Antara Aku, Kamu dan Dia…

Hmmm…hayo-hayo siapa yang masih tetap menjadi teman dengan pasangan jaman dulu? Baik pria atau perempuan pengisi hati jaman dulu?

Saya beruntung, karena hingga sekarang saya masih menjalin tali silaturahmi dengan semua pria pengisi hati jaman dulu. Setidaknya saat ini mereka semua akhirnya masuk ke dalam daftar teman saya di Facebook.

Terkadang saya sedikit bingung dengan pujian yang datang dari teman-teman yang saya ceritakan bahwa hingga sekarang saya masih mempunyai hubungan baik, bahkan masih bisa dengan sumringahnya datang ke perkawinan mereka, (dengan) para mantan dan satu “belahan jiwa yang tertunda untuk bersatu” (*Inget looo ini dalam tanda kutip, untuk mereka yang sok tau dan menerka-nerka kira-kira siapa orang yang saya maksud di sini, ndak perlu mikir aneh-aneh*).

“Kok, elo bisa sih bouw, masih temenan sama mantan loe?”

Yang akan saya respon dengan nada heran…

“Kenapa ga bisa ya? Emang ada yang salah?”

Terus terang, saya adalah orang yang selalu memulai sebuah hubungan percintaan dengan penjajakan yang lama dan tentunya dimulai dengan hubungan pertemanan. Rekor terlama penjajakan yang pernah saya jalani adalah 11 bulan, sebelum kami berdua memutuskan untuk pacaran, dan paling sebentar adalah 10 hari (*Dan gue super heran, kok bisa secepat itu? Eh, ga  jadi heran ding, lah wong gue kenalnya juga dah lama sama si pria ini, walau sempat beberapa tahun juga ga ketemuan*).

Awal hubungan itu yang selalu saya hargai. Bagi saya, lebih sulit menjadikan seseorang itu sebagai teman, teman berbagi, apalagi teman baik/sahabat, daripada menjadikannya sebagai pacar/pasangan.

Namun kadang hal ini akan menjadi sebuah kerepotan tersendiri, saat si pria/pasangan yang dulu mengisi setiap hari dan di tiap suasana hati kita, sudah tidak jomblo lagi, dan sudah memiliki pasangan baru, setelah hubungannya dengan kita berakhir (*Nyaho ‘kan loe?*).

Status kita yang sudah sebagai mantan pengisi hati, menjadi suatu hal yang sangat mengkhawatirkan (baca: membuat parno) pasangan baru si pria pengisi hati jaman dulu ini.

Apakah parno itu adalah tanda bahwa si perempuan baru pengisi hati (*yang mungkin juga itu adalah posisi kita sekarang*) dari si pria pengisi hati kita jaman dulu ini merasa insecure, atau rasa cemburu, alih-alih karena cinta?

Anyway…yang ingin saya katakan di sini adalah sepertinya fenomena seseorang spesial yang dulu sempat mengisi hati kita ataupun pasangan kita ini adalah suatu hal yang memang tak pernah ada habisnya untuk dibahas saat kita membina hubungan cinta dengan seseorang. Sering dianggap sebagai hal yang mengganggu.

Kalau dipikir-pikir, yang membuat hal itu menjadi sebuah hal yang mengganggu, terkadang ya kita sendiri juga ‘kan?

Coba deh, kalau kita tidak berpikir yang aneh-aneh, hubungan antara pasangan, kita dan orang spesial jaman dulu ini bisa berjalan dengan normal ‘kan? Kenapa kita tidak mulai suatu hubungan yang lebih seru, dengan kalian berempat misalnya, saling kenal, lalu jalan bersama, toh di antara kalian dengan pujaan hati jaman dulu, sudah tidak ada hubungan spesial lagi.

Susah?

Memanggggg…atau bahkan tak mungkin, atau jika memang tidak bisa, berarti salah satu di antara kalian masih menyimpan suatu rasa sisa jaman dulu donks? :D

Ya kalau begitu setidaknya pasangan baru kita yang sekarang, perlu di-educate bahwa mereka yang sempat mengisi hati di jaman dulu itu sekarang hanya berteman biasa, hanya untuk menjaga tali silaturahmi yang sebisa mungkin selalu dijaga.

Masih susah? (*Ini apa gue lagi yang aneh ya? Atau gara-gara dididik jadi wanita “perkasa” selama bertahun-tahun?*)…

Hmmm…bukan “perkasa” sebenarnya, tapi lebih ke arah melihat hal itu dari sisi positif dan berpikir secara logis. Kalaupun hati bermain di sini, ya boleh saja dan lumrah, asal jangan keterlaluan, jangan sampai terlalu mengekang, terlalu cemburu dan menuduh pasangan yang tidak-tidak. Nanti malah kabur pulakh si pasangan kita ini. Repot ‘kan?

Ya walaupun fenomena ini sulit dipecahkan dan sering menjadi masalah. Sebenarnya apa sih yang perlu dikhawatirkan lagi, lah wong sekarang ‘kan para pasangan yang baru itu sudah berhasil “memiliki” si pujaan hati jaman dulu. So? Takut kehilangan? Takut direbut? Takut CLBK dan jadi balik? Parno dounks…

Sudah ahhh, jangan parno-parno terus. Capekh ‘kan?

Hmmm, ada yang merasa beruntung niy…

“Kamu kalo mau ngobrol ketemu, and pulang bareng sama dia ga papa lo. Maaf ya dia tadi mau ke sana, tapi aku dah ngajak kamu pulang duluan, jadi kamu ga ketemu dia.”

“Ya, ga papa juga kali, aku mendingan pulang sama kamu.”

“Mungkin dia mau ngobrol sama kamu.”

“Bisa lain kali.”

Dan mungkin seseorang di sana juga beruntung…

“Eh tapi aku masih bantuin dia ya, urusan kerjaan.”

“Yes, ga papa. You’re her mentor anyway ‘kan?”

“Yup, I’m her mentor. Thanks for your understanding.”

“Yah, kalo kalian aneh-aneh ntar gue juga tau. Ga perlu repot cari tau.”

“I know that.”

Dan teringat perbincangan yang ini…

“Tenang, yang di sini dah ditatar dengan baik. Ga mungkin mikir aneh-aneh.”

“Weeeiitttzzz yang di sebelah gue juga dounks. Tanpa panjang-panjang ngasih tau dah ngerti doi. Malah dah ngomong duluan.”

(*Walaupun agak sedih sih, ternyata didikannya ga seberhasil saat ia mendidik seseorang, sebelumnya. Tapi setelah dipikir-pikir jangan-jangan memang masih perlu diparnoin ya :D wakakakakak?*)

Dan satu kali lagi merasa “tertampar” suatu kenyataan bahwa fenomena ini memang tidak pernah ada habisnya menjadi suatu hal yang selalu dibahas, sangat diperhatikan/dijaga kerahasiaannya dan menjadi sebuah concern tersendiri dalam sebuah hubungan cinta.

“Aku mau minta maaf ya, terpaksa tadi aku bohong, saat aku ditanyain dia apa aku dah punya pacar baru atau belom, dan aku jawab belom.”

“Kenapa ga dijawab jujur?”

“Aku belom mau ngelukain hatinya dia, karena waktu kita putus dia maunya penggantinya dia nanti bener-bener yang udah genah, dan bisa aku bawa sampai ke taraf berikutnya.”

(*Dan di sana ada hati yang terluka, dan membuatnya menjadi tak bisa berkata apa-apa*)

Nah, sekarang saya tanya ke kalian, masih perlu parno atau lebih baik “berdamai” dengan masa lalu? Atau…?

Tags: , ,

2 Responses to “Antara Aku, Kamu dan Dia…”

  1. D says:

    Aku pernah mbak 2 thn gak saling sapa dgn mantanku tp tetap berhubungan baik dgn keluarganya, doi smp takut bgt mendatangi wilayah selatan krn takut ktemu temen2ku… But now kami malah berteman akrab, we both are married dgn pasangan masing2 tentunya and live happilly… Dengan mantan2 yg lain dan para CCP juga sama, masih berhubungan baik…musuhan n nyimpen sakit hati cm bs bkin kita snewen sendiri ya gak?

  2. OchaOcha says:

    Seeetttuuujjuuu…tapi ya gitu deh..kalo pasangan yang disebelahnya tidak berpikiran sama, and satunya ga bisa mendidik dengan baik, ya kalo aku berada di posisi itu, mending sedikit “tak terlihat” walau aku sebenernya ga suka, coz aku ngerasa ga ada apa2 yang perlu disembunyiin…

    tapi ya gimana kalo polwannya sangar buener..

Leave a Reply