Cerita Seru Dari Tempat Tidur Seseorang…

Apa sih yang salah dengan make love sebelum nikah? (*Perlu siap-siap kabur sepertinya gue*)

Iya, iyaaaa…saya tahu bahwa berhubungan badan baik dengan pasangan resmi, pasangan non resmi, atau pasangan semi resmi, atau pasangan orang lain, sebelum nikah resmi, menurut ajaran agama manapun dilarang. Belum lagi kalau dilihat dari sisi kesehatan, norma ketimuran, urusan aib keluarga jika itu semua meninggalkan jejak (baca: menyebabkan si perempuan hamil di luar nikah)? Pastinya akan memperpanjang lagi tuch daftar larangannya.

Taaappiiii…pernah tidak kalian berpikir, mencoba memakai “sepatu” mereka yang melakukan itu, dan mencari tahu (*Tapii bukan dengan cara melakukan hal yang sama ya*) mengapa mereka melakukan hubungan seksual di luar nikah?

Ah, tak tahu apa karena saya ternyata memang pintar dari dulu (*Jiiyeeehh…halagh*) atau apa, usaha untuk mencoba memahami alasan teman-teman saya yang sudah melakukan hal terlarang itu, sudah saya lakukan sejak lllllaaaaammmaaaaa.

Saat itu, ada beberapa orang teman saya bercerita pada saya di tempat dan waktu yang terpisah tentang pengalaman mereka berhubungan badan dengan pacar-pacar mereka (*Malah kalo ga salah dua di antaranya mempunyai pacar 2 orang, dan mereka ML sama dua-duanya*).

Hayyooo, pada ngaku, apa respon kalian pertama kali saat membaca kalimat di dalam kurung pada alinea di atas?

Kaget?

Sama. Saya juga kaget, tapi rasa kaget itu hanya saya simpan di dalam hati, tanpa umpatan dan lain-lain yang keluar dari mulut saya, walaupun hal itu sebenarnya saya anggap sebagai hal yang tidak pantas untuk dilakukan.

Saya membiarkan mereka bercerita tentang kejadian itu. Dari mulai alasan mereka melakukan, perasaan mereka, tempat melakukannya, posisinya, bagaimana harus “kucing-kucingan” dengan orang rumah, atau bagaimana mereka mengatur jadual agar dua pacar mereka tidak saling bertemu saat mereka melakukan hal itu di hari yang sama, tapi pada waktu yang berbeda, dan masih banyak lagi.

Hasilnya apa? Seru! Seru mendengarkan mereka bercerita.

Ternyata sikap saya yang tidak menghakimi mereka, membuat mereka menjadi sangat nyaman bercerita. Sekalipun hal itu adalah hal yang bisa dikatakan aib bagi kebanyakan orang, dan biasanya orang akan lebih memilih untuk tetap merahasiakannya. Apalagi mengingat usia kami saat itu, yang masih jauh lebih muda daripada sekarang, dan masih sangat kental dengan ajaran-ajaran, norma-norma yang diajarkan pada kami.

“Pinter-pinter mainnya aja. Jangan ampe sakit aneh-aneh yach.”

Yah, paling cuma sekitar itu, tanggapan yang saya berikan pada mereka.

Sampai sekarang saya merasa beruntung, karena masih banyak teman saya, yang mempercayakan cerita mereka kepada saya, termasuk rahasia besar semacam cerita di atas. Ya, mungkin karena mereka merasa nyaman bercerita  dan menumpahkan uneg-uneg ataupun rasa senang mereka pada saya.

Belum kebayang ya apa yang mau saya katakan di sini?

Okay…

Berhubungan seksual di luar nikah memang bukan suatu hal yang terpuji, dan masih dianggap aib oleh banyak orang. Lalu bagaimana jika tiba-tiba salah seorang kenalanmu kilaf dan melakukannya? Dan menyebabkan mereka bingung mau melakukan apa setelah itu. Mungkin akan disertai seribu rasa bersalah di dalam hati yang juga mungkin tak tahu harus dikeluarkan ke siapa. Atau bahkan mereka bingung setengah mati karena si perempuan hamil?

Ke psikolog? Bisa jadi orang ini susah mendapatkan akses ke psikolog. Dan tiba-tiba orang yang muncul di hadapan mereka adalah kamu, kalian yang adalah si teman, si tante, si oom, si sepupu, si kakak, si adik atau bahkan si orang tua dari mereka yang melakukan ini. Kalian adalah akses terdekat, termudah yang bisa mereka temui sekejap, tercepat saat mereka perlu kalian.

What will you do, Darling?

Kesal, marah, murka? Pasti. Apalagi jika mereka adalah keluarga kita. Belum lagi jika pada akhir cerita, mereka mengakui si perempuan hamil. Daaaarrrr….

Ada looo kasus yang sampai ke telinga saya dan membuat saya sedih, tentang seseorang yang cukup saya kenal, bahwa si ayah sampai menendangi anaknya (yang kebetulan anaknya ini laki-laki yang menghamili pacarnya).

Namun setelah marah, setelah murka? Apa yang kalian lakukan? Akan marah selamanya?

Mereka ini bingung luar biasa. Sedih. Mereka butuh seseorang, yang merangkul mereka dan tidak malah mencibir mereka.

Teringat acara di salah satu stasiun televisi lokal yang sedang menayangkan talk show, kalau tidak salah, dengan topik anak di luar nikah. Salah satu nara sumbernya adalah seorang ibu dengan satu anak perempuan hasil dari hamil di luar nikah dengan pacarnya yang menghamilinya dulu dan janji menikahi, tapi malah kabur tak tahu ke mana. Si ibu ini, yang dulu masih di awal usia dewasa muda (umur 20-an awal), memberanikan diri mengatakan pada ibunya. Si ibu lalu mengatakan ini: “Kamu harus menceritakannya pada tantemu, karena kamu tinggal bersamanya saat ini.”

Dan tahu apa respon dari si tante waktu ia ceritakan kejadian itu?

“Di perut kamu sekarang ada sebuah kehidupan. Yuk kita sama-sama pelihara dan besarkan.”

Saya langsung geleng-geleng kepala mendengarnya. Hebat. Salut untuk si tante.

Saya memang masih beruntung karena mereka yang bercerita pada saya, kasusnya belum separah si ibu pada cerita di atas. Dan saya berdoa jangan sampai ada kejadian seperti itu yang menimpa kenalan, apalagi keluarga saya.

pressmaster090400186

—-

Jadi sebenarnya tulisan ini juga akan saya gunakan sebagai bekal dan modal, jika saya mendapatkan kasus konseling kecil-kecilan yang serupa dengan ini (*Walaupun gue berdoa semoga kejadian-kejadian kayak gini berkurang ya, Boookkk!!*)

Tags:

Leave a Reply