Matahari belum lama beranjak dari peraduannya, seiring saya membuka laptop tercinta dan menyalakannya; office boy masih membersihkan meja di ruangan saya, dan pintu ruangan saya juga masih terbuka, agar udara di dalam ruang itu berganti. Tiba-tiba muncullah si bos di depan pintu ruangan saya.
“Ritz Carlton di bom!”
“Ha? Yang di PP atau Mega Kuningan?”
“Iya.”
“PP atau Meg Kun?”
“Marriot, Meg Kun!”
Seketika saya mengambil si Bébé dan mulai menekan nomor telepon seseorang, yang diawali dengan angka 0818…
Yang tak lama disusul dengan terdengarnya suara…
“Your account has insufficient credit to make a call,…”
“Damn, gue lupa tadi malem dah over limit!”
Seketika saya meraih gagang telepon yang ada di atas meja saya, kembali menekan nomor telepon itu. Dan terdengarlah nada itu…
“Tut, tut, tut…”
Ternyata saya secara otomatis merespon…
“Oh, masih nyambung, berarti masih idup orangnya.”
Saya lupa bahwa ada si bos yang duduk di depan saya. Dan dia tertawa mendengar respon saya seperti itu.
Tak lama bunyi tut, tut, tut itu pun berhenti, terganti dengan suara seseorang…
“Pheeewwwhhh, leganya!”
Bagaimana tidak khawatir, lah wong letak kantor orang yang saya telepon itu, tepat di samping dan di seberang dua tempat kejadian pengeboman pagi ini, dan saya tahu persis jam kantornya dimulai pukul 08.00.
Selanjutnya yang saya lakukan adalah mulai “mengabsen” teman-teman kantor lama, yang letak gedungnya juga tak jauh dari lokasi kejadian. Dan dua orang yang sebenarnya letak kantornya sedikit jauh dari lokasi kejadian, tapi ada kemungkinan mereka melewati kawasan Mega Kuningan.
Mulailah tangan ini menekan angka 0856…
“Yah, ga diangkat!”
Terganti dengan angka 255…yang diikuti dengan nomor extension-nya…
“Gak diangkat juga! Sampingnya ajah.”
Dan…
“Ndut!”
“Aman, Mbak.”
“Lagi ga lewat-lewat situ ‘kan tadi berangkat ngantor? Sebelahmu?”
“Aman juga, baru nongol dia.”
“Okay de.”
Setelah saya tenang dengan mengetahui orang-orang yang saya cintai dalam keadaan aman, seketika kejadian enam tahun yang lalu, saat Hotel J.W. Marriot pertama kali dibom, mulai “terlihat” kembali di depan pelupuk mata.
Enam tahun yang lalu…
Seperti biasa, saya dan beberapa orang teman satu divisi, setiap hari “mempeributkan” urusan lokasi makan siang kami. Dan siang itu, tempat yang terpilih adalah Daily Bread yang terletak di Menara Rajawali, yaitu sebuah gedung perkantoran, tepat di samping Hotel J.W. Marriot.
Sambil bercerita seputar urusan kantor, dan bercanda-gurau, kami pun berjalan menuju gedung itu, yang letaknya hanya berjarak dua gedung dari gedung kantor kami.
Matahari di atas kami memang sedang bersinar cerah dan ceria, seperti biasanya. Sekali lagi ya, seperti biasanya. Tak tahu mengapa hal itu tumben menjadi suatu masalah besar bagi kami…
“Duuuhhhh…buset deh panas bener yah.”
“Iya nih, ntar gue dimarahin dokter kulit gue.”
“Males ga sih lo jalan ke Rajawali?”
“Iya, balik aja yok, makan di bawah ajah.”
Bisa dibilang, semua peserta setuju untuk kembali ke kantor dan makan siang di restoran yang ada di gedung kantor kami. Padahal saat itu kami sudah berjalan hingga depan Gedung Kedutaan Cina, yang berarti Gedung Menara Rajawali tinggal beberapa langkah lagi.
Makan siang kami pun berjalan seperti biasa dan diselingi obrolan penuh canda. Tiba-tiba di tengah itu semua kami merasakan ada guncangan hebat. Bahkan satu teman saya yang sedang menempelkan kepalanya di dinding restoran itu, sampai terasa seperti terpental.
Kami pun lalu berkomentar, sambil bercanda…
“Eh, apaan nih, jangan-jangan bom kali ya.”
“Ah, ga mungkin lah.”
Dan sedetik kemudian teman saya yang tadi menempelkan kepalanya di dinding menerima sebuah telepon, yang kemudian langsung ia tutup, untuk memberitakan isi pembicaraannya itu kepada kami.
“Marriot di bom!”
“Ha, yang bener loe? Untung kita ga jadi makan di Daily Bread. Kalo di sana, setidaknya kena imbas.”
Letak Daily Bread itu di bagian depan Gedung Menara Rajawali, di sisi yang lebih dekat dengan Hotel J.W. Marriot. Bayangkan, kalau Menara Rajawali itu adalah sebuah rumah, Daily Bread ini adalah salah satu penghuni teras gedung itu.
Dan seketika saat itu aku tak bisa membayangkan jika kami makan siang di sana, di restoran yang dipenuhi dengan kaca.
Kebetulan saat itu kami semua sudah selesai makan siang. Tanpa basa-basi, kami pun langsung berhamburan keluar kantor untuk melihat apakah berita itu benar atau tidak.
Setibanya kami di depan lobi, kami langsung disuguhi pemandangan mobil polisi dan petugas keamanan kawasan Mega Kuningan yang dihiasi dengan sirine yang menyala dan berbunyi lantang. Beberapa dari mereka sudah membawa para korban untuk dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Saya ingat persis, saat itu, saya, Karin dan Rully berjalan menuju lokasi kejadian, dan berhenti di depan Kedutaan Cina. Ingin rasanya melihat lebih dekat. Namun Rully menghentikan langkah kami bertiga, terutama langkah saya untuk mendekati lokasi.
“Udah Cil, di sini aja. Ga usah ke sana.”
Saya tahu alasannya, mengapa ia mengatakan demikian, mengingat kemampuan “tambahan” yang dimilikinya, ia sudah dapat melihat kejadian yang letaknya masih beberapa meter di depan kami.
Saat itu saya langsung memikirkan rumah. Pasti berita ini sudah tersiar di stasiun televisi lokal, yang akan menyebabkan orang rumah sangat panik memikirkan kondisi saya, yang berkantor di kawasan Mega Kuningan, ditambah Mama tahu persis bahwa saya sering juga berada di sekitar lokasi kejadian, setidaknya hanya untuk makan siang.
“Damn, ga bisa nyambung lagi. Yah, iya lah XLnya pasti keganggu kali, gedungnya juga deketan ama Marriot.”
Tak tahu bagaimana caranya, tante saya berhasil menghubungi ponsel saya.
“Cha, kamu ga papa? Mamamu panik. Susah banget ya telepon kamu.”
“Iya, Tan, ga papa kok, bilangin mama ya. Emang tadi mau makan siang di sana, tapi ga jadi.”
Kami tak lama berdiri di depan Kedutaan Cina, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke kantor.
Sambil berjalan, kami pun masih disuguhi pemandangan tidak menyenangkan, berupa lalu lalangnya ambulans dan polisi.
Di lobi kantor, kami tak langsung naik ke lantai 8, tapi kami masih berbicara sebentar dengan beberapa teman kantor yang kebetulan ada di sana.
Tiba-tiba aku melihat ada satu orang, yang terlihat dari pakaian yang ia kenakan, saya tahu bahwa ia juru masak. Meskipun pakaiannya tak lagi berwarna putih kinclong, karena sudah berganti menjadi merah bercampur coklat, terkena darah para korban.
Ia berlari ke arah meja informasi gedung kantor kami, sambil membawa secarik kertas. Dan dari kejauhan saya melihat ia mendapati kendala komunikasi dengan staf di meja informasi.
Saya pun menghampiri Rully.
“Yi, bantuin tuh, kayaknya ga bisa ngomong Indonesia dia. Kasian.”
Dan ternyata benar, tak tahu memang karena si juru masak ini sedang panik sampai ia tak bisa bicara Bahasa Indonesia, atau memang benar-benar tak bisa, ditambah dengan staf di meja informasi yang memang tak piawai berbahasa Inggris.
Si juru masak membutuhkan mesin fax untuk mengirimkan daftar nama pegawai Marriot yang menjadi korban. Sepertinya untuk dilaporkan ke J.W. Marriot regional. Akhirnya ia diantarkan Rully ke kantor cabang bank yang ada di lantai dasar.
Setelah kami memastikan bahwa si juru masak mendapatkan apa yang ia perlukan, kami kembali bingung apa yang selanjutnya akan kami lakukan…
“Hmmm…kok gue serem ya pulang-pulang malem hari ini.”
Saya mengatakan itu pada Rully dan Karin.
“Kita pulang aja gimana?”
Ditambah waktu itu, kami bingung apakah kantor memang dipulangkan atau tidak, yang ternyata tidak (“Huh!”). Namun kami tetap memutuskan untuk pulang (“Emang mau lu ‘Cha! Heheheheh.”).
Satu hal yang sampai saat ini tak terbayangkan oleh saya, adalah bagaimana jika kami semua jadi makan siang di Daily Bread saat itu? Yang menurut berita yang kami terima, kaca di restoran itu hampir semua pecah. Belum lagi guncangan imbas bom itu, yang dari kantor kami pun sangat terasa; dan menurut teman saya yang makan siang di tempat (di meja kerjanya), guncangan itu sampai mengakibatkan komputernya bergeser, apalagi jika kami di Daily Bread, guncangannya itu pasti lebih terasa. Mungkin saja kami tak terluka sedikit pun saat itu, jika kami jadi makan siang di sana, tapi yang jelas pengalaman traumatis sudah dapat dipastikan menjadi “penghuni” long term memory kami.
Kejadian hari ini, 17 Juli 2009 memang kejadian yang membuat hampir semua orang kembali marah, kesal. Namun ada pula yang tertawa dan gembira di atas penderitaan itu semua, yaitu para pembuat dan pelaku pengeboman itu.
Tertawalah sampai puas, karena saat ini kalian tidak tahu apa yang kalian perbuat! Namun kami percaya tak ada sedikit pun perbuatan kalian di dunia ini yang luput dari penglihatan-Nya. Selamat bertanggung jawab kalau begitu!!!
Kali ini, rasanya bait doa seperti: …ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami…, akan sulit terucap, apalagi terucap dengan hati.
Semoga doa itu kelak dapat terucap dengan tulus, disertai dengan permohonan agar para pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban baik di dunia dan di akhirat yang setimpal, dengan apa yang mereka perbuat. Dan pastinya mengampuni bukan berarti membiarkan mereka merusak lagi.
—-
“Ya mbok ya o, sebelum ngebom tanya-tanya dulu sama yang udah pernah ngebom terus mati atau yang dihukum mati waktu itu, apa perbuatan yang kalian anggap perbuatan heroik itu, memang dilegalisir oleh Yang Empunya Hidup? Jangan sok tau dulu lah.”
—-
“Untuk para pengebom yang masih berkeliaran di luar sana, kami ingin mengatakan pada kalian semua, wahai para jahanam, bahwa KAMI.TIDAK.TAKUT!!!!!!!”
Gambar diambil dari sini
—-
Nb:
Saya pribadi mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk keluarga korban meninggal akibat peristiwa hari ini, dan juga turut prihatin bagi mereka, para korban luka-luka. Semoga semuanya akan dapat kembali normal dengan segera, termasuk keadaan negara kita tercinta ini.
Tags: Langkah Kaki


lohw? Ocha uda kerja dari 6 taon yang lalu?
baru tau..
hehehehe..
yup.. Yang Di Atas berencana lain..
seketika kalian merasa mending balik aja..
daripada makan di Daily Bread..
walo jaraknya [sepertinya] lebih dekat ke Daily Bread, Tuhan mengarahkan agar kalian balik lagi aja walo lebih jauh..
Jbu..
terkutuk untuk semua pelaku terorisme…
semoga mereka segera tersadarkan, semoga segera kembali pada jalan yg benar
kalo nggak sadar dan nggak menemukan jalan yang benar, panggilah mereka tuhan
biarkan dunia ini damai tanpa mereka….!!!
@ Vina…aku mulai kerja Sept 2000, ampe 2004, resigned untuk kuliah, terus kerja lagi…and sepertinya someday bakal resigned lagi untuk kuliah lagi hahahahahha…Psikologi S2 jarang yang malem euy…apalagi Psikologinya almamater…
@ Zulhaq…Dia akan membiarkan ilalang itu tumbuh bersama benih2 baik…tapi tenang aja…hari akhir mereka tak akan indah karena perbuatan mereka selama di dunia…
@ Manusia2 dungu para pengebom, apalagi yang kepalanya udah kepisah dari badan loe!!!…Dah ketemu Lucifer?