Circle of Love…

Hei…aku ingin bercerita sedikit tentang awal pertemuanku dengan salah satu sahabat terbaikku, Karin.

Untuk mereka yang mengikuti ceritaku tentang perjalanan Karin berjuang melawan penyakitnya, yang tentu tak mudah, dan belum tentu bisa dilalui oleh semua orang, pasti sudah tak asing mendengar nama perempuan ini.

Flash back dikit ya…

Kami dipertemukan di tempat kami bekerja, atau tepatnya taman bermain kami, di awal Februari 2002. Saat itu Karin anak baru di divisi kami.

Dari awal perjumpaanku dengan Karin, aku sudah bisa menerka pasti manusia ini adalah manusia yang tak pernah bisa diam, tak pernah kehabisan energi untuk tetap berlari kesana-kemari. Termasuk tak pernah kehabisan tenaga untuk ngoceh, alias cerita apapun.

Terus terang, aku tak tahu bagaimana tepatnya kejadiannya, akhirnya kami menjadi sangat dekat.

Oh ya, di samping aku dan Karin, satu orang lagi yang sering bersama kami, partner in crime kami berdua dari saat itu, hingga hari ini. Orang itu adalah Rully.

Hobi kami yang sama, yaitu ngantor di hari sabtu, dengan alasan akan lebih tenang bekerja tanpa dering telepon, dan panggilan-panggilan ajaib dari para atasan kami masing-masing; dan juga konferensi tangga darurat, yaitu menikmati satu dua batang hisapan rokok, sepertinya yang membuat kami semakin akrab. Kami; aku, Karin, dan Rully, mulai sering jalan bersama di hari sabtu, mulai sering main ke rumah kost tempat Karin tinggal. Dan aku juga Rully mulai dipernalkan ke Yudha, yang saat itu masih berstatus pacar Karin.

Kejadian-kejadian mulai dari lucu, ajaib, norak, tolol makin sering kami lakukan bersama.

Satu yang aku ingat waktu itu, saat Karin sedang melakukan road show untuk melakukan training di kantor-kantor cabang kantor kami di luar pulau Jawa, Karin masih ingat mengirimi aku, Yudha dan Rully satu tempat makan besar yang penuh dengan durian.

Ya, DUREN, makanan kesukaan kami berempat. Durian itu ia titipkan kepada EO yang pulang lebih dulu ke Jakarta.

Sementara kami menikmati durian nikmat sembari duduk di pinggir pantai Ancol, Karin masih sibuk bekerja di pelosok.

“Enak banget ‘Cut durennya. Sumpah!”

Kalau tidak salah tahun 2002 itu adalah tahun ajaib untuk kami berempat; aku, Karin, Yudha dan Rully. Namun, yang jelas aku ingat memang tahun paling tidak menyenangkan untuk aku juga Rully, saat itu kami berdua sedang menghadapi masalah keluarga masing-masing yang cukup membuat malas pulang ke rumah cepat-cepat, apalagi ditambah dengan macetnya jalanan Jakarta.

Hal itu membuat kami berempat hampir tiap hari menghabiskan waktu kongkow-kongkow di sebuah kafe kecil (yang sekarang sudah tidak ada) di bawah apartemen Aston, hanya untuk menikmati sepiring nasi goreng kampung telur ceplok setengah matang seharga Rp.10.000, dan sebotol Miller (yang biasa kami sebut dengan Tante Milla) atau Corona, yang saat itu masih dihargai belasan ribu rupiah saja.

“Sekarang elo dah gak boleh nenggak Tante Milla ya ‘Cut!”

Makin banyak waktu aku habiskan bersama Karin, Rully dan Yudha. Semakin menggilalah kami berempat.

Di akhir tahun 2002, kami berinisiatif menggadakan outing divisi tidak resmi, dan sok melupakan untuk mengundang para atasan kami (“Hmmm…tepatnya satu orang doang siy yang dilupain, hahahah.”).

Oktober tahun itu ada satu long weekend, dan kami memutuskan untuk menghabiskan libur panjang itu di Anyer. Kebetulan papaku mempunyai kartu keanggotaan di salah satu resor di Anyer, sehingga kami mendapatkan potongan harga kamar.

Tiga hari dua malam yang sangat menyenangkan. Bengong-bengong di pinggir pantai, makan, masak-masak, barbeque-an, tenis, nyanyi-nyanyi sambil main gitar, berenang.

Outing kali ini, banyak sekali “penyelundup”, karena memang bukan outing resmi. Ada yang bawa pacarnya (termasuk Karin), ada yang bawa gebetannya, ada “penyelundup” yang membawa “penyelundup” lain, yang benang merahnya sedikit jauh dari manusia-manusia “kacung kampret” bank terkenal ini.

“Eh, Cut, hahahah elu juga ga mandi selama 3 hari di sana ‘kan? Kecuali pas mau pulang? Hayo ngaku luuuu!!!”

Kegiatan jalan-jalan kami pun bertambah sering. Termasuk melarikan diri, di kala matahari masih bersinar sedikit terang (baca: sore sebelum jam kantor usai), aku, Karin, Rully, dijemput Yudha dan menuju Puncak.

Aku ingat betul, kami ke Menteng terlebih dahulu, untuk mencari sebungkus Capri (waktu itu masih murah, masih Rp.7.000), menikmati Teh Botol, baru berangkat ke Puncak. Ternyata Yudha dan Karin mempunyai tempat favorit, Telaga Warna. Kami mengobrol di sana hingga pukul 1.30 pagi. Gelap-gelapan, menghisap rokok masing-masing. Dan bercerita tentang semua keluh kesah masing-masing.

“Bagus! Gue ngantor lagi pake rok, kalian suruh duduk di atas ntah apa, waktu di pinggir tuh telaga!”

Alhasil, aku tak mungkin pulang ke rumah, aku pulang dan menginap di kost Karin. Dan belum selesai penderitaanku, dengan duduk di atas apa yang aku tak tahu, dan membuatku gatal, aku mendapat penderitaan lainnya.

Tidur satu tempat tidur dengan Karin, bukan hal yang mudah, dan bisa dihitung sebagai penderitaan berikutnya. Tolong disimak ya, bukan hal mudah. Manusia ini ternyata juga tak bisa diam saat itu. Dua kali aku tertimpa olehnya. Pertama kali wajahku yang kala itu masih mulus tanpa jerawat sedikit pun, tertimpa tangannya yang cukup berat; dan yang berikutnya, tak tahu bagaimana caranya, dengkulnya bisa sampai ke perutku.

“Woi, kampret, emang gue guling!”

Akhir tahun 2002, kami lalui bersama pula. Kami menutup tahun itu, dan membuka lembaran baru tahun 2003 bersama-sama di salah satu rumah teman satu divisi kami, di bilangan Fatmawati.

Tahun baru, bukan berarti acara senang-senang berkurang. Tante Milla semakin sering dan hal-hal tolol lainnya.

Ada dua kejadian seru di tahun itu, yang aku ingat persis.

Mei 2003. Divisi kami mengadakan outing, yang lagi-lagi di Anyer. Seperti biasa ketua perencananya Karin, dan aku sebagai pembantu umum di divisi, kebagian juga menjadi “tim sibuk”.

Ya, namanya punya otak “kriminal”, Karin mengatur agar aku, Rully dan dirinya sendiri menjadi tim advance, yang datang lebih dulu satu hari sebelum tim divisi kami lainnya, dengan alasan untuk persiapan kami outing. Kami pun membawa dua “penyelundup”, yang bukan dari kantor kami, Shanty dan Yudha.

Berbekal gitar dan beberapa botol wine, cukup membuat kami senang.

Aku ingat persis, berhubung tak satu pun dari kami yang membawa pembuka gabus tutup botol anggur, akhirnya kami memakai obeng dari peralatan darurat yang ada di mobil. Lebih tololnya lagi, gabus itu tidak berhasil kami tarik keluar, malahan nyemplung ke dalam botol dan mengapung di sana.

Bernyanyi di teras tempat bungalow kami menginap, sambil meminum anggur yang kami bawa adalah satu-satunya aktivitas kami saat itu.

Tak ingat sudah berapa gelas aku minum anggur. Namun yang aku ingat, saat aku sedang bernyanyi-nyanyi di teras itu aku sudah sangat mengantuk. Mungkin efek dari anggur yang aku minum itu. Saat itu aku ingin buang air kecil. Berjalan menuju kamar mandi pun aku sudah gontai. Sekembalinya dari sana, terakhir aku sadar, aku melewati jejeran kasur dan tiba-tiba aku sudah tak sadar lagi, hingga pagi menjelang, sudah saatnya bangun tidur. Dan saat aku buka mata aku sudah berbantal dan berselimut (“For the one who did it, thank you ya!”).

“Ye, katanya masih ada yang mau nyanyi-nyanyi, meleng dikit, lewat kasur langsung gubrag.”

“Bis gimana dounks, ngantuk bouw.”

Empat bulan kemudian September 2003, perjalananku berikutnya dengan dua kampret itu. Ke Manado dan Bunaken.

Rully & Karin: “Codot, kita berdua, nge-train di Makassar and Manado minggu depan, tolong siapin tiketnya ya.”

Dan aku pun melihat ke kalender dan berpikir: “Hmmm…mereka Senen-Rabu di Makassar, Rabu terbang ke Manado. Senen minggu depannya libur. Long weekend neh.”

Otak kriminal Ocha pun mulai bekerja, saat ia menelepon ke agen perjalan yang biasanya: “Mbak, tiket ke Manado berapa?”

“1.2 juta. Garuda.”

“1.2 juta, berarti bolak balik 2.4 lah ya. Dah semua ‘kan ya? Ada lah ya gue di tabungan duit segitu. Gue ngajuin cuti Kamis Jumat. Gue nyusul, mereka extend.”

“Eh, Mbak, 1.2 itu bolak-balik!”

“What? Bolak-balik.”

“Iya Mbak Ocha, lagi promo.”

“Okay, Mbak. Tiket atas nama Rully ama Karin, Jakarta-Makassar-Manado-Jakarta. Atas nama gue Jakarta-Manado-Jakarta. Bertiga pulang dari Manado 21 September ya, last flight.”

Dan aku berjalan menuju ke cubicle dua kampret itu, yang kebetulan letaknya hampir bersebelahan.

“Nyet, elu berdua extend ye, gue nyusul.”

Karin: “Mang tiket berape? Bukan mahal Dot?” (FYI, harga tiket Jakarta-Manado-Jakarta waktu itu biasanya hingga 3.4 juta rupiah.)

Aku: “Kagak, lagi mure, 1.2 jeti bolak-balik.”

Karin: “Gue tilpun Yudha ya, dia gue suruh nyusul juga. Ntar elu pesenin tiketnya ya.”

Aku: “Gih, tilpun.”

Dan tak berapa lama…

Karin: “Monyet, si Yudha harus meeting pulakh sabtu-sabtu, jadi dia ngga bisa nyusul.”

Aku: “Mang enak.”

Sialnya hingga hari Rabu, sehari sebelum jadwal aku berangkat, surat permohonan cutiku belum disetujui, padahal tiket sudah aku issued dan sudah di tangan. Aku pun akhirnya bicara langsung dengan si bos dan sedikit memaksa untuk menandatangani formulir permohonan cuti.

Dan Kamis, 18 September 2003, Manado I am coming, walau harus menunggu di bandara Soekarno-Hatta sendirian selama 4 jam karena penerbangan terpaksa ditunda disebabkan cuaca di Manado yang tak memungkinkan pesawat melakukan pendaratan.

Perjalanan menyenangkan, makan enak, snorkeling sampai gosong. Unforgetable memories, untuk kami bertiga.

Foto kami bertiga, setelah snorkeling selama 4 jam, di Bunaken.

Dilatarbelakangi Bastianos Cottage, Bunaken. Kami akan bertolak kembali menuju ke Manado untuk kembali ke Jakarta, keesokan hari setelah puas snorkeling.

Dan tibalah sampai ke tahun 2004.

Februari 2004, Karin dan Yudha melangsungkan pernikahan. Aku dan Rully otomatis menjadi seksi sibuk untuk penyelenggaraan pernikahan mereka, baik untuk penerimaan Sakramen Pernikahan di gereja, maupun acara resepsi. Dan untunglah seluruh acara dapat berjalan dengan sangat baik.

Tahun ini pula, tepatnya Agustus 2004, aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan melanjutkan kuliah.

Kebetulan saat itu, teman-teman divisiku yang lama (saat itu aku sudah mutasi ke divisi lain), banyak yang mendapatkan promosi kenaikan jabatan. Akhirnya perayaan promosi mereka dan perpisahanku dijadikan satu, di Pisa Cafe, Theresia.

Sepertinya biasa, setiap acara-acara seperti ini, Tequila pasti disediakan, dan biasanya dipaksakan pada setiap orang dari kami yang disana untuk menenggaknya. Termasuk Karin, aku dan Rully. Dan seingatku, Karin kebagian kena paksaan paling banyak untuk menenggak minuman itu, mungkin lebih dari 8 gelas kecil Tequila, tapi jangan salah, Karin masih bisa berjalan tegak waktu itu.

Acara ini adalah acara yang paling mengharukan, setidaknya untuk aku dan Karin.

Saat acara itu hampir selesai, aku dan Karin berdiri berseberangan di ujung meja yang dirapatkan berjejer memanjang. Kami berdua saling menatap beberapa detik, sampai akhirnya kami berdua melebarkan kedua tangan kami masing-masing, dan kami saling memeluk erat. Aku ingat betul apa yang ia katakan padaku saat itu…

“I know you can do it ‘Cha. You know that I love you so much as a sister. Kapan pun elo butuh gue, gue pasti ada untuk elo.”

“And you’ve been my inspiration for long time ago. Love you too ‘Rin. So much.”

Dan air mata kami pun tak terbendung. Tak ada gengsi, dan benar-benar melepas semua topeng, yang biasanya kami kenakan dihadapan orang.

Beruntunglah saat itu, kami bertiga tidak ada yang sedang membawa mobil. Kenapa aku bilang beruntung? Karena kami bertiga meminum air laknat itu, si Tequila.

Begitu kami sampai di depan pintu keluar Pisa Cafe, Karin mendapat telepon dari suami tercinta. Percakapan antara mereka yang aku dan Rully dengar…

“Ya udah, tenang aja, aku pulang ama Rully ama Ocha kok.”

Aku dan Rully pun langsung saling pandang…

“Hmmm, ngga enak di kita, bakal nganter satu kampret ini dulu neh.”

Setelah ia selesai bicara di telepon…

“Dasar kampret, kagak pake nanya-nanya dulu lu, ke-PDan banget kita mau nganterin.”

“Pasti mau lah.”

Aku hanya menjulurkan lidah padanya.

Akhirnya kami bertiga pulang naik taksi dengan rute Theresia-Rawamangun-Ciledug-Tanjung Duren.

“Kasian nasib lu Rul, hahahahhahah!”

Begitulah teman-teman, sekilas ceritaku tentang Karin dan lingkaran persahabatan antara aku, Karin, Rully dan Yudha.

Aku ada untuk Karin saat ia sakit, memang karena cinta yang kami sama-sama bangun semenjak kami bertemu, karena cinta yang tumbuh dari suka duka yang kami alami bersama. Itu semua juga karena Karin, bukan karena kehebatan seorang Ocha semata.

Satu prinsip yang aku, Rully, Karin dan Yudha pegang, yaitu kita saling mencintai tanpa ada syarat apapun, sekali lagi tanpa syarat apapun…

Dan di atas cinta seperti itulah persahabatan, persaudaraan kami ini didirikan…

That’s why we call it as unconditional love…

Tags: ,

2 Responses to “Circle of Love…”

  1. timothy says:

    ah jadi ini prekuelnya…
    nice story, cha…
    jadi lumayan dapet gambaran lengkapnya…hoho…

  2. Rufina Anastasia Rosarini says:

    Yoi…niy cerita awalnya gue ketemu si Karin…menggila bersama…dan gue berharap ntar2 gue masih bisa menggila bersama dengannya lagi..lagi dan lagi..

    jgn lupa tetep nitip doa buat dia ya Mo…

    thank u loo…

Leave a Reply