Apa sih yang tak bisa kita dapatkan dari kecanggihan teknologi? Sepertinya hampir semua hal bisa kita dapatkan dari sini; setidaknya berawal dari kecanggihan teknologi.
Apalagi urusan mendapatkan informasi akan sesuatu. Termasuk urusan informasi “stalker” yang mengintip, membaca, memberi komentar pada blog saya ini. Namun tenang saja, saya tidak akan nyinyir ke para “stalker” ini, sama seperti nyinyiran emak-emak yang hobi gosipin tetangga atau aib orang lain, karena saya senang kalian telah meluangkan waktu untuk mampir ke rumah saya yang ada di dunia maya ini (*Trully I mean it! Btw, untuk emak-emak, perempuan nyinyir tukang gosip, ya mbok daripada gosip ga sehat, ngerumpiin yang ga bener, mendingan belajar ikutan ngerumpi yang sehat dan pake hati di NgerumpiDotCom“*).
I thank to Feedjit yang membantu saya untuk meningkatkan rasa narsis saya sendiri (*Yah, si Ocha siap-siap nangkis lemparan ember*), dengan memberikan informasi tentang tetangga yang mampir ke rumah tercinta saya ini.
Informasi tersebut termasuk key word yang mereka gunakan hingga mereka bisa menemukan “saya”. Dan salah satu key word yang sering digunakan pengunjung adalah introvert atau yang masih berhubungan dengan itu.
Beberapa kali saya dibuat sedih oleh penggunaan key word tersebut. Misalnya key word seperti ini: “Bagaimana menyembuhkan introvert”, atau “Mengubah si introvert”.
Ah, saya merasa beruntung, karena dikelilingi oleh teman atau orang dekat dan orang-orang pengisi hati (*Terutama si itu dan si anu wakakakakak. Penasaran ya siapa? Pria-pria dahsyat dech. Slurrruuupp. Loh? Kabur sebelum kepanjangan dan dikemplang!*), yang mempunyai kemampuan otak canggih dan hati yang super dahsyat, hingga mereka mampu dan mau memahami saya. Tidak berusaha mengubah ke-introvert-an saya, apalagi menyembuhkan saya. Saya, yang termasuk dalam kelompok manusia introversi.
Sebelumnya saya akan sedikit memberikan definisi tentang introvert. Dan karena saya malas membuka buku-buku zaman kuliah dulu (*Haaallaagghh, kayak elo udah lama lulus kuliah ‘Cha?!*) untuk mencari definisinya, jadi saya mengambilnya dari situs-situs tetangga yang bertebaran di dunia yang saya sebut sebagai dunia super indah ini, yaitu dunia maya atau as known as internet.
“By Myers-Briggs’ definition, an introvert derives energy from his or her internal world of emotions and ideas, while an extrovert draws from the outside world of people and activities for spiritual sustenance.”
“Introverts often: have quiet energy; listen more than talk; think quietly inside head; think, then act; feel comfortable being alone; prefer to work “behind-the-scenes” ; have good powers of concentration; prefer to focus on one thing at a time; are self-contained and reserved.”
“They are drained by social situations, and keep a few close friends. I’s can be life of party but find it draining. They like alone time, and thinking before they speak. I’s energy is more directed inward (the world within), towards their own thoughts, ideas, perceptions, and reactions.”
“Isabel Briggs Myers (1995: 56) says Introverts are more at home in the world of ideas than in the world of people and things. Introverts live in the inner world of thoughts and ideas.”
Kurang lebih begitulah karakteristik manusia-manusia introversi. Termasuk karakteristik saya, sebagai salah satu penghuni kelompok itu.
Adakah yang salah dari karakteristik tersebut?
Kami memang manusia yang lebih senang sendiri, soliter, mungkin itu sebabnya sebagian orang menganggap kami aneh, tapi tahukah kalian kesendirian itu adalah sumber energi bagi kami?
Di tengah kesendirian itu, kami tetap berpikir bagaimana kami harus merangkai ribuan ide, rasa, rekaman indera, dan imajinasi yang melayang-layang di otak, untuk bisa menjadi sebuah “bom waktu” yang dahsyat saat pikiran itu keluar dari otak kami, yang nantinya akan dibagikan untuk kalian, atau sebagai modal kalian untuk beraksi.
Percaya deh, rangkaian indah yang sudah keluar dari otak kami, dan mungkin juga sudah menjadi konsumsi kalian, awalnya tidak seperti itu. Terkadang mereka seperti benang kusut; terkadang mereka seperti musuh bebuyutan yang tak saling kenal dan menjauh satu sama lain; atau seperti kembar siam yang harus diusahakan untuk dipisahkan; terkadang mereka seperti orang berpacaran yang sedang meributkan hal-hal tidak penting yang tak kunjung tuntas. Dengan kata lain, rangkaian itu bukanlah hal mudah untuk dibuat, tapi kami jadikan itu sebagai stimulus yang membuat rasa penasaran kami pun memuncak. Dengan bangga kami katakan, bahwa tak jarang kami berhasil merangkainya menjadi sebuah “musik orkestra” yang harmonisasinya sangat manis, dan membuai kalian.
Saat semua itu kalian dengar di luar sana, atau kalian nikmati, bahkan kalian gunakan, kami sudah cukup gembira hanya dengan mendengar ucapan terima kasih atau pujian kecil, yang disampaikan langsung, yang disertai senyum cerminan rasa puas kalian akan “produk” kami. Itu semua, karena kami lebih senang menjadi orang “di balik layar”.
Kami lelah kehilangan energi di tengah keramaian, sama seperti halnya kalian bosan di tengah hening. Badan kami gemetaran saat kami harus berdiri, bicara di depan kalian, sama seperti saat kalian berkeringat dingin karena diminta untuk duduk diam tanpa bergerak setidaknya untuk 5 menit saja.
Kami tak menyalahkan kalian, jika kalian menganggap kami adalah setengah makhluk anti sosial, hanya karena kami mempunyai segelintir teman dekat. Namun kalian perlu ingat, seharusnya kalian cukup bangga, jika kalian kami anggap sebagai teman atau bahkan si pujaan hati, karena kalian adalah orang-orang terpilih yang kami berikan kunci menuju hati, menuju jiwa dan hidup kami. Tak diragukan lagi, kalian-lah menjadi orang pertama yang kami cari, jika pikiran dan rasa ini siap kami hamburkan.
Tidak ada yang salah dengan introvert. Tidak ada yang salah dengan kami, maka kami tak perlu diubah.
Ini juga bukan sebuah gejala penyakit yang membuat kami harus disembuhkan.
Beri kami sedikit ruang, beri kami waktu untuk sendiri, biarkan kami mengisi baterai untuk kembali hidup bersama kalian.
Terus terang, saya bangga menjadi manusia introversi, karena ini adalah kekuatan saya. Dan apa yang tertuang di blog ini adalah salah satu rangkaian “bom waktu” yang sudah berhasil saya selesaikan.
Bukankah semua manusia adalah unik dan diciptakan untuk saling melengkapi?
—-
And since most of Introverts prefer writing then talking, and some of them become seriouse writers, so I think they have to see this image below…
Tapi bukan karena lantaran menjadi introvert lalu tak perlu bersosialisasi llooo? Mau kerja apapun kalau tak ada yang tahu juga, ya bagaimana mereka bisa mengapresiasi apa yang kalian kerjakan?
Untuk mereka yang bukan dari kalangan introversi: “Bukan berarti kami diam lalu kami tak berpikir dan tak bekerja loo.”
—-
Untuk mereka yang kewalahan menghadapi perempuan introvert, hihihihi coba aja tanya si itu dan si anu, gimana cara ngadepin saya, si introvert, tapi usul saya sih, coba kasih 1 laptop + unlimited internet connection, ke siapapun perempuan itu, yakin kamu akan lebih dicuekin
.
“Terus ‘Cha, udah liat gambar di atas, masih niat jadi penulis? Mang gampang?”
“Lah sekarang ‘kan dah jadi penulis blog. Emang ga gampang, tapi ‘kan semuanya bisa dijadiin rangkaian indah, kalo kita mau.”
—-
*blockquote semua diambil dari sini.
*gambar diambil dari sini.
Tags: Psikologi


Yaampooon, kalo ada “like this” macem fesbuk, gue klik deh nih… Hahahah….
Setuju banget, mbak. Tapi sayangnya banyak orang kurang bisa mengerti.
“Bukan berarti kami diam lalu kami tak berpikir dan tak bekerja loo.”
Malah boleh jadi sebetulnya jauh lebih banyak mikir.. haha.
To Ella: Hahahahah ma kasih ya…eh…mungkin someday wordpress bakal bikin kayak gitu kali..
To Willy: Itulah susahnya jadi makhluk semacam kita khan?
bener banget mb… dari dulu temen2ku jg mikir aq sosk yg individu… da benernya jg c pi gak sepenuhnya.
kadang juga pengen nernagi ma orang tentang pa yg drasain en dialamin pi slalu gak bs kluar sepenuhnya… slalu ngerasa gak akan ada dr mereka yg bener2 ngertiin qt.
sumpah aq nangis bc barusan..
ternyata gak cuma ku ja yg ngalamin.