Tentang Karin…

Hmmm…satu minggu belakangan ini, ada beberapa temanku yang menanyakan kondisi Karin, baik yang mengenal Karin secara pribadi, maupun yang mengenal Karin dari tulisanku di blog ini.

Tujuanku menuliskan cerita tentang Karin di blogku ini, hanya satu, yaitu agar Karin semakin mendapatkan banyak dukungan doa. Itu yang terpenting untuk Karin, untuk Yudha suaminya dan tentu untuk Cyrill, putra semata wayang dari buah cinta mereka berdua, yang dalam beberapa bulan ke depan akan genap berusia 4 tahun (“Sorry bouw, gue lupa 9 Juni atau 9 Juli ya si Bang Cyrill ulang taon? Hehehehe”).

Tak banyak memang akhir-akhir ini aku menulis tentang perkembangan Karin, mungkin karena itu pulalah banyak yang menanyakan kabarnya, walaupun masih ada satu-dua tulisanku yang menceritakannya, baik menggunakan nama aseli maupun secara implisit.

Untuk sekedar menyampaikan kabar terakhir tentang Karin, aku khusus menuliskan jurnalku hari ini…

Dari tulisan-tulisanku beberapa waktu lalu, jika kamu mengikutinya, memang aku sempat mengantarkan Karin dua kali ke Singapura, yang pertama awal bulan Maret bersama Bu Siti, dan yang ke dua, awal bulan April dengan Yudha.

Hasil pemindaian dengan PEP Scan (*dapat dicari di internet dengan kata kunci PEP Scan) menunjukkan bahwa Karin masih perlu menjalani kemoterapi sekitar dua kali lagi. Hal ini hanya untuk pencegahan.

Saat itu, saat kami masih di Singapura, dokter yang merawat Karin menganjurkan agar kemoterapi langsung dijalankan sehari setelah hasil itu keluar. Yudha pun sempat bingung. Bingung karena mengawatirkan kondisi istrinya tentu. Banyak sekali pertimbangan dan perhitungan yang ia lakukan saat itu.

Bagaimana jika kemoterapi dilakukan di Singapura, yang berarti kami bertiga tentu harus memperpanjang masa tinggal di Singapura, yang tak hanya satu atau dua hari, mengingat kemoterapi akan dilakukan beberapa seri, dan tak mungkin Karin dibawa pulang pergi Jakarta-Singapura seperti beberapa bulan lalu. Tentu karena tak ingin mempertaruhkan kesehatan Karin, karena kelelahan pulang pergi Jakarta-Singapura.

Apabila dilakukan di Jakarta, mereka masih mengawatirkan tentang prosedur yang tidak akan sama dengan apa yang sudah dilakukan terhadap Karin selama ia menjalani perawatan di Singapura. Dan setelah melakukan kontak dengan salah satu rumah sakit ternama dan besar di Jakarta, malahan rumah sakit itu tidak memberikan respon positif terhadap permintaan Yudha. Bukan tidak ada respon tepatnya, tapi mencla-mencle, menye-menye antara berani melakukan tindakan tersebut, sesuai dengan prosedur yang telah dilakukan di Singapura atau tidak.

Akhirnya kami pulang ke Indonesia, pada hari yang telah dijadwalkan.

Keesokan harinya adalah perayaan tri hari suci, umat Katholik. Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah, yang menyibukkanku dengan kegiatan ke gereja, dan menyebabkan aku tak sempat menghubungi Yudha. Kecuali saat Malam Paskah, aku menyempatkan diri untuk mengiriminya pesan singkat untuk mengucapkan selamat paskah, namun tak ada jawaban.

Beberapa hari kemudian, Yudha yang meneleponku, dan dia memberikan kabar terbaru tentang Karin.

Ternyata Karin saat itu hingga kini, berada di Medan, di rumahnya, bersama Tante Titung, Kak Maya (Kakak ipar Karin), Bang Nino dan keluarganya yang lain. Alasannya mengapa Karin dibawa ke Medan, karena rencana pengobatan selanjutnya akan dilakukan di Penang, Malaysia, di rumah sakit yang masih satu grup dengan Mount Elizabeth di Singapura, tapi dengan biaya yang lebih murah. Termasuk urusan fiskal untuk suster yang merawat Karin. Namun alasan terpenting adalah jarak antara Medan dan Penang tidak jauh, hanya memakan waktu penerbangan sekitar 30 menit, sehingga tidak akan membuat Karin lelah dan beresiko memperburuk kesehatannya yang saat ini semakin hari semakin membaik.

Sepertinya saat ini, seri kemoterapi yang harus dijalani Karin sudah hampir selesai.

Senang rasanya waktu Yudha mengatakan bahwa sekarang Karin tak perlu dibantu banyak untuk berdiri dan berjalan. Ia sudah bisa berjalan tanpa harus dipegangi oleh orang lain.

Selain itu, nada bicara Karin juga sudah lebih ekspresif, walaupun aku sendiri belum sempat meneleponnya semenjak kami pulang dari Singapura. Namun aku sangat berharap ekspresinya dalam mengungkapkan semua rasa, akan jauh lebih ekspresif jika dibandingkan dengan saat aku menemaninya ke Singapura yang pertama kali.

Begitulah teman-teman kondisi perkembangannya Karin.

Sekali lagi, aku pribadi, juga atas nama Yudha, Karin, Bang Cyrill dan keluarga besar mereka, mengucapkan terima kasih banyak untuk semua yang telah memberikan perhatian atas perkembangan kesehatannya Karin, terutama untuk doa yang dipanjatkan untuknya. Berkat doa kalian, dari hari ke hari Karin menunjukkan perkembangan kesehatan yang bagus.

Dan melalui tulisanku ini, aku juga masih meminta doa kalian untuknya. Akan lebih senang jika kondisi Karin bisa seperti semula. AMIEN.

—-

We all love you ‘Rin!

Tags:

Leave a Reply