Dengan Segala Kejujuranku…

Jujur saat dua mata ini melihatmu 7 tahun lalu, saat seorang teman mengenalkanku padamu, saat deru ombak dan desau angin laut menerpa, aku telah jatuh kagum padamu.

Jujur, kamu memang tak membawa apa-apa saat itu. Mungkin hanya senyum yang bisa meluluhlantakkan aku, dan membuat hati ini bicara, aku ingin mendekat padamu, tapi tak ada dayaku sama sekali untuk lakukan itu, saat itu.

Dengan sejujurnya aku katakan padamu bahwa aku bingung setengah mati, saat kau mengajakku bertemu setelah obrolan kita di Yahoo Messanger yang kamu lakukan saat siangmu sedikit lengang.

Jujur aku tak tahu mengapa aku menyetujui ajakan perjumpaan itu, dan setengah mati aku benci bertemu denganmu lagi, setelah bertahun-tahun aku kehilanganmu. Dan kembali aku seketika luluh lantak saat melihatmu. Tatap matamu tak mampu aku pandang dengan keduamataku, karena jujur aku takut kembali mengagumimu. Ternyata, memang aku jatuh kagum lagi padamu, bahkan lebih dari dulu.

Ajakan-ajakan itu pun terus kamu lontarkan ke aku. Dan tak tahu mengapa, terus aku setujui. Hampir selalu. Jujur susah banget aku tolak, secara kamu pun kalo lagi ada maunya tetep keukeuh harus terlaksana, dan lagi-lagi kata-kata indahmu di sms yang kamu kirim, membuatku berbunga-bunga.

Dan jujur, rasa itu pun akhirnya bertambah dahsyat, saat permintaan dalam hatiku yang tak aku ucapkan, untuk kamu mencium kepalaku saat kamu lewat belakangku, saat aku duduk di kursi itu, ternyata sampai juga ke kamu, dan kamu lakukan.

Tak berhenti sampai sana, kamu membuatku berbunga. Saat akhirnya aku beranikan diri menempelkan kepalaku ke pundakmu, sambil memegang lengan tanganmu. Jujur, sudah lama aku tak merasakan nyamannya berada di dekat seseorang. Dan aku benci mengapa rasa itu ada saat aku denganmu. Mengapa harus kamu?

Aku benci, aku harus jujur mengatakan ini padamu, bahwa aku sulit untuk tak mementahkan logika, saat ia mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta pada orang yang salah, saat ia mengatakan bahwa aku tak boleh bersamamu, dengan alasan apapun. Namun jujur, aku lebih memilih untuk memenangkan hati dan membuang logikaku jauh-jauh. Dan menyambut tanganmu untuk menggandengku berjalan di terik dan tandusnya jalanan di hadapan kita. Yang hanya berbekal segelas mimpi yang tak tahu kapan akan habis.

Jujur, aku menyesal mengapa tak jatuh cinta padamu sejak awal.

Dari aku,

Yang mengatakan ini dengan segala jujurku.

Tags:

Leave a Reply