Ingin Bintang Tinggal Bilang…

Baru saja, benar-benar baru saja, saya membaca status Facebook dari salah seorang yang termasuk di dalam daftar teman saya. Dan status itu adalah…”Sedang menikmati indahnya ketidakpastian”…

Langsung saya teringat perbincangan tadi siang antara saya dengan si krempeng…

“Tiket dah di tangan gue yah. Ntar sore gue dari kantor jam 6 kurang, ampe SenCi sepuluh menit lah. Kantor gue tinggal selemparan kancut gitu dari SenCi. Btw, lagi ngapain lu idup di kantor?”

“Donlod buku.”

“Hyaaahh, sempet-sempetnya lagi. Buku apaaan?” Ia langsung menyebutkan nama pengarang tersebut, yang terus terang saya lupa. Namun yang jelas nama pengarangnya seperti nama Rusia. Dan obrolan berikutnya…

“Buku kesukaan laki gue.”

“Teteup ya masokis, gue pikir elo dah sembuh.”

“Masokis ga bisa diubah, Nek. Dah bawaan diri.”

“Yoi. Elo donload buku, gue nyetel semua lagu cinta dari jaman baheula. Sekarang mah gue ikutin aja lah. Kalo lagi kangen sama sapa aja ya tinggal bilang, lagi cinta ya juga tinggal ngomong, mau maki-maki ke orang ya diiyain ajah. Perkara abis itu mati rasa lagi, terserah, gue ga peduli. Capekh bouw ditahan-tahan terus.”

Dan hasilnya, terkirimlah beberapa kata…

“Thanks for making me your Chiquitita…hopefully I can feel that moment again…with you…i hate to admit it…i do love u…still.”

Yang diikuti dengan sebuah rasa…

“Siyal!!! Really? Tuh kan ilang? Duhhh maunya apa sih?”

Berbicara tentang tak tahu sebenarnya apa yang diinginkan, saya jadi ingat perbincangan lainnya…

“Btw, elo ngerti tulisan gue ngga sih?”

“Yah ngerti lah. Mirip tulisan gue. Gue dah kenal elo lama juga.”

“You’re always be my baby lah. Love you to the max. Tapi ada juga sih yang ngga ngerti maksud tulisan gue.”

“Love you too cinta. Lah orang yang deket gue aja, selain elo sih, ada yang ngerti tulisan gue deh.”

“Ya itulah kita, terlalu implisit nulisin apapun. Dan gue seneng membuat orang lain mikir suka-suka. Tapi wajar kali ya, orang yang ngebaca ngga ngerti, lah kita juga kadang ngga ngerti maunya apaan.”

Dan pada akhirnya saya menyetujui status seseorang yang termasuk di dalam daftar teman di Facebook saya, bahwa ketidakpastian itu indah dan harus dinikmati, walaupun mungkin akan menyebabkan akumulasi rasa senep (yang menjadi status Yahoo Messenger teman saya pada hari ini) yang pada akhirnya dapat membuat seseorang memilih untuk menjadi pengecut, hanya agar ia dapat bertahan hidup (“Ketauan abis nonton Transformers yaaa.”)

—-

“Ternyata sensasi gajian tidak sedahsyat dulu. Sekarang harus mikirin asuransi, nata idup, nata finansial, nabung, kapan beli berliannya neh (*hahahah sedikit lebai si ocha*), belum lagi Mango and Zara yang terus-terusan memanggil (*kalo ini hasrat hati yang selalu sulit ditahan*)”

—-

Cerita ini ditulis ulang, karena tiba-tiba terhapus, tak tahu mengapa. Dan sempat membuat saya kesal.

Tags: ,

Leave a Reply