Menikmati Lagu Sumbang…

Sekitar pukul 09.00…

“Yah, seperti biasa, internet masih mampus. Ya sudah lah, ga boleh ilang lagi moodnya.”

09.15…

“Nyetel lagu ah.”

Dan aktiflah Windows Media Player di laptop (“Enakan kasih nama apa ya? Hehehehe, terinspirasi sama si MbakDos di seberang sana.”), dan lagu yang saya dengarkan berdasarkan abjad judul lagu yang dimulai dari abjad A.

Tak lama kemudian, mulailah telinga ini menangkap lagu-lagu “sumbang”.

Di mulai dengan…

And I Love Her, yang dulu terkenal karena Beatles. Tak perlu repot-repot mencari tahu lagunya seperti apa. Hanya tinggal menggerakkan kursor komputer/laptop kamu sedikit ke bawah, kamu sudah tahu lagu yang saya maksud.

Tak perlu repot-repot juga bagi seseorang (“Saya bukan ya?”) untuk dapat memanggil kembali “hantu” di kepala, alias memori tentang sesuatu. Dan sampailah pada kejadian di hari pertama tahun ini, karena ada “Beatles” The 2nd yang lagi pentas.

Namun seketika? Gone! (“Yay!”)

Kembali ke pekerjaan yang tiba-tiba sedikit lebih banyak dan dapat membahagiakan, karena sudah barang tentu itu akan menyibukkan.

Windows Media Player pun masih sibuk bernyanyi dan terus bernyanyi.

Kira-kira sekitar pukul 09.45, suara “sumbang” kembali terdengar. Kali ini…

And Aubrey was her name, a not so very ordinary girl or name, but who’s to blame for a love that wouldn’t bloom…and bla, bla, bla…

What the…Ya, ya, kembali ke awal Desember, lebih tepatnya 4 Desember, saat dua orang di ruang itu, memegang microphone, sibuk memilih-milih daftar lagu apa yang akan digilir untuk dinyanyikan.

Dan saat seseorang memilih lagu yang mempunyai lirik di atas…

Bukan yang memilih lagu: “Ya ampun Aubrey”…(sambil tertawa kecil)

Orang yang memilih lagu: “Tau lagunya khan?”

Bukan yang memilih lagu: “Ya, tau lah!”

Orang yang memilih lagu: “Suka?”

Bukan yang memilih lagu: “Aku suka banget sama Bread. Jaman-jamannya aku ngamen, lagunya Bread itu lagu andalan.”

Sekali lagi, “tongkat ajaib” dapat bekerja dengan baik, yang membuat semuanya hilang dari pikiran seketika.

Kembali serius dengan pekerjaan, yang sudah mendapatkan dukungan koneksi internet dengan baik. Melirik ke arah penunjuk waktu di sudut kanan bawah laptop tercinta, telah menunjukkan pukul 10.11 (“Hmmm, do I have a damn good photographic memory?”).

Dan “hantu” lain terpaksa terpanggil kembali untuk keluar, karena lagu yang satu ini…

When you weary, feeling small, when tears are in your eyes, I will dry them all…

Menunggu di dalam mobil saat ia membeli sebungkus, dua bungkus rokok murahan, serta beberapa botol minuman ringan di mini market di depan kompleks rumah, dan sekembalinya ia masuk ke dalam mobil, suaranya menggantikan suara si penyanyi asli,…

Sail on silvergirl, sail on by. Your time has come to shine. All your dreams are on their way.

“Ah cupu. Pergi luuu!”

Ketak-ketik lagi, sibuk lagi. Sambil diiringi lagu-lagu indah dari Windows Media Player, yang ternyata kembali menyanyikan lagu “sumbang”…

Sahabatku, usai tawa ini, izinkan aku bercerita…

“Hantu” yang nongol baru sedikit nih, baru saat dia menanyakan “Just tell me, lagu ini tentang apa?”, saat salah seorang di sana sedang duduk, dengan kepala dan arah mata tertuju ke seseorang yang letaknya sedikit di bawahnya; dan salah seorang lagi berlutut, dengan tangan kirinya diletakkan di atas sofa, tepat di samping kaki kanan seorang lainnya, sehingga sikunya bersisian dengan dengkul orang yang duduk, dan tangan kanannya ia letakkan di atas sofa tepat di samping kaki kiri seorang lainnya itu, juga menjadikan siku dan dengkul kedua orang itu bersisian, dan mengakibatkan kedua tangan orang yang berlutut tadi mengapit ke dua kaki seseorang yang sedang duduk itu.

“Mari lewwaaatttiiiii…”

Mulai merasa “terancam”, akhirnya metode terakhir tersebut kembali terulang, kembali melewati suara-suara “sumbang” yang bisa membuat siang hari menjadi melankolia.

Namun jiwa masokis yang tak pernah bisa/ingin terbunuh dengan sukses ini, kembali menikmati salah satu suara “sumbang” yang ada di deretan daftar lagu itu, dengan sukarela.

I could build a mansion, that is higher than the trees…

Dan malahan menikmati “hantu” yang muncul (“Hyaaahhhh…!!!”)

Namun semuanya itu tak menjadikan mood ini berubah. Tetap sibuk, tetap ceria, tetap menyenangkan.

Sampai saatnya tiba di rumah, dan memeriksa isi si Bébé. Terteralah di sana sebuah pesan singkat dari si Krempeng.

“Calling him because I miss him so. Now I miss him even more.”

Dan balasan pesan itu terkirim, yang intinya untuk tidak terus-menerus meng-IYA-kan suara hati untuk mengiriminya pesan singkat atau bahkan meneleponnya.

Tttaaaaapppiiii, hari ini gagal, akhirnya satu pesan singkat terkirim sudah, setelah sekian lama tak terjadi. Hanya satu kata sangat singkat yang diketikkan…

“Tega!”

—-

“Krrreeemmmpppppeeeennngg, byengsyek lu ya! SMS lu stimulus buruk deeee!”

—-

Dari sekian banyak lagu “sumbang” yang diputar oleh Windows Media Player hari ini, inilah juaranya (meskipun dengan video klip yang monoton)…

Dan dengan lirik lengkap…

When you’re weary, feeling small,
When tears are in your eyes, I will dry them all
I’m on your side. When times get rough
And friends just can’t be found,
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.

When you’re down and out,
When you’re on the street,
When evening falls so hard
I will comfort you.
I’ll take your part.
When darkness comes
And pains is all around,
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.

Sail on silvergirl,
Sail on by.
Your time has come to shine.
All your dreams are on their way.
See how they shine. If you need a friend
I’m sailing right behind.
Like a bridge over troubled water
I will ease your mind.
Like a bridge over troubled water
I will ease your mind.

Yang telah berhasil meruntuhkan tembok pertahanan yang dikira oleh orang yang membangunnya sudah cukup kuat dan tak dapat runtuh. Ternyata asumsinya salah total. Setidaknya untuk hari ini.

—-

I hate my nites, and my early mornings, times I remember you at the most.

Tags: ,

Leave a Reply