Inikah Ajalmu, Sayang?

Rasa itu berhasil aku buat mati, atau setidaknya berhasil aku tidurkan.

Namun tak tahu mengapa, mereka tak pernah rela melihat ketenanganku. Mengusikku dengan segala lontaran caci-maki atas seribu nyata yang kau sembunyikan dariku. Berhasil mencuatkan seribu amarahku, walau sesaat.

Bagiku mereka hanya anak kecil, tak peduli seberapa tua, atau muda usia mereka. Dan pada akhirnya, bagiku kaulah anak paling kecil di antara mereka. Belum selesai tumbuh.

Tak tahu kepada siapa aku harus mengadu, bercerita, tanpa membuat gaduh.

Seribu aliran air mata yang aku tahan setengah mati, saat aku bersimpuh di depan altar itu, menambah sesak.

Mencintamu, yang awalnya aku sangka adalah sebuah tropi, ternyata hanya seonggok sampah, bahkan yang tak laik sama sekali untuk didaur ulang.

Ucapanmu dulu yang kau akui adalah bisikan nurani, ternyata hanya penuh kebohongan dan kepalsuan yang merusak nurani.

Sayangnya, aku belum berhasil mengambil mutiara itu dari cangkangnya. Belum menemukan cara yang tepat untuk melakukannya.

Aku tahu kau orang yang selalu menikmati setiap jengkal hidupmu, setiap langkah yang kau jalani, dan setiap hal yang kau lakukan. Dan juga mungkin menikmati keberhasilanmu menyakitiku?

Mungkin ini adalah saat terbaik untuk ucapkan selamat menempuh hidup baru, di liang kubur yang telah aku gali lama. Dan sepertinya siap untuk ditutup. Dengan kau di dalamnya???

gambar diambil dari sini

Tags:

Leave a Reply