Pagi Biru Melankolia Sore…

Saat saya membuka pintu ruang kerja saya,…

“It’s not going to be a good day for me!”

Membuka laptop, menyalakannya dan menemukan satu hal yang semakin mendukung pikiran saya tadi…

“Hyaaahhh…internet down terusssss! Otomatis belum bisa memeriksa e-mail dah!”

Rutinitas itulah yang pertama kali biasanya saya lakukan begitu memasuki ruang kerja saya. Memeriksa seluruh akun surat elektronik yang saya miliki, baik akun surat elektronik kantor maupun akun surat elektronik pribadi, walaupun semua surat elektronik sudah masuk ke si Bébé, tapi tetap tidak senyaman membaca dengan layar laptop yang lebih besar.

Saya tambah kehilangan mood baik hari ini. Dan mulailah saya menyelesaikan pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus menggunakan media internet.

Berkali-kali melihat ke arah jam, adalah sebuah indikator yang sangat buruk bagi seorang Ocha. Meskipun indikator buruk ini mempunyai dua kemungkinan, yaitu Ocha yang merasa bosan, atau Ocha yang lagi dikejar waktu seperti saat-saat ia masih kuliah dulu.

Dan saat itu, kesekian-kalinya ia melirik ke arah kanan bawah di sudut layar laptopnya.

“Anjrit masih jam 10.00.”

Keluar-lah saya dari ruangan…

“Minta tolong bikinin kopi dounk.”

Ternyata belum membantu. Pekerjaan yang sedang saya kerjakan terasa sangat lamban untuk saya bisa selesaikan. Dan terasa semakin lamban dengan hadirnya salah satu sapaan teman saya di YM yang saat itu sedang saya aktifkan dengan menggunakan si Bébé. Beginilah kira-kira sapaannya…

“Baru jam 11, sore masih lama ya.”

Dan saya pun membalas…

“Sama aja lu sama gue…”

Saya pun kembali ke pekerjaan saya, sambil berharap kopi yang sudah setengah gelas saya habiskan, akan memberi sedikit pencerahan bagi saya, untuk hari ini.

Saat di tengah saya mengetik, tiba-tiba tanda koneksi internet sudah berfungsi dengan baik, sudah muncul. Dan mulailah saya membuka akun surat elektronik yang belum saya periksa hari ini, juga menyalakan YM.

Kembali saya melirik ke arah jam, yang sudah menunjukkan pukul 11.50. Dan hati masih tak karuan karena moody saya sedang kumat.

Saya semakin memantapkan niat saya, untuk makan siang di luar kantor hari ini, dengan teman ataupun sendirian, saya tak peduli lagi. Jenuh ini harus dibunuh segera, tak bisa dibiarkan.

Melihat jejeran teman-teman yang aktif di YM, saya melihat salah satu teman yang menyapa saya dengan panggilan sayangnya untuk saya, yaitu sarap, beberapa hari yang lalu. Dan berikutnya yang terjadi adalah…

“Ke P.S yuk.”

Saya pikir ia akan berpikir banyak hal dulu sebelum menjawab. Ternyata…

“Yuk. Kapan?”

“Sekarang.”

“Elo ampe P.S jam berapa? Gue paling 15 menitan.”

“10 menit gue juga nyampe. Gue brangkat sekarang.”

Begitu saya sampai Plaza Senayan,…

“Zara, Cuy.”

“Okay.”

Tak lama saya mengitari butik kesayangan saya itu, tiba-tiba teman saya sudah datang.

“Mau makan atau ngga?”

“Makan boleh, ngga makan juga boleh. Tapi makan lah.”

“Okay. Di mana?”

“Nyushi?”

“Sushi Tei yah.”

Akhirnya kami berdua makan dengan anteng di restoran favorit kami berdua, walaupun ini kali pertamanya kami makan berdua di sana.

Mulailah semua pembicaraan seputar kehidupan kantor, dan urusan percintaan yang tak pernah habis kami bahas, baik secara obrolan atau sahut-sahutan di komentar Note Facebook, yang sebagian besar isinya merupakan pindahan dari Introverto ini (“Hihihihihi, that’s why Facebook gue masih tertutup untuk banyak orang neh. Aib gue bisa kebongkar gara-gara tulisan komentar makhluk-makhluk tak bertanggung jawab di Note gue, termasuk komentar pengakuan gue sendiri seh”).

Ketawa sana-ketawa sini, mentertawakan diri sendiri, mentertawakan mereka yang kami anggap lucu dan pantas untuk ditertawakan tidak di depan orangnya.

Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, membuat saya sedih. Sedih karena harus kembali ke kehidupan nyata. Mencari sesuap nasi, dan bekal untuk beli berlian (“Heh? Berlian? Lebbbaayyy?”).

Ternyata sushi tak pernah mengecewakan saya. Termasuk untuk menaikkan mood saya yang dari tadi hilang tak tahu kemana.

Surat elektronik yang perlu dikirim, sudah berhasil terkirim dengan baik semua. Dan pekerjaan saya yang tadi saya coba kerjakan setengah mati, akhirnya berhasil saya kebut, walaupun belum tenggat waktu (“Tumben ‘Cha, ga jadi deadliner?”).

Taaapiiii sekitar pukul 17.00, dan giliran Windows Media Player yang saya aktifkan memainkan sebuah lagu, lagu yang dikirimkannya melalui YM, saat kami berdua masih sering mengobrol di sana hingga subuh menjelang. Dan aku masih ingat betul apa yang ia tuliskan di jendela saat itu.

“Dengerin deh, kata-katanya bagus banget!”

Dalam hati saya…

“Dan lagunya kamu banget. Gitaran!”

Memang dasar masokis, lagu itu malah beberapa kali saya putar, hingga setelah putaran kesekian-kalinya saya katakan pada diri saya sendiri…

“Udah, udah, cukup hobi masokis loe ‘Cha, hobi nyiksa diri sendiri. Pulang-pulang, dah waktunya pulang ke gereja!”

Dan kembali mata ini melirik ke arah jam…

“Pas, udah pukul 17.55, mari menenangkan diri, pulang.”

—-

“Damn I hate to admit it, I do miss you, as always!!!”

Tags: ,

Leave a Reply