Saya Rindu Kamu…

Baru beberapa hari saja saya kembali ke dunia yang saya paham betul adalah dunia yang sangat melelahkan, saya sudah merasakan segala kehilangan.

Kehilangan kesenangan pekerjaan yang tiga bulan terakhir ini saya lakoni.

Saya kembali terpaksa mengurangi durasi saya untuk menulis, dan merelakan diri tertimbun dengan tumpukan piles pekerjaan yang sepertinya sebentar lagi akan membuat kepala saya meledak.

“You know what? You give me a lot of homeworks.”

Dan perempuan yang duduk di depan saya, yang juga sedang membuka laptop, dengan senyum lebar dan gayanya yang lucu, merespon omongan saya tadi…

“I know and that’s gonna make your head to explode?”

yang akhirnya disusul dengan sedikit obrolan…

“Yupe. Actually I do love pain but this pain is too…”

“…painful, rite?”

“No doubt.”

Memang sebenarnya pilihan ada di tangan saya, apakah saya akan terus menjadi full time blogger atau menjadi part time blogger. Yang kemudian berakhir dengan keputusan saya untuk pensiun menjadi full time blogger.

Pensiun dari segala kesenangan yang terjadi karenanya. Keheningan malam yang selalu menjadi teman setia saya, komentar-komentar, curhat-an mereka yang membaca tulisan saya, kehilangan cinta menjadi pujangga amatiran yang mampu membuat miris hati orang lain, sampai kehilangan waktu untuk membaca blog-blog yang bertebaran di dunia maya.

Harus kembali bekerja, seharusnya bukan menjadi beban untuk saya, dan menjadi penghalang saya melakukan hal yang lain, termasuk menulis jurnal hidup yang biasa saya bagikan melalui blog, kepada teman-teman di dunia maya. Itu semua karena didikkan dari para mentor hidup saya, lebih dari cukup untuk menjadi bekal saya meniti jalan panjang yang benar-benar baru dan masih belum terpasang rambu apapun ini.

Hasil didikan dari salah satu mentor hidup saya, yang selalu saya ingat adalah agar hidup secara penuh dan jangan pernah segalanya dijadikan beban. Dan juga satu omongannya yang mengutip dari omongan Yoda, bahwa hanya ada lakukan atau tidak lakukan, dan tidak ada kata mencoba, cukup mampu membuat saya kembali mengangkat kepala, ketika tumpukan kemalasan dan rasa pesimis yang terbungkus dengan paranoid juga gengsi, sedang mendominasi diri yang mempunyai salah satu karakter moody ini.

Namun daya fisik, memang perlu beradaptasi dengan siklus aktivitas hidup yang berubah. Tak bisa dihindari, bahwa lelah pikiran tentu akan mengakibatkan lelah fisik membuat saya tak sabar merebahkan tubuh di atas kasur, setelah saya membersihkan diri sepulang saya beraktivitas. Dan tentu membuat saya menghindari membuka laptop saya kembali.

Saya rindu dengan tulisan-tulisan saya sendiri. Saya rindu biarkan “tarian” pikiran, rasa dan hasil tangkapan indera-indera yang saya miliki, juga khayalan saya, tertumpah di sini. Saya rindu dengan sakitnya cinta yang biasa saya tuangkan dalam puisi melankoli “kacangan” yang saya ciptakan, yang ternyata juga mampu mengiris hati beberapa orang.

Saya rindu dengan kalian…

Tags: ,

Leave a Reply