Mari Bercinta, Mari Curhat…

Dua minggu belakangan ini adalah dua minggu yang cukup mengherankan bagi saya. Dua minggu yang tak tahu mengapa, tiba-tiba beberapa kenalan saya meminta saya untuk tempat curhat (“Bukan colongan yang jelas, karena curhat yang disengaja”).

Lucunya, mereka yang curhat dengan saya tersebut, mempunyai beberapa kesamaan. Mungkin ini sebuah kebetulan.

Kebetulan yang pertama adalah, mereka semua menceritakan tentang kisah kehidupan percintaan, baik dengan pasangan mereka yang sekarang, atau dengan mantan pasangan mereka, atau kisah percintaan yang cukup ribet (a.k.a percintaan yang melibatkan lebih dari 2 orang). Kebetulan selanjutnya adalah, mereka itu adalah teman atau kenalan saya yang amat sangat jarang sekali (“Saking lebainya”) saya jumpai. Kebetulan yang ketiga adalah mereka itu, menceritakan kisah percintaan yang selama ini menjadi permasalahan besar dan utama, dalam berinteraksi dengan orang yang mereka maksud dalam cerita; bisa dibilang, bahwa cerita itu adalah suatu rahasia besar bagi mereka. Keempat, sepertinya ini adalah suatu hal yang sering dilakukan setiap orang saat menceritakan sebuah rahasia kepada seseorang, mereka meminta saya untuk tidak menceritakan ke seorangpun tentang apa yang mereka ceritakan.

Setelah mereka selesai bercerita, ada satu pertanyaan yang saya lontarkan pada mereka, yaitu “Kenapa sih elo ceritain itu ke gue? Kenapa gue yang dipilih? Dua dari tiga orang menjawab: “Gak tau, gue percaya aja ama elo.” (“Woooiii, buat 1 orang yang belom bales SMS gue yang isinya pertanyaan itu, yaa coba tulung dijawab!”)

(“Ahhh, jadi lupa mau cerita apa lagi, gara-gara abis tilpun-tilpunan seseorang hampir satu jam, hyaaaahhhh”)

Hmmm…sedikit kaget, bercampur tak percaya dan senang tentunya, bahwa saya menjadi orang terpilih bagi mereka untuk bercerita keluh kesah yang sedang mereka hadapi. Meskipun saya “bukan” orang yang tepat bagi mereka, bagi kalian juga, yang mencari sebuah jawaban.

Jawaban tentang apa yang sebaiknya, apalagi jawaban menentukan jalan yang harus kalian tempuh untuk mengatasi masalah kalian, tak akan pernah keluar dari mulut saya. Once more, NEVER. Saya hanya akan membuat kalian bisa menemukan alternatif-alternatif penyelesaian masalah kalian, lebih melihat sisi positif dan sisi negatif serta resikonya, jika alternatif-alternatif itu kalian ambil. Masalah alternatif mana yang akan kalian jalani, kalian sendirilah yang harus menentukan langkahnya.

Apabila kalian bertanya, sambil mengumpat “Kalo gitu apa gunanya psikolog?”, yang biasanya akan menjadi idealisme terakhir para Sarjana Psikologi. Gunanya mereka (berhubung saya belum psikolog, hehehehehe), atau gunanya seorang konselor, akan kalian rasakan saat kalian sudah berbicara dengan mereka. Saat kalian sudah mempercayakan cerita dan masalah kalian ke mereka, yang saya akui hal itu sama sekali tidak mudah. Sumpah, menjadi seorang klien yang berhadapan dengan konselor dan/atau psikolog, benar-benar tidak mudah. Saya pernah berada di posisi itu, walaupun itu saya lakukan dalam pemenuhan tugas kuliah. Namun itu membuat saya sangat berterima kasih pada para dosen tercinta yang telah “memaksa” mahasiswanya, termasuk saya, untuk merasakan berada di posisi itu, agar kami mampu memakai “sepatu” para klien yang berhadapan dengan kami kelak.

Kalian tak perlu khawatir, karena cerita kalian akan aman di tangan kami, jikalau kami memang perlu mendiskusikan kasus-kasus tertentu tentang apa yang kalian ceritakan pada kami, kami tetap akan menjaga kerahasiaan nama kalian, dan benar-benar hanya untuk keperluan yang bisa dipertanggungjawabkan secara profesional. Kami tahu tentang kode etik, sekalipun kami belum menjadi psikolog. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang konselor, psikolog ataupun seorang yang masih menyandang predikat Sarjana Psikologi, sudah tertanam dengan baik di pikiran kami, bahkan seperti sudah terdoktrinasi.

Kami, para konselor atau future counselor, para psikolog atau psychologist wanna be, akan sangat berterima kasih pada kalian, saat cerita-cerita kalian itu terbagi kepada kami. Terus terang, kalian-lah yang akan menyempurnakan kami di “sekolah” yang sesungguhnya, yaitu kehidupan nyata. Tanpa jam terbang yang tinggi, kemampuan dan keterampilan kami untuk menghadapi klien, menghadapi kalian, tidak akan berkembang. Tanpa kalian kami tak akan terasah.

Kalian-lah yang membuat hidup kami semakin berwarna, karena setiap individu adalah unik dan tak ada yang sama.

Terima kasih atas cerita kehidupan kalian yang dipercayakan pada kami, pada saya terutama.

Sekali lagi, terima kasih. Saya tunggu cerita-cerita kalian. Dan akan lebih seru lagi, kalau sesi konselingnya secara langsung sepertinya.

—-

Kok keinget sesuatu ya…

“Pa kabar?”

“Kangen”

“Sama?”

…dan saat dering telepon itu terangkat…

“Maunya kangen sama sapa?”

“Loh ga tau, ‘kan gue yang tanya sama elo.”

“Takutnya elo ga ada yang ngangenin, jadi ya gue kangen sama elo.”

“Munyuk!”

—-

“Eh, satu lagi, satu lagi…..Beasiswa, beasiswa S2, ada yang mau ngasih? Huaaaaa enakan kuliah daripada cari duit!”

Tags: ,

3 Responses to “Mari Bercinta, Mari Curhat…”

  1. warm says:

    ah psikolog memang hebad jaga rahasia :D
    soal beasiswa,
    coba liat di http://www.iief.or.id/ifp/ifp.html
    coba aja :)

  2. OchaOcha says:

    Hehehehe…padahal ya Fakultas Psikologi (apalagi di kampusku) itu berasa tembok pun punya kuping huahahauaahahaha…

    Btw..terima kasih udah mampir + ngasih info beasiswa pulakh… :D

  3. Zulhaq says:

    emang enakan kuliah bu
    cari duit capek…makan ati mulu kekekekkk
    selama malam menjelang pagi….

Leave a Reply