Selamat Bercinta…

Tadi sore, tak lama sebelum jam kantor usai, di tengah revisi uraian jabatan yang sedang saya kerjakan, tiba-tiba pikiran seperti ini muncul…

“Hari ini setidaknya harus menghasilkan satu tulisan.”

Dan pikiran itu pun langsung menjadi status di Yahoo Messenger saya.

Rindu, kangen dengan kegiatan saya yang satu ini. Satu hari absen, serasa satu tahun (“Ocha, kumat lebainya.“)

Anyway, absensi saya di dunia blog, tidak seratus persen, karena saya masih terus membaca kembali tulisan-tulisan saya, dan juga tulisan-tulisan yang dihasilkan para senior blogger, yang pastinya kualitas tulisan mereka jauh di atas kualitas tulisan saya. Apalagi jika membandingkan statistik kunjungan pembaca blog mereka dengan blog saya, beyond compare lah.

Salah satu blog milik senior blogger yang akhir-akhir ini sering saya kunjungi, adalah blog milik Ndoro Kakung. Kualitas tulisan beliau memang tak dipungkiri lagi, harus diacungi jempol. Dan tak heran bila blog beliau akhirnya dibukukan, dengan judul yang menurut saya juga sangat mengena, yaitu Ngeblog Dengan Hati.

Dengan hati, yang berarti dengan perasaan, dengan cinta, yang pada akhirnya akan memberikan jiwa, sehingga totalitas pada apa yang dilakukan, dikerjakan maupun dipikirkan dapat diraih?

Apa sih yang kalau dikerjakan dengan cinta, hasilnya tidak akan menghasilkan cinta kembali?

Pekerjaan yang dilakukan dengan hati dan rasa cinta, akan membuat orang lain melihat kehebatanmu di pekerjaan itu.

Buah pikir yang dihasilkan dari kesungguhan hati mengutak-atik dan mencari jawaban atas rasa penasaranmu atau rasa cinta untuk dapat membagi, akan membuat orang lain menganggapmu briliant.

Dan masih banyak contoh lain dari totalitas hasil yang dapat kita raih, dapat kita lihat dari kesungguhan hati kita untuk melakukan pekerjaan itu.

Namun satu pertanyaan yang juga terbersit atau mungkin sudah nyangsang lama di pikiran saya. Bagaimana jika kita mencintai seseorang dengan hati, cinta bahkan sering dengan pertaruhan jiwa? Apakah totalitas akan terjadi juga di sana?

“Haayyooo, para pengais aspal, atau yang ngaku sering garuk-garuk seprei gara-gara baca tulisan atau puisi gue, jawab dounks?!!? Huahahahhaah.”

Bagi saya mencintai seseorang dengan hati, sepenuh cinta dan jiwa, tentu juga akan menghasilkan totalitas.

Totalitas pertama adalah totalitas kesedihan, jika orang yang kita cintai tidak merasakan hal yang sama, atau berubah pikiran sama sekali di tengah perjalanan cinta itu. Dan tentu totalitas kedua adalah totalitas kegembiran dan pemenuhan cinta, jika orang yang kita cintai membalas cinta kita sepenuh hatinya. As simple as that.

Perjalanan saya untuk mencintai menulis dengan sepenuh hati, jiwa dan raga, awalnya sama seperti kondisi yang mungkin dapat terjadi saat kita mencintai orang lain. Bisa jadi tidak menghasilkan suatu totalitas. Namun seiring perjalanan saya terus-menerus menulis dan berusaha memperbaiki tulisan saya, baik dari segi konten, cara penulisan dan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, semua itu pelan-pelan membuahkan suatu totalitas. Meskipun belum menghasilkan sebuah buku atau suatu liputan dari sebuah majalah ternama di ibukota, setidaknya totalitas yang saya dapatkan tidak kalah membanggakan, yaitu hasil tugas akhir yang sangat di luar dugaan, dan pujian dari para penguji sidang saat itu.

Saya tidak akan berhenti menulis, tentang apapun yang saya rasakan, pikirkan, imajinasikan, mimpikan, dan juga hal-hal yang saya tangkap dengan lima panca indera, yang Puji Tuhan sampai sekarang masih dalam kondisi baik, termasuk apa yang dikatakan orang lain pada saya, siapapun mereka dalam hidup saya. Meskipun tak hanya satu atau dua kali, saya mendapatkan komentar yang saya nilai kontennya tidak laik untuk dipublikasikan, saya tetap terus akan menulis seada-adanya, sepengetahuan saya.

“Blogging n nulis udah pake hati, kalau urusan pekerjaan baru, pakai hati juga ga ‘Cha?”

“Tunggu cerita gue selanjutnya.”

So, selamat bercinta dengan hati semuanya!

Tags: , ,

Leave a Reply