Kondektur Kecil…

Menjelang pukul 17.00. Si Bébé berkedip-kedip, bermain mata, itulah salah satu akibat dari saya “membungkam” suaranya. Begitu saya periksa, ada berita apakah yang masuk ke dalamnya…

“Ntar pulang bareng?”

“Gak deh. Mau misa harian dulu.”

Kembali saya merelakan diri ditinggal oleh tebengan saya. Dan dengan demikian, saya harus pulang sendiri dengan kendaraan umum.

Tepat pukul 18.30, misa sudah selesai, “Andaikan, misa hari Minggu secepat ini, setengah jam selesai.”

Sepulang dari gereja, saya mampir belanja ke supermarket yang lokasinya tak jauh dari gereja, dan juga terminal untuk saya mencari kendaraan umum, yang belum saya tentukan kendaraan umum apakah yang nanti saya tumpangi.

Akhirnya saya sudah menentukan jenis kendaraannya. Kendaraan umum yang memang sudah sering saya gunakan dari dulu sejak saya masih di sekolah dasar. Apalagi kalau bukan bis kota. Kendaraan ini memang mempunyai kenangan tersendiri untuk saya. Dari kenangan bersama mama saat beliau masih mengantarkan saya ke tempat-tempat kursus yang saya ikuti dulu, sampai kenangan bagaimana saya terharu dan kasihan melihat mantan pacar, saat saya ajari naik bis. Maklum, dia selalu dijemput supir pribadi sepulang sekolah, “Ahhh, cian keringetan, kepanasan ya? Lucuuuu.”

Well, saya tak ingin bercerita tentang si mantan pacar, tapi tentang liputan hasil observasi saya selama saya di bis ini.

Namanya juga bis kota, siapa saja boleh naik, termasuk antrian para pengamen yang berlomba-lomba unjuk gigi.

Pengamen pertama, secara keseluruhan berhasil membuat saya terkesima. Mereka berduet dan satu orang bernyanyi sambil memainkan gitar. Dari intro yang dimainkan oleh si pemain gitar yang merangkap penyanyi itu, saya sudah bisa menebak, bahwa mereka tak akan membuat saya menggerutu dalam hati, karena suara sumbang yang dihasilkan baik dari kord gitar maupun vokal mereka. Ternyata benar, kord mereka tidak ada yang sumbang, dan saat mereka bernyanyi pecah suara maupun bersaut-sautan sama sekali tidak ada yang membuat saya mengernyitkan dahi sambil menatap penuh protes, sebagai respon seketika yang biasanya saya keluarkan, jika saya menemukan nada-nada sumbang saat seseorang bermusik.

Akhirnya mereka berhasil membuat saya mengeluarkan dompet dan mengambil sejumlah uang dari sana, dan memasukkan ke dalam kantong yang disodorkan pada para penumpang. Hampir saya katakan pada mereka, “Bagus suaranya!”, hehehehe sayangnya kata-kata itu saya urungkan untuk terucap.

Baru beberapa meter setelah pengamen tadi turun, ada pengamen lain yang naik. Kali ini mereka bertiga. Dua orang membawa gitar dan merangkap sebagai penyanyi, dan satu lagi memainkan pianika.

Kelompok pengamen ini juga berhasil mencuri perhatian saya, tapi tidak dengan kualitas “jualan” yang sesungguhnya mereka tawarkan. Perhatian saya tercuri kepada salah satu dari tiga orang pengamen itu. Beginilah komentar dalam hati yang saat itu secara tiba-tiba muncul, “Weeeiitttsss, kok lucu.”, hahahahaha komentar itu benar-benar secara harafiah. Dilihat dari fisiknya, pengamen yang bersuara menye-menye nan sumbang ini, memang tak seperti pengamen lainnya. Berwajah putih, mulus, tanpa keringat dan tanpa minyak di wajah yang diperindah dengan dua lesung pipit, bertopi, berkaos merah nan trendi, mata berbinar, bulu mata panjang dan lentik. Dan ia pun berhasil membuat kedua mata saya ini malas untuk berpaling.

Namun sayangnya, dari hasil pengamatan, orang yang memberikan sebagian kecil isi dompetnya, hanya berjumlah sedikit. Saya termasuk kelompok orang kebanyakan, tidak memberi mereka. Meskipun salah satu dari mereka dapat mencuri perhatian saya, bukan berarti saya harus memberi sesuatu imbalan atau reward dari hasil performa yang tidak baik ‘kan? “Maaf ya Si Lucu, teteup aja suara lu sumbang+menye-menye, walaupun gue ga menunjukkan raut wajah protes gue ke elu.”

Tadi saya bilang antrian pengamen ‘kan? Dan sampailah pada pengamen ketiga yang naik ke bis yang saya tumpangi. Kali ini, saya menyebutnya sebagai pengamen yang membuat saya terenyuh. Terenyuh dengan isi puisi tentang kondisi negara, dan harapannya akan masa depan negara ini.

Pengamen ini memang “menjual” hal yang berbeda dari “jualan” pengamen kebanyakan, yang mungkin dianggapnya sebagai “peluang bisnis” baru.

Wow, puisi yang ia bawakan, saya akui bermutu dan menggunakan bahasa tingkat tinggi. Ia banyak menggunakan bahasa implisit dan kiasan ini-itu, yang dapat memunculkan banyak persepsi bebas dari orang yang mendengarnya. Ditambah lagi dengan gaya membawakannya yang penuh penghayatan dan suara merdu nan “empuk” bak news anchor stasiun televisi terkenal.

Namun sayang, sejauh mata memandang, hanya sedikit orang yang memerhatikannya. Bahkan ada sepasang penumpang yang bercerita sampai terbahak-bahak, hampir mengalahkan suara si pengamen puisi itu. Dan sayangnya lagi…

“Duh, duit kecil gue abis lagi. Siyal. Masakh gue kasih 20 ribu. Maaf ya, gue suka puisi, dan gue suka puisi loe, gue bukannya ngga menghargai sastra seperti yang tadi elo bilang sebelum elo mulai, bahwa banyak yang tidak menghargai sastra, tapi masakh gue minta kembalian sama elo.”

Itulah hasil perbincangan saya dengan diri saya sendiri, di dalam hati. Perasaan bersalah tak bisa memberinya uang imbalan walaupun sedikit, semakin besar, ketika ia menyanyikan sebuah lagu, sambil menyodorkan kantong kecil bekas bungkus permen ke para penumpang. Lagu yang dulu sering saya nyanyikan ketika masih sering manggung dengan paduan suara yang saya ikuti, lagu yang cukup menyayat hati saya saat-saat ini, dan membuat saya berpikir “Akankah Indonesia bisa lebih baik dari sekarang, dan membuat masyarakatnya senang, bangga dapat menutup mata di sini, pada akhirnya?”

Terenyuhnya perasaan tak berhenti di sana. Kali ini perhatian saya tertuju pada kondektur bis yang saya tumpangi, yang terdiri dari dua orang, tepatnya dua orang anak, satu perempuan dan satu lagi laki-laki. Keberadaan mereka sesungguhnya baru saya sadari ketika mereka sedang melakukan tugas utama mereka, yaitu menariki ongkos para penumpang.

Di lihat dari tinggi badan, dan raut mukanya, menurut saya, kondektur yang perempuan, kira-kira berusia 11 hingga 12 tahun. Namun tidak berusia seperti itu, jika dilihat dari bentuk dada yang mendekati ukuran dada wanita dewasa secara normal. Dan saat itu yang ada di pikiran saya adalah…

“Duh, ‘dek, mudah-mudahan ngga ada yang niat jahat ngumbar napsu sama kamu ya. Jangan pulang malam-malam.”

Rasa khawatir saya itu, belum seberapa. Namanya juga bis kota di Indonesia, sangat jarang yang tertib berkendara. Slonong boys, termasuk urusan menerabas lampu merah, “Udah lampu merah diterabas, belok pula ke kanan, motong jalan sana yang lagi lampu ijo!”

Si Kondektur Bocah Perempuan ini yang jadi “tameng”, berusaha menghalau laju kendaraan dari seberang sana, yang baru saja menancap gas, karena izin berjalan dari lampu lalu lintas yang sudah berganti menjadi warna hijau baru didapati. Untung kendaraan-kendaraan lain, yang sepertinya berpikir lebih baik mengalah pada bis, mau mentaati halauan dari si “tameng” ini.

Cerita masih berlanjut, Cuy. Lain cerita tentang si kondektur satu lagi, yang anak laki-laki. Dari perawakannya, ia berusia lebih muda dari kondektur yang perempuan. Mungkin usianya sekitar 10 tahun, dan sudah dengan bangga menghisap rokok, sambil bergelantungan di pintu bis, “Miris ‘kan?” Di tengah perjalanan yang macet, saya melihatnya dihampiri oleh satu orang pria dewasa, yang menadahkan tangannya, tanda ia meminta sesuatu dari Si Kondektur Kecil. Dan omongan Si Kondektur Kecil pun terdengar sampai ke telinga saya, “Masakh elo malak gue”, bisa dipastikan bahwa mau tidak mau Kondektur Kecil memberikan uang kepada tukang palak itu.

Tidak bisa dipungkiri, mereka memang masih anak-anak. Jalan raya saja, mereka anggap sebagai lapangan bermain. Tak peduli bis lain yang hampir menghimpit tubuh mereka di antara dua badan bis, tak hiraukan selap-selip motor yang bisa dibilang lebih sering hanya Tuhan yang tahu apa yang ingin pengendara motor itu lakukan, belum lagi klakson-klakson kendaraan pribadi yang memekakan telinga, mereka berdua tetap berlari-lari ke sana kemari, mengiringi laju bis yang tersendat karena macet, sambil berteriak-teriak, bercanda dan tertawa.

Dan ternyata Si Kondektur Kecil yang perempuan ini, masih mempunyai sisi feminin, atau mungkin lebih tepat dikatakan sisi centil seorang ABG. Saat bis berhenti mengisi bensin, dan Pak Supir terpaksa turun, Si Centil (Si Kondektur perempuan) ini berlari dari belakang, ke arah bangku supir, dan berkaca dengan spion, memainkan rambutnya sambil menyanyikan sebuah lagu cinta zaman sekarang, yang saya tak tahu judulnya apa. “Percaya diri luar biasa anak ini”, pikir saya saat itu.

Bis pun tak lama kemudian melanjutkan perjalanan, dan tiba-tiba ada satu lagi kondektur yang tidak seumuran dengan mereka naik ke bis, duduk di samping Pak Supir yang sedang mengendarai bis (“Bukan kuda. Ya iya lah!”), dan mengobrol. Tak berapa lama kemudian orang itu berteriak.

“Ta, woi, Ta!”

Yang dipanggil tidak merespon. Dan menurut saya Si Kondektur Centil itulah yang dipanggil, karena kondektur yang laki-laki sedang di depan saya, jadi tak mungkin tak mendengar panggilan itu, dan juga arah mata si pemanggil menuju ke arah di belakang saya. Ia pun mengulangi panggilan itu.

“Ta, Ta.”

“Apa?”

“Besok narik loe!”

“Hah, ga denger!”

Berhubung posisi duduk saya berada di tengah antara dua orang itu, jadi saya bisa mendengar seluruh percakapan mereka dengan jelas.

Tak lama kemudian, Si Centil pun menghampiri yang memanggilnya.

“Napa?”

“Besok loe narik pagi.”

“Jam berapa?”

“Ya, pagi.”

Dan perbincangan mereka selanjutnya tak dapat saya dengar.

Tak terasa, saya sudah sampai ke tujuan, dan tibalah saya untuk turun. Si Centil sudah berada di pintu belakang lagi ketika saya berdiri, bersiap-siap untuk turun, dari pintu depan.

“Mau turun, Kak?”

Saya hanya membalasnya dengan anggukkan kepala, sambil tersenyum.

Saat bis berhenti, dan sebelum saya menginjakkan kaki di atas aspal, Si Centil itu dululah yang malahan turun dari atas bis. Tadinya saya tak mengerti apa yang sedang ia lakukan, tapi setelah saya amati, ia sedang menghentikan laju motor yang malas berhenti, dari arah sisi kiri bis. Ternyata ia kembali menjadi “tameng”, dan kali ini menjadi “tameng” khusus untuk saya.

Dan begitu injakkan kaki saya di aspal sudah sempurna, saya berteriak padanya…

“Ma kasih ya!”

Ia pun mengangguk sembari tersenyum pada saya.

Well, this is my Indonesia, dan ini baru sebagian kecil dari segudang permasalahan di negeri ini.

Dan lagi, pertanyaan itu muncul di dalam pikiran saya, “Akankah Indonesia menjadi lebih baik dari sekarang, dapat membuat masyarakatnya senang dan bangga berada di sini hingga akhir hayat?”

Video diambil dari sini, yang diunggah bukan oleh orang Indonesia. Dan inilah quote darinya: This clip is made from videos and photos taken in Indonesia when I was studying there. I’m not an Indonesian, but so in love with Indonesia, by: Vnuk2212

And do we love our Indonesia?

—-

Hyaaahhh…I hate Wednesday, hate weekly meeting on it.

Tags:

2 Responses to “Kondektur Kecil…”

  1. ragajiwa says:

    Rufina, saya copy tulisanmu ini u sebuah bab tulisan tentang para penyair jalanan. Tx ya.

  2. OchaOcha says:

    Monggo…hehehhe… :D

Leave a Reply