Buku Harianku Sekarang…

Hmmm…kalau dipikir-pikir betapa jauh lebih enak ya kita hidup sekarang ini. Setidaknya kalau kita membicarakan masalah kecanggihan teknologi, yang tidak dipungkiri sangat memanjakan dan mempermudah kita dalam bekerja.

Bagiku pribadi, salah satu kecanggihan teknologi yang sangat aku andalkan adalah internet. Teman setiaku hampir setiap saat, terutama saat insomnia dan gangguan “autisma” (yang hampir setiap hari) “menyerang” diriku.

Siapapun penemu internet, aku sangat-sangat memuji dan berterima kasih padamu.

Salah satu bagian internet yang juga membuatku kagum adalah kehadiran blog. Blog yang merupakan kependekan dari weblog* berarti sebuah situs yang berisikan jurnal pribadi berupa pemikiran-pemikiran, refleksi diri dan komentar dari si penulis.

Blog: a web site that contains an online personal journal with reflections, comments, and often hyperlinks provided by the writer (http://www.merriam-webster.com/dictionary/blog)

Dilihat dari definisi blog tersebut di atas, berarti blog ini sama saja dengan buku harian si penulis, yang berisi tulisan-tulisan tentang apapun yang dialami si penulis sehari-hari.

Apabila kita sedikit kembali beberapa tahun ke belakang, setidaknya sebelum blog itu muncul, tentu kamu ingat di manakah kalian menulis jurnal harianmu. Ada yang di buku harian, ada pula yang di komputer pribadi. Bentuk buku harian pun beraneka ragam, ada yang tidak berkunci ada pula yang dilengkapi dengan kunci (*Pasti inget donks ah!). Dan jika kamu menuliskannya di komputer pribadi, biasanya kamu akan meletakkannya di file khusus yang juga dilengkapi dengan kata sandi untuk membukanya.

Lalu yang kemudian menjadi pertanyaan, adakah orang lain yang kamu perbolehkan untuk membaca buku harianmu itu, baik buku harianmu dan tulisan di komputer pribadimu dilengkapi dengan kunci atau tidak? Dan apakah dulu kamu pernah ingin sekali membuka dan membaca buku harian siapapun yang kamu temukan, karena rasa penasaran ingin mengetahui rahasia pribadi orang tersebut? Dan jika kamu menemukan ada seseorang yang membaca buku harianmu, apa respon pertama kali yang kamu keluarkan? Apakah marah adalah respon yang kamu keluarkan pertama kali saat itu terjadi?

Bagiku pribadi, aku dulu tak pernah mengizinkan “hantu belang” manapun untuk membuka, apalagi membaca buku harianku. Never! Dan apabila kamu bertanya padaku apakah aku pernah ingin membuka dan membaca buku harian orang lain, jawabannya adalah tentu saja keinginan itu pernah ada, tapi aku tak pernah melakukan itu, semata-mata karena aku menghargai privasi orang tersebut.

Coba jika kamu simak dan cerna dengan baik dua hal tersebut. Dua hal antara definisi blog di internet, dan konsep awal dari buku harian, yang erat kaitannya dengan batasan ruang pribadi milik seseorang, yang sangat dijaga kerahasiaannya.

Sepertinya konsep awal buku harian sudah mulai bergeser. Buku harian atau jurnal pribadi tak lagi hanya konsumsi pribadi si penulis, melainkan menjadi konsumsi umum, bahkan mereka yang tidak mengenalmu di dunia nyata. Blog memberikan kemudahan bagi mereka yang ingin mengumbar atau lebih halusnya membagi hari-harinya, pikiran dan perasaannya, bahkan tak menutup kemungkinan untuk memaki-maki seseorang atau sesuatu hal.

Meskipun privasi blog ini juga masih bisa diatur sesuai dengan keinginan si penulis, baik dari segi teknis publikasi tulisannya atau, self editing dari si penulis tentang cerita yang ingin dibagikan kepada para pembaca. Hal ini juga aku lakukan. Dari segi teknis aku masih melakukan moderasi publikasi untuk komentar yang berdatangan. Dan dari segi pengeditan cerita, tentu tidak semua hal dalam hidupku, aku publikasikan di sini (setidaknya tidak secara eksplisit), berikut dengan nama-nama asli yang terlibat, jika memang nama-nama mereka perlu dirahasiakan (tergantung dari cerita).

Banyaknya jumlah blog yang ada di dunia maya nan indah ini, menurutku menggambarkan bahwa di luar sana masih banyak orang yang ingin berbagi, ingin bercerita, bahkan berusaha untuk menjadikan dunia ini lebih baik. Ternyata dunia ini tak seegois yang terlihat dari kulit luarnya. Atau mereka pintar memakai topeng “dua wajah” mereka?

Satu yang ingin aku sampaikan di sini, rasa kagumku tak pernah habis dengan dunia maya ini, dengan kecanggihan internet dan kehadiran blog. My big thanks for them who dicovered these two amazing things.

So happy blogging everyone. Aku tunggu cerita-cerita kalian di blog-blog milik kalian. Dan jangan lupa sering-sering mampir ke sini ya.

—-

Ternyata tidak susah ‘kan untuk berbagi?

*http://www.merriam-webster.com/dictionary/blog

Tags:

Leave a Reply