Mari Membongkar…

Perbincangan di bawah inilah yang memicu saya untuk menuliskan ini…

“Kayaknya dia baca SMS lu de.”

“Ha? Cewek lu buka-buka HP lu?”

“Rutin dia liat-liat HP gue. Biasalah cewek. Bukannya cewek kayak gitu ya?”

“Gue ngga.”

“Elo khan bukan normalnya cewek.”

“Byengsyek.”

“Ya, selama ini HP gue ga ada apa-apanya deh.”

“Iya sih, tapi tetep aja HP itu privacy.”

Hmmm, lalu saya mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah benar rata-rata perempuan yang sudah berpasangan, baik pacar apalagi suami, selalu memeriksa apa saja yang ada di dalam ponsel atau gadget atau benda apapun milik pasangannya?

Terus terang, kalau memang benar demikian, saya bukan salah satu di antara mereka. Ruang pribadi atau privasi pasangan saya, selalu saya jaga betul. Meskipun ia pasangan saya, tetap ia berhak mempunyai ruang gerak sendiri, yang terkadang kita tidak perlu tahu.  Bukan berarti saya tidak peduli dengannya, tapi saya menaruh rasa percaya kepadanya secara penuh. Selain itu, saya juga memberi keleluasaan agar ia sendirilah yang bercerita banyak tentang apa yang terjadi pada hidupnya, saat saya tidak ada di sampingnya. Dan yang terpenting, saya juga ingin diperlakukan demikian oleh pasangan saya.

Hal itu bukan baru terjadi sekarang-sekarang ini looo. Ini sudah saya lakukan sejak saya SMA, walau saat itu belum masanya ponsel, tapi pager (*Yah ketauan deh gue umur berapa hahahahha :D*). Saya paling malas membongkar-bongkar barang milik pasangan, kecuali waktu itu kami memang sengaja dan janjian bergantian bertukar agenda setiap minggunya untuk kami isi. Dan hanya sebatas itu.

Namun ada nih, satu kejadian lucu (*Lucu ga ya?*), waktu salah satu mantan saya tiba-tiba mendapatkan SMS mesra dari seorang perempuan, tak tahu mengapa tangan saya tak tertahankan untuk melihat ponsel miliknya. Sampai-sampai kita berdua waktu itu berebut. Saya semakin menjadi, saat saya tahu ia mempertahankan agar ponselnya tidak sampai ke tangan saya.

Di tengah “pertarungan” memperebutkan ponsel itu, saya berhasil membuka deretan SMS yang ia dapatkan. Kebetulan SMS dari perempuan itu letaknya masih di paling atas, yang membuat seluruh isinya dapat terbaca dengan mudah. Yah, dengan sangat menyesal, saya menjadi kehilangan kepercayaan penuh dengan si mantan ini. Dan pada akhirnya memang benar, setelah kami mengakhiri hubungan, ia langsung berhubungan dengan perempuan itu.

Kejadian itu tidak membuat saya menjadi parno dengan mereka yang mengisi hidup dan hati saya selanjutnya, dan dapat dijadikan alasan untuk mulai memeriksa barang-barang pribadi mereka. Sama sekali tidak. Never!

Saya tetap percaya penuh pada pasangan saya, karena saya yakin, jika pada akhirnya mereka tidak dapat dipercaya dan katakanlah selingkuh (atau setidaknya flirting) dengan perempuan lain, suatu saat berita itu akan sampai sendirinya ke telinga saya, atau mungkin saya akan diberikan lagi firasat super “canggih” seperti saat itu.

Dan yang pasti, kredibilitas si pasangan saya tentu akan jatuh sejatuh-jatuhnya, jika benar ia menyalahgunakan kepercayaan saya.

Untungnya, mereka yang sebenarnya bisa saja menganggap dirinya mempunyai hak untuk membongkar-bongkar privasi saya, sampai sekarang tetap memilih untuk tidak menggunakan anggapan itu. Mereka tidak menuntut, bahkan tidak meminta untuk membongkar barang-barang pribadi saya.

Atau memang pria seperti itu ya? Atau kebanyakan perempuan emang curigaan terus? Jangan-jangan memang saya yang aneh ya?!

Menurut kalian gimana?

whatsinyourbag

—-

“Hmmm…enakan malah kita sendiri yang ngasih ya. Minta tolong aturin dompet, minta ambilin sesuatu di tas, plus omongan “bongkar aja tas gue, tolong cari”; minta tolong kirimin SMS urgent, kalo pas nyetir. Dari pada bongkar-bongkar dan mriksain satu-satu isinya apaan. Ya, ga?”

—-

Artikel ini juga diposting di NgerumpiDotCom (*Gak nyangka komentarnya banyak hehehehe*).

Tags: , ,

Leave a Reply