendek. Dan yang terakhir masuk, langsung dua orang sekaligus (*Loh, gimana bisa sekaligus dua orang?*). Barisan terakhir dari rombongan yang masuk terdiri dari satu orang perempuan dan satu bayi yang masih digendong. Begitu perempuan ini duduk, ia juga masih mengatur posisi duduk krucil-krucil yang sebelumnya masuk ke kendaraan. Saya pun langsung berpikir “Ohh, ini ibu mereka”, hal ini juga dikonfirmasi dengan salah satu dari tiga anak yang masuk pertama kali, memanggil perempuan ini dengan mama.

Saya pun langsung pasang mata (walau tak terlalu kelihatan) dan pasang telinga untuk dapat merekam aktivitas mereka dalam kendaraan.

Hmmm, celotehan anak-anak itu memang selalu lucu ya. Mendengar tawa renyah mereka, memang sangat menyenangkan. Apalagi mereka terlihat akur dan sayang sekali dengan adik mereka yang masih di gendongan ibunya. Si bayi ini sepertinya sudah memasuki masa awal usia toddler (1-3 tahun), karena sudah bisa berjalan.

“Sini Dek, duduk sini aja. Sama kakak sini.”

Si anak perempuan yang berambut pendek itu kemudian menuntun adiknya menuju ruang kosong di bangku panjang, di antara ia dan si kakak perempuan yang berambut panjang tadi.

Tak lama dari si adik paling kecil itu pindah duduk, si ibu sudah meminta si adek dari kakaknya, untuk kembali digendongnya. Rupanya si ibu terlalu takut si adik paling kecil itu berada sedikit jauh dari jangkauannya. Maklumlah si supir memang sering sembarangan mengendarai kendaraan itu.

Saya pun beralih pandang ke si kakak perempuan yang berambut panjang tadi. Saat saya lihat, ia sedang menyanyikan sebuah lagu yang tak bisa saya dengar dengan jelas. Namun anak ini menyanyikannya dengan menggunakan gaya. Ya, miriplah dengan gaya seorang anak yang sedang bernyanyi di atas panggung, tapi bedanya ini dilakukan dengan posisi duduk. Sesekali adik perempuan yang berambut pendek itu, menggodai kakaknya dengan ledekan-ledekan kecil, ataupun menyanyikan lagu yang berbeda tepat di samping telinga si kakak, untuk mengacaukan nada si kakak yang sedang bernyanyi.

“Si rambut panjang ini cantik deh.”

Serius si kakak perempuan berambut panjang ini memang cantik dan kemayu. Ya, namanya sebentar lagi sudah jadi ABG.

Pengamatan selanjutnya, tidak terlalu menarik perhatian saya, karena si abang yang paling besar di antara mereka, hanya duduk sambil memandangi apapun yang ada di luar kendaraan.

Lalu, tahu tidak apa yang saya pikirkan setelah sedikit sibuk “memberi perhatian” terhadap apa¬† yang mereka kerjakan?

“Duuuuuhhh, Bu, kok anaknya banyak banget ya. Masih kecil-kecil dah punya bayi lagi. Tiga anak mang ga cukup?”

Si ibu ini menurut saya keadaan ekonominya tidak terlalu buruk jika dibandingkan mereka yang saya temui pada kejadian-kejadian serupa terdahulu. Nah kasus terakhir ini, benar-benar yang membuat saya berpikir bahwa saya harus menuliskan ini, karena tak cuma satu atau dua kasus serupa yang saya lihat selama saya bepergian.

Saya tidak underestimate kemampuan para orang tua untuk mengurus anak-anaknya, terlepas dari semua latar belakang yang dimiliki oleh orang tua tersebut, karena saya percaya setiap orang tua rela berkorban, nyawa sekalipun, agar anak-anak mereka bisa tetap hidup.

Pertanyaan selanjutnya, bukankah saat ini banyak orang yang mengeluhkan bahwa semua harga mahal? Dari harga kebutuhan pokok, biaya kesehatan, biaya transportasi, dan termasuk biaya sekolah.

Sekali lagi saya tidak meragukan kemampuan pengorbanan para orang tua, tapi apakah para orang tua ini benar-benar telah merencanakan apa yang akan mereka bawa di kehidupan keluarga mereka? Berapa penghasilan mereka satu bulan, berapa kebutuhan pokok yang mereka keluarkan sehari-hari, uang yang harus disisihkan untuk jaga-jaga jika ada keluarga yang sakit, uang yang diperlukan saat kita butuh istirahat dan rekreasi, biaya transportasi, telepon, listrik, air bersih, dan biaya sekolah krucil-krucil tercinta? Apa iya, orang tua harus kerja terus-menerus agar dapur selalu bisa ngebul dengan dahsyat? Lalu kapan bisa membagikan cinta dan perhatian ke anak-anak, jika sepulang bekerja hanya tinggal mandi, makan lalu tidur atau bekerja lagi melanjutkan pekerjaan kantor yang masih belum selesai?

Saya memang belum berkeluarga merasakan sendiri itu semua, atau mungkin saya sedikit takut kalau-kalau saya tidak bisa melakukan perencanaan yang baik untuk keluarga saya nanti?

Namun yang jelas perencanaan keluarga itu sepertinya (menurut saya pribadi) memang perlu looo…termasuk perencanaan jumlah anak yang akan dimiliki. Hmmm, kalau tidak, duh tak terbayang seberapa penuhnya Indonesia, seberapa sesaknya Jakarta, seberapa hancurnya alam ini karena semakin tak terurus, karena manusia sibuk memenuhi kebutuhannya masing-masing, dan salah satunya mengorbankan (baca: merusak) alam?

Pada akhirnya saya memaklumi, mereka yang memutuskan mempunyai satu orang anak saja. Apalagi kalau alasannya sudah seperti ini…

“Biar fokus semuanya, biaya sekolahnya, perhatiannya. Lagi pula sekarang apa-apa mahal.”

Heiiii…jangan lupa, penduduk Indonesia sudah 200 juta orang lebih loh. Lalu terakhir yang ada di otak saya…

“Mang program KB gak digalakkan lagi?”

Dan semoga tawa renyah mereka tidak hilang hanya karena mereka suatu saat terpaksa merasakan putus sekolah, karena orang tua mereka tak ada biaya.

Tags: , ,

2 Responses to “Banyak Anak Banyak Rezeki?…”

  1. latree says:

    yang jelas, aku percaya bahwa setiap anak membawa rejeki mereka sendiri sendiri. jadi kalau anaknya banyak, ya otomatis lah rejekinya banyak…

    *membayangkan punya anak tujuh!*

  2. OchaOcha says:

    @ Mbak Latree: Iya mbak…aku juga percaya tiap anak pasti bawa rejeki sendiri-sendiri, buat mereka yang ada di lingkungannya. Tapi tetep sepertinya orang tua harus membuka jalan agar mereka bisa ke sana…agar mereka bisa menjadi rejeki untuk dirinya sendiri, untuk orang tuanya, dan untuk orang lain…

    Terus terang saya sedih banget…saat saya harus melihat mereka terpaksa mengamen, mulung, bahkan ada yang sampai meringkuk memeluk tiang lampu merah di malam pekat, di tengah guyuran hujan deras…mereka khan tak salah apapun…miris kalo melihat tawa renyah mereka hilang…

Leave a Reply